<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785</id><updated>2009-11-06T23:24:11.258-08:00</updated><title type='text'>Cinta ISLAM</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-3436857097132862513</id><published>2009-04-08T05:28:00.000-07:00</published><updated>2009-04-08T05:29:10.605-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='video'/><title type='text'>Simon Peres Mengunjungi Masjid Ahmadiyah Di Israel</title><content type='html'>&lt;object width="425" height="350"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/MKC-m6pq4Uo"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/MKC-m6pq4Uo" type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ultimatemyspace.com"&gt;myspace layouts&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-3436857097132862513?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/3436857097132862513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=3436857097132862513' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/3436857097132862513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/3436857097132862513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2009/04/simon-peres-mengunjungi-masjid.html' title='Simon Peres Mengunjungi Masjid Ahmadiyah Di Israel'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-605373903428495473</id><published>2009-04-06T05:54:00.000-07:00</published><updated>2009-04-06T05:55:52.831-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Kehebatan Sedeqah .. berseqah lah</title><content type='html'>Sebuah kisah tentang sedekah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jum’at lalu, saya berangkat ke kantor dengan dada sedikit berdegub. Melirik ukuran bensin di dashboard motor, masih setengah. “Yah cukuplah untuk pergi pulang ke kantor”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bukan itu yang membuat dada ini tak henti berdegub. Uang di kantong saya hanya tersisa seribu rupiah saja. Degubnya tambah kencang karena saya hanya menyisakan uang tidak lebih dari empat ribu rupiah saja di rumah. Saya bertanya dalam hati, “makan apa keluarga saya siang nanti?” Meski kemudian buru-buru saya hapus pertanyaan itu, mengingat nama besar Allah yang Maha Melindungi semua makhluk-Nya yang tawakal.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya berangkat, terlebih dulu mengantar si sulung ke sekolahnya. Saya bilang kepadanya bahwa hari ini tidak usah jajan terlebih dulu. Alhamdulillah ia mengerti. Soal pulangnya, ia biasa dijemput tukang ojeg yang –sukurnya-  sudah dibayar di muka untuk antar jemput ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan menuju kantor saya terus berpikir, dari mana saya bisa mendapatkan uang untuk menjamin malam nanti ada yang bisa dimakan oleh isteri dan dua putri saya. Urusan besok tinggal bagaimana besok saja, yang penting sore ini bisa mendapatkan sesuatu untuk bisa dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di kantor, tiba-tiba saya mendapatkan sebungkus mie goreng dari seorang rekan kantor yang sedang milad (berulang tahun). Perut saya yang sejak pagi belum terisi pun mendesak-desak untuk segera diisi. Namun saya ingat bahwa saya tidak memiliki uang selain yang seribu rupiah itu untuk makan siang. Jadi, saya tangguhkan dulu mie goreng itu untuk makan siang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hari kerja, terhitung dua kali saya menelepon isteri di rumah menanyakan kabar anak-anak. “sudah makan belum?” si cantik di seberang telepon hanya menjawab, “Insya Allah,” namun suaranya terasa getir. Saat itu, anak-anak sedang tidur siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul lima sore lebih dua puluh menit saya bergegas ke rumah. Sebelumnya saya sudah berniat untuk menginfakkan seribu rupiah di kantong saya jika melewati petugas amal masjid yang biasa ditemui di jalan raya. Sayangnya, sepanjang jalan saya tidak menemukan petugas-petugas itu, mungkin karena sudah terlalu sore. Akhirnya, sekitar separuh perjalanan ke rumah, adzan maghrib berkumandang. Motor pun terparkir di halaman masjid, dan seketika mata ini tertuju kepada kotak amal di pojok masjid. “bismillaah…” saya masukkan dua koin lima ratus rupiah ke kotak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai sholat, setelah berdoa saya meneruskan perjalanan. Tapi sebelumnya, tangan saya menyentuh sesuatu di kantong celana. Rupanya satu koin lima ratus rupiah. Kemudian saya ceploskan lagi ke kotak amal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, isteri sedang memasak mie instan. Semangkuk mie instan sudah tersaji, “kita makan sama-sama yuk…” ajak si manis. Kemudian saya bilang, “abang sudah kenyang, biar anak-anak saja yang makan”. Anak-anak pun lahap menyantap mie instan plus nasi yang dihidangkan ibu mereka. Rasanya ingin menangis saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya, isteri menggoreng singkong untuk sarapan. Alhamdulillah masih ada yang bisa dimakan. Sebenarnya hari itu masih punya harapan. Seorang teman isteri beberapa hari lalu meminjam sejumlah uang dan berjanji mengembalikannya Sabtu pagi. Namun yang ditunggu tidak muncul. Bahkan ketika terpaksa saya harus mengantar isteri menemui temannya itu, pun tidak membuahkan hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba telepon saya berdering, “Pak, saya baru saja mentransfer uang satu juta rupiah ke rekening bapak. Yang empat ratus ribu untuk pesanan 20 buku bapak yang terbaru. Sisanya rezeki untuk anak-anak bapak ya…” seorang sahabat dekat memesan buku karya saya yang terbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, Allahu Akbar! Saya langsung bersujud seketika itu. Saya hanya berinfak seribu lima ratus rupiah dan Allah membalasnya dengan jumlah yang tidak sedikit. Ini matematika Allah, siapa yang tak percaya janji Allah? Yang terpenting, siang itu juga saya buru-buru mengeluarkan sejumlah uang dari yang saya peroleh hari itu untuk diinfakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur tidak memiliki banyak uang maupun tabungan untuk saya genggam. Sebab semakin banyak yang saya miliki tentu semakin berat pertanggungjawaban saya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber :http://gawtama.multiply.com/journal/item/262&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-605373903428495473?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/605373903428495473/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=605373903428495473' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/605373903428495473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/605373903428495473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2009/04/kehebatan-sedeqah-berseqah-lah.html' title='Kehebatan Sedeqah .. berseqah lah'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-6995851611217194453</id><published>2008-07-30T20:50:00.000-07:00</published><updated>2008-07-30T20:52:36.884-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah sahabat'/><title type='text'>Abdullah Ibnu Rawahah - Penyair, Penulis dan Pejuang</title><content type='html'>Wahai Diri ……..&lt;br /&gt;Jika Kau Tidak Gugur di Medan Juang ……..&lt;br /&gt;Kau Tetap Akan Mati ……..&lt;br /&gt;Walau di Atas Ranjang ..……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu Rasulullah saw. sedang duduk di suatu tempat dataran tinggi kota Mekah, menghadapi para utusan yang datang dari kota Madinah,  dengan  bersembunyi-sembunyi  dari kaum Quraisy. Mereka yang datang ini terdiri dari duabelas orang utusan suku atau kelompok  yang  kemudian  dikenal dengan nama Kaum Anshar.(penolong Rasul). &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Mereka sedang dibai’at Rasul (diambil Janji sumpah setia) yang terkenal pula dengan nama Bai’ah Al-Aqabah al-Ula (Aqabah pertama). Merekalah pembawa dan penyi’ar IsIam pertama ke kota Madinah, dan bai’at  merekalah yang membuka jalan bagi hijrah Nabi beserta pengikut beliau, yang pada gilirannya kemudian, membawa kemajuan pesat bagi Agama Allah yaitu Islam ….Maka salah seorang dari utusan yang dibai’at Nabi itu, adalah Abdullah bin Rawahah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sewaktu pada tahun berikutnya, Rasulullah saw. membai’at. lagi tujuhpuluh tiga orang Anshar dari penduduk Madinah pada bai’at ‘Aqabah kedua, maka tokoh Ibnu Rawahah ini pun termasuk salah seorang utusan yang dibai’at itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sesudah Rasullullah bersama shahabatnya hijrah ke Madinah dan menetap di sana, maka Abdullah bin Rawahah pulalah yang paling banyak usaha dan kegiatannya dalam membela Agama dan mengukuhkan sendi-sendinya. Ialah yang paling waspada mengawasi sepak terjang dan tipu muslihat Abdulla bin Ubay (pemimpin golongan munafik) yang oleh penduduk Madinah telah dipersiapkan untuk diangkat menjadi raja sebelum Islam hijrah ke sana, dan yang tak putus-putusnya berusaha menjatuhkan Islam dengan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada. Berkat kesiagaan Abdullah bin Rawahah yang terus-menerus mengikuti gerak-gerik Abdullah bin Ubay dengan cermat, maka gagalah usahanya, dan maksud-maksud jahatnya terhadap Islam dapat di patahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rawahah adalah seorang penulis yang tinggal di suatu lingkungan yang langka degan kepandaian tulisi baca. Ia juga seorang penyair yang lancar, untaian syair-syairnya meluncur dari lidahnya dengan kuat dan indah didengar ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak ia memeluk Islam, dibaktikannya kemampuannya bersyair itu untuk mengabdi  bagi kejayaan Islam …..Dan Rasullullah menyukai dan menikmati syair-syairnya dan sering beliau minta untuk lebih tekun lagi membuat syair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, beliau duduk bersama para sahabatnya, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah, lalu Nabi bertanya kepadanya: "Apa yang anda lakukan jika anda hendak mengucapkan syair?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Abdullah: "Kurenungkan dulu, kemudian baru kuucapkan". Lalu teruslah ia mengucapkan syairnya tanpa bertangguh, demikian kira-kira artinya secara bebas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai putera Hasyim yang baik, sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia.dan memberimu keutamaan, di mana orang tak usah iri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh aku menaruh firasat baik yang kuyakini terhadap dirimu. Suatu firasat yang berbeda dengan pandangan hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya anda bertanya dan meminta pertolongan mereka dan memecahkan persoalan tiadalah mereka henhak menjawab atau membela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang anda,bawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Ia telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu Rasul menjadi gembira dan ridla kepadanya, lalu sabdanya: "Dan engkau pun akan diteguhkan Allah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sewaktu Rasulullah sedang thawaf di Baitullah pada ‘umrah qadla, Ibnu Rawahah berada di muka beliau sambil  membaca syair dari rajaznya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh Tuhan, kalauIah tidak karena Engkau, niscaya tidaklah ami akan mendapat petunjuk,   tidak   akan   bersedeqah dan Shalat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mohon diturunkan sakinah atas kami dan diteguhkan pendirian kami jika musuh datang menghadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;,Sesuhgguhnya Qrang-orang yang telah aniaya terhadap kami, biIa mereka membuat fitnah akan kami tolak dan kami tentang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Islam pun sering mengulang-ulangi syair-syairnya yang indah.&lt;br /&gt;Penyair Rawahah yang produktif ini amat berduka sewaktu turun ayat al-Quranul Karim yang artinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan para penyair, banyak pengikut mereka orang-orang sesat".  (Q.S. Asy-syu’ara: 224)&lt;br /&gt;Tetapi kedukaan hatinya jadi terlipur waktu turun pula ayat lainnya : Artinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kecuali orang-orang(penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak ingat kepada Allah, dan menuntut bela sesudah mereka dianiaya". (Q.S. Asy-syu’ara : 227)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sewaktu Islam terpaksa terjun ke medan perang karena membela diri, tampillah Abdullah ibnu Rawahah membawa pedangnya ke medan tempur Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiah dan Khaibar, seraya menjadikan kalimat-kalimat syairnya dan qashidahnya menjadi slogan perjuangan:&lt;br /&gt;"Wahai diri! Seandainya engkau tidak tewas terbunuh, tetapi engkau pasti akan mati juga!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga menyorakkan teriakan perang:&lt;br /&gt;"Menyingkir kamu, hai anak-anak kafir dari jalannya. Menyingkir kamu setiap kebaikkan akan ditemui pada Rasulnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan datanglah waktunya perang Muktah ….Abdullah bin Rawahah adalah panglima yang ketiga dalam pasukan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rawahah berdiri dalam keadaan siap bersama pasukkan Islam yang berangkat meninggalkan kota Madinah …ia tegak sejenak lalu berkata, mengucapkan syairnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Yang kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman&lt;br /&gt;Keampunan dan kemenangan di medan perang&lt;br /&gt;Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan&lt;br /&gt;Bertekuk lututnya angkatan perang syetan&lt;br /&gt;Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan ….. Mati syahid di medan perang…!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, itulah cita-citanya kemenangan dan hilang terbilang …., pukulan pedang atau tusukan tombak, yang akan membawanya ke alam syuhada yang berbahagia…!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balatentara Islam maju bergerak kemedan perang muktah. Sewaktu orang-orang Islam dari kejauhan telah dapat melihat musuh-musuh mereka, mereka memperkirakan besarnya balatentara Romawi sekitar duaratus ribu orang …, karena menurut kenyataan barisan tentara mereka seakan tak ada ujung alhir dan seolah-olah tidak terbilang banyaknya ….!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Islam melihat jumlahmereka yang sedikit, lalu terdiam …dan sebagian ada yang menyeletuk berkata:&lt;br /&gt;"Baiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah, memberitakan jurnlah musuh yang besar. Mungkin kita dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika diperintahkan tetap maju maka kita patuhi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi.Ibnu Rawahah,.bagaikan datangnya siang bangun berdiri di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berucap:&lt;br /&gt;"Kawan:kawan sekalian! Demi Ailah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah Kita tidak memerangi memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan  Agama  kita ini, yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah … !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayohlah kita maju ….! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenagan atau syahid di jalan Allah … !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bersorak-sorai Kaum Muslimin yang sedikit bilangannya tetapi  besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka berteriak:  "Sungguh, demi  Allah,  benar  yang dibilang Ibnu Rawahah.. !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah,  pasukan  terus ke tujuannya,  dengan  bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000 yang berhasil dihimpun orang Romawi untuk menghadapi suatu peperangan dahsyat yang belum ada taranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pasukan, balatentara itu pun bertemu, lalu berkecamuklah pertempuran di antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin yang pertama Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid yang mulia, disusul oleh pemimpin yang kedua Ja’far bin Abi Thalib, hingga ia memperoleh syahidnya pula dengan penuh kesabaran, dan menyusl pula sesudah itu pemimpin yang ketiga ini, Abdullah bin Rawahah. Dikala itu ia memungut panji perang dari tangan kananya Ja’far, sementara peperangan sudah mencapai puncaknya. Hampir-hampirlah pasukan Islam yang kecil itu, tersapu musnah diantara pasukan-pasukan Romawi yang datang membajir laksana air bah, yang berhasil dihimpun oleh Heraklius untuk maksud ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, ibnu Rawahah ini menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan perduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan yang akan dimintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, demi terlihat kehebatan tentara romawi seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkitkan seluruh semangat dan kekutannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari  dirinya, sambil berseru:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga&lt;br /&gt;Tapi kenapa kulihat engkau menolak syurga …..&lt;br /&gt;Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati&lt;br /&gt;Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti …….&lt;br /&gt;Tibalah waktunya apa yng engkau idam-idamkan selama ini&lt;br /&gt;Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati ….!"&lt;br /&gt;(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu berbuat seperti keduanya, itulah ksatria sejati…..!" Ia pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan tabahnya …… Kalau tidaklah taqdir Allah yang menentukan, bahwa hari itu adalah saat janjinya akan ke syurga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan pedangnya, hingga dapat menewaskan sejumlah besar dari mereka …. Tetapi waktu keberangkatan sudah tiba, yang memberitahukan awal perjalananya pulang ke hadirat Allah, maka naiklah ia sebagai syahid…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah puncak idamannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hingga dikatakan, yaitu bila mereka meliwati mayatku:&lt;br /&gt;Wahai prajurit perang yang dipimpin Allah, dan benar ia telah terpimpin!"&lt;br /&gt;"Benar engkau, ya Ibnu Rawahah….! Anda adalah seorang prajurit yang telah dipimpin oleh Allah…..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa’  di Syam, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sedang duduk beserta para shahabat di Madinah sambil mempercakapkan mereka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang tenteram, Nabi ter;liam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatu disebabkan rasa duka dan belas kasihan … ! Seraya memandang berkeliling ke  wajah  para shahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata: "Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid ….. Kemudian diambil alih oleh Ja’far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula ….". Be!iau berdiam sebentar, lain diteruskannya ucapannya: "Kemudian panji itu dipegang oleh Abdulah bin Rawahah dan ia bertempur  bersama panji itu, sampai akhirnya ia·pun syahid pula".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula : "Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke syurga …"&lt;br /&gt;Perjalanan manalagi yang lebih mulia …….&lt;br /&gt;Kesepakatan mana lagi yang lebih berbahagia …….&lt;br /&gt;Mereka maju ke medan laga bersama-sama …….&lt;br /&gt;Dan mereka naik ke syurga bersama-sama pula ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan penghormatan terbaik yang diberikan untuk mengenangkan jasa mereka yang abadi, ialah ucapan Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam yang berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka telah diangkatkan ke tempatku ke syurga……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://islam.blogsome.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-6995851611217194453?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/6995851611217194453/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=6995851611217194453' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/6995851611217194453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/6995851611217194453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2008/07/abdullah-ibnu-rawahah-penyair-penulis.html' title='Abdullah Ibnu Rawahah - Penyair, Penulis dan Pejuang'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-2071619168695880106</id><published>2008-05-21T01:24:00.000-07:00</published><updated>2008-05-21T01:26:54.669-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ahmadiyah'/><title type='text'>AHMADIYAH MENJAWAB</title><content type='html'>Oleh: M.B. Shamsir Ali, SH, SHD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah lebih sebulan ini harian Republika sering kali memuat artikel tentang Jemaat Ahmadiyah dan Pendirinya dalam berbagai judul. Sejauh yang kami ketahui, sangat sedikit sekali, bahkan boleh dikatakan tidak ada, upaya Republika untuk mengkonfrontir isi artikel itu kepada pihak Jemaat Ahmadiyah Indonesia, padahal hal itu sangat penting agar pembaca Republika memperoleh informasi yang benar, akurat dan berimbang. Sekedar contoh kelemahan akibat tidak dilaksanakannya amanat etika jurnalistik itu terjadi pada  wawancara Rachmat Santosa Basarah dengan Ahmad Hariadi yang dimuat Republika tanggal 14 Mei 2008 yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wawancara itu, Ahmad Hariadi ditanya : Siapa pemimpin Ahmadiyah sedunia sekarang?&lt;br /&gt;Hariadi menjawab: Mirza Ghulam Ahmad, lahir pada 1835 dan meninggal pada 1908. Dia mendirikan Ahmadiyah tahun 1889. Setelah meninggal, dia diganti oleh khalifah Ahmadiyah pertama. Kemudian, bertutur-turut diganti oleh khalifah kedua, ketiga, dan keempat. Khalifah keempat ini adalah cucunya Mirza Ghulam Ahmad, namanya, Tahir Ahmad. (Tugas saya menyadarkan Jemaat Ahmadiyah, Republika, 14 Mei 2008, http://www.republika .co.id/koran_ detail.asp? id=333920&amp;kat_id=505)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang yang meneliti secara langsung pasti tahu bahwa Hadhrat Mirza Tahir Ahmad sudah wafat beberapa tahun yang lalu. Sekarang, Jemaat Ahmadiyah telah dipimpin oleh Khalifahnya yang kelima, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad. Kekeliruan seperti ini sungguh sangat keterlaluan, sebab ini merupakan fakta yang terbuka dan jelas, setiap saat siapa saja dapat mengakses situs resmi Jemaat Ahmadiyah www.alIslam. org; www.mta.tv; atau situs-situs resmi Ahmadiyah di berbagai Negara di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dalam Republika 16 April 2008 (‘Wahyu Cinta’ Mirza Ghulam) tertulis, “Ada 88 kitab – termasuk – Tadzkirah – yang dikarang MGA …” Padahal Tadzkirah bukan dikarang oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila hal-hal ‘sederhana’ semacam itu terjadi kekeliruan maka dapat dipastikan terjadi kekeliruan dalam tulisan-tulisan Republika lainnya yang berkaitan dengan Jemaat Ahmadiyah dan pendirinya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang kebanyakannya dikutip dari pihak-pihak yang berseberangan dengan Jemaat Ahmadiyah atau mantan penganut aliran Ahmadiyah seperti Hasan Aodah maupun Ahmad Hariadi yang dikeluarkan dari aliran Ahmadiyah. – bukan keluar melainkan dikeluarkan dari Ahmadiyah. Republika hanya bertumpu kepada Hasan Bin Mahmud Aodah tentang asumsi bahwa MGA adalah pelayan imperialis Inggris. Sepatutnya Republika menghubungi pihak pemerintah Inggris ataupun India untuk memastikan kebenaran klaim Aodah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat tidak mungkin semuanya dapat dikemukakan maka sebagai pemenuhan atas hak jawab. Berikut ini kami sampaikan pernyataan Pendiri Jemaat Ahmadiyah tentang keIslaman beliau dan kecintaan beliau kepada agama Islam dan Rasulullah Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemaat Ahmadiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmadiyah adalah sebuah Jamaah Islam yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1889 Masehi/ 1306 Hijriah, di Qadian India. Dan beliau mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan al Masih yang dijanjikan kedatangannya oleh Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemaat Ahmadiyah bukan sebuah agama baru. Jemaat Ahmadiyah bekerja untuk menghidupkan Agama Islam dan menegakkan syari’at Islam. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis, “Wahai kalian yang bermukim di muka bumi dan wahai jiwa semua yang ada di barat atau di timur, aku maklumkan secara tegas bahwa kebenaran hakiki di dunia ini hanyalah Islam, Tuhan yang benar adalah Allah sebagaimana yang terdapat di dalam Al Qur’an, sedangkan Rasul yang memiliki hidup keruhanian yang abadi dan sekarang bertahta diatas singgasana keagungan dan kesucian adalah wujud terpilih Muhammad SAW. ( Rukhani Khazain, vol. 15, hal. 141); Dibawah kolong langit ini hanya ada satu Rasul dan satu Kitab. Rasul itu adalah Hadhrat Muhammad SAW yang lebih luhur dan agung serta paling sempurna dibanding semua Rasul . . . Kitab tersebut adalah Al Quran yang merangkum bimbingan yang benar dan sempurna.” (Rukhani Khazain, vol. 1 hal. 557&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemaat Ahmadiyah berpegang teguh kepada Kitab Suci Al Quranul  Karim. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis, “Keselamatan dan kebahagiaan abadi manusia adalah karena bisa bertemu dengan Tuhan-nya dan hal ini tidak akan mungkin dicapai tanpa mengikuti Kitab Suci Al Qur’an.” (Rukhani Khazain vol. 10 hal. 442); “Apa yang termaktub di dalam Al Qur’an merupakan wahyu utama dan mengatasi serta berada diatas semua wahyu-wahyu lainnya.” (Majmua Isytiharat, vol. 2 hal. 84); “Kitab Suci Al Qur’an merupakan sebuah mukjizat yang kapanpun tidak ada dan tidak akan pernah ada tandingannya.” (Malfuzhat, vol. III, hal. 57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan dua kalimah Syahadat, beliau menulis, ““Inti dari kepercayaan saya adalah: Laa Ilaaha Illallahu, Muhammadur-Rasulull ahu (Taka ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah). Kepercayaan kami yang menjadi pergantungan dalam hidup ini, dan yang padanya kami, dengan rahmat dan karunia Allah, berpegang sampai saat terakhir dari hayat kami di bumi ini ialah: Sayyidina Maulana Muhammad SAW adalah Khataman Nabiyyin dan Khairul Mursalin, yang termulia dari antara nabi-nabi. Ditangan beliau hukum syari’at telah disempurnakan. Karunia yang sempurna ini pada waktu sekarang adalah satu-satunya penuntun ke jalan yang lurus dan satu-satunya sarana untuk mencapai ‘kesatuan’ dengan Tuhan Yang Mahakuasa.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Izalah Auham, 1891: 137)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemaat Ahmadiyah berkeyakinan bahwa nabi Muhammad saw adalah khataman nabiyyin. Pendiri Jemaat Ahamdiyah menulis, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuduhan yang dilontarkan terhadap diri saya dan terhadap Jamaah saya bahwa kami tidak mempercayai Rasulullah Muhammad SAW sebagai Khataman Nabiyyin merupakan kedustaan besar yang dilontarkan kepada kami. Kami meyakini Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai Khatamul Anbiya dengan begitu kuat, yakin, penuh makrifat dan bashirat, yakni  seperseratus ribu dari yang itupun tidak dilakukan oleh orang-orang lain. Dan memang tidak demikian kemampuan mereka. Mereka tidak memahami hakikat dan rahasia yang terkandung di dalam Khatamun Nubuwat Sang Khatamul Anbiya. Mereka hanya mendengar sebuah kata dari tetua mereka, tetapi tidak tahu menahu tentang hakikatnya. Dan mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan Khatamun Nubuwat – yakni apa makna mengimaninya. Namun kami, dengan penuh bashirat (Allah Taala yang lebih tahu) meyakini Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai Khatamul Anbiya. Dan Allah Taala telah membukakan pintu hakikat Khatamun Nubuwwat kepada kami sedemikian rupa, yakni dari serbat irfan yang telah diminumkan kepada kami itu kami mendapat suatu kelezatan khusus yang tidak dapat diukur oleh siapapun kecuali oleh orang-orang yang memang telah kenyang minum dari mata air ini juga.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Malfuzhat, jld. I, halaman 342)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan sungguh-sungguh saya percaya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Khatamul Anbiya. Seorang yang tidak percaya pada Khatamun Nubuwwah beliau (Rasulullah SAW), adalah orang yang tidak beriman dan berada diluar lingkungan Islam.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Taqrir Wajibul I’lan, 1891)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Martabat luhur yang diduduki junjungan dan penghulu kami, yang terutama dari semua manusia, nabi yang paling besar, Hadhrat Khatamun Nabiyyin SAW telah berakhir dalam diri beliau yang di dalamnya terhimpun segala kesempurnaan dan yang sebaliknya tak dapat dicapai manusia.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Taudhih Maram, 1891 hal. 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang dikehendaki Allah supaya kita percaya hanyalah ini, bahwa Dia adalah Esa dan Muhammad SAW adalah Nabi-Nya, dan bahwa beliau adalah Khatamul Anbiya dan lebih tinggi dari semua makhluk.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Kisti Nuh, tahun 1902, halaman 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk sampai kepada-Nya semua pintu telah tertutup, kecuali sebuah pintu yang dibukakan oleh Qur’an Majid dan semua kenabian dan semua kitab-kitab yang terdahulu tidak perlu lagi diikuti, sebab kenabian Muhammadiyah, mengandung dan meliputi kesemuanya itu. Selain ini semua jalan tertutup. Semua jalan yang membawa kepada Tuhan terdapat di dalamnya. Sesudahnya tidak akan datang kebenaran baru, dan tidak pula sebelumnya ada suatu kebenaran yang tidak terdapat di dalamnya. Sebab itu, diatas kenabian ini habislah semua kenabian. Memang sudah sepantasnya demikian sebab sesuatu yang ada permulaannya, tentu ada pula kesudahannya.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, AL Wasiyat, JAI 2006, hal. 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah Nabi Muhammad SAW, tidak boleh lagi mengenakan istilah Nabi kepada seseorang, kecuali bila ia lebih dahulu menajdi seorang ummati dan pengikut dari Nabi Muhammad SAW.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Tajalliyati Ilahiyah, 1906, hal. 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua pintu kenabian telah tertutup kecuali pintu penyerahan seluruhnya kepada Nabi Muhammad SAW dan pintu fana seluruhnya kedalam beliau.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Ek Ghalti ka Izalah, 1901, hal. 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sangat menyintai Rasulullah Muhammad SAW, berkenaan dengan kecintaan dan keediaan beliau mengorbankan jiwa raga demi kemuliaan Rasulullah Muhammad SAW beliau menulis, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya katakan dengan sejujur-jujurnya bahwa kami dapat berdamai dengan ular berbisa dan srigala buas, tetapi kami tak dapat berkompromi dengan orang yang melakukan serangan-serangan keji terhadap Nabi Muhammad yang kami cintai, orang yang lebih kami hargakan dari kehidupan kami dan orang tua kami.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Paighami Sulh, 1908 hal. 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekiranya orang-orang ini menyembelih anak-anak kami didepan mata kami dan mencincang apa-apa yang kami cintai sampai berkeping-keping dan membuat kami mati dengan hina dan malu dan merampas semua harta dunia kami, maka demi Tuhan, semua itu tidak akan begitu menyakitkan hati kami seperti yang kami alami atas cacian dan hinaan yang dilancarkan kepada Nabi kami, Muhammad SAW.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Aina Kamalati Islam, 1893, hal. 52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menyaksikan suatu kehebatan dalam wajahmu yang bersinar cemerlang, yang melebihi semua sifat manusia lain. Pada wajahnya tampak Tuhan Muhaimin dan seluruh keadaannya bagaikan cermin. Yang menampakkan keindahan sifat Ilahi dan kebesarannya sungguh menyilaukan. Ia mengungguli seluruh manusia dengan kemampuan, kesempurnaan dan keelokannya dan kehebatan serta dalam kesegaran jiwanya. Sedikitpun tidak diragukan lagi, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah terbaik diantara seluruh makhluk. Paling mulia diantara yang mulia dan inti orang-orang yang terpilih. Segala sifat yang terbaik dan terpuji, pada diri beliaulah puncaknya. Anugerah nikmat yang ada pada setiap zaman, telah berakhir dalam dirinya. Beliau adalah yang terbaik dari semua orang yang mendapat Qurb Ilahi sebelumnya. Keunggulan beliau karena kebaikan-kebaikan, bukan karena zaman. Wahai Tuhanku, turunkanlahh berkat-berkat kepada Nabi-Mu abadi selamanya, di dunia ini dan di hari kebangkitan kedua.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Aina Kamalaati Islam, halaman 594-596)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usia lebih dari 100 tahun, Jemaat Ahmadiyah tjelah berkembang dan berada di hampir 200 negara di dunia dengan jumalah anggota lebih dari 200 juta jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya menegakkan agama Islam dan menyebarkan syiar Islam keseluruh dunia. Jemaat Ahmadiyah mendapat dana dari pengorbana para anggota yaitu infaq/ iuran setiap anggota wajib membayar infaq /iuran tiap bulannya sebesar 1/16 sampai dengan 1/3 dari pendapatan perbulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemaat Ahmadiyah tidak pernah meminta atau menerima satu sen pun dana/biaya dari luar: baik dari perorangan / organisasi/ pemerintah/ Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah bagian dari Jamaah Ahmadiyah Internasional yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani pada tahun 1889 di Qadian India. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad kami yakini adalah Almasih dan Imam Mahdi yang kedatangannya telah dijanjikan oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Keyakinan tentang datangnya Imam Mahdi dan Nabi Isa di akhir Zaman adalah keyakinan seluruh umat Islam dari golongan manapun. Tugasnya adalah menghidupkan kembali agama Islam dan menegakkan kembali syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemaat Ahmadiyah pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1925, diundang oleh Persatuan Mahasiswa Jawa Sumatra di India ketika itu, yang akhirnya Maulana Rahmat Ali HAOT merupakan Muballigh pertama yang diutus ke Indonesia oleh Hadhrat AL-Hajj Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad rh., Khalifah Ahmadiyah ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemaat Ahmadiyah berperan aktif dalam proses pendirian NKRI dan salah seorang anggotanya, Sayyid Shah Muhammad adalah Ketua Panitia Pemulihan Pemerintahan RI. Beliau mendapat bintang jasa kehormatan dari pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemaat Ahmadiyah Indonesia dikukuhkan ber-Badan Hukum sesuai bunyi Lembaran Berita Negara no. 26 tahun 1953 dengan penetapan Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 tanggal 13 Maret 1953.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya menyebarkan agama Islam, Jemaat Ahmadiyah mengirimkan ribuan Da’i ke seluruh penjuru dunia; membangun ribuan masjid di berbagai penjuru dunia diantaranya Masjid Baitul Futuh, Morden London UK yang merupakan mesjid terbesar di Eropa Barat; menerjamahkan Al Qur’an kedalam 100 bahasa di dunia sehingga seluruh bangsa dapat mempelajari secara langsung Kitab Suci tersebut; Mendirikan stasiun televisi MTA Internasional (MTA 1; MTA 2 dan MTA 3 Al Arabiyya) yang dipancarkan ke seluruh penjuru dunia 24 jam nonstop menggunakan tujuh buah satelit; melaksanakan bakti kemanusiaan melalui Humanity First tanpa memandang ras, agama, keyakinan maupun bangsa, termasuk membantu menanggulangi Tsunami di Aceh;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaah Ahmadiyah Internasional dipimpin oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V yang saat ini berkedudukan di London, Inggris. Dalam rangkaian muhibah pimpinan tertinggi Jamaah Ahmadiyah Internasional, tanggal 17-19 April 2008 Khalifah Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menghadiri pertemuan tahunan Ahmadiyah Ghana yang dihadiri oleh Presiden Ghana, Ageyaku Kufour, dan wakil Presiden, Alhaj Aliu Mahama dan pajabat-pejabat Negara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemaat Ahmadiyah perpegang teguh kepada mottonya, Love for All, Hatred for None (Cinta kepada semua orang dan tiada kebencian kepada siapapun.) n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-2071619168695880106?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/2071619168695880106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=2071619168695880106' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/2071619168695880106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/2071619168695880106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2008/05/ahmadiyah-menjawab.html' title='AHMADIYAH MENJAWAB'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-1389811137249620872</id><published>2008-04-25T22:13:00.000-07:00</published><updated>2008-04-25T22:16:44.694-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Bahaya Khuruj(melawan) terhadap Pemerintah</title><content type='html'>Oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan khuruj (pemberontakan) dan inqilab (melancarkan kudeta) terhadap suatu pemerintahan (yang sah) bukanlah sarana untuk memperbaiki masyarakat. Bahkan justru memicu timbulnya kerusakan di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khuruj terhadap pemerintah muslim, bagaimana pun tingkat kezhalimannya, merupakan bentuk penyimpangan dari manhaj Ahlus Sunnah (Wal Jama’ah). Ada dua macam bentuk khuruj, (1). Khuruj dengan memanggul senjata (2). Khuruj dengan perkataan dan lisan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Mereka yang selalu memunculkan perpecahan, pertikaian, dan pergolakan terhadap pemerintahan muslim, pada hakikatnya telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan tersebut. padahal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk bersabar, sebagaimana sabda beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah” [Muttafaq ‘alaih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungkanlah perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kecuali engkau melihat suatu kekufuran”. Penuturan beliau tidak terhenti sampai di situ saja, tetapi diiringi dengan keterangan “kekufuran yang sangat jelas”. Lantas beliau menambahkan keterangan lebih lanjut “ yang dapat engkau buktikan tentang itu di sisi Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadits ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan lima buah penekanan untuk mencegah orang dari khuruj dan takfir (mengkafirkan pemerintah atau pun individu muslim) yang merupakan perbuatan sangat buruk dan berbahaya. Karena dapat mengakibatkan kerusakan dan kehancuran di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata di dalam kitabnya, I’lamul Muwaqqi’in : “Tidak ada satu pemberontakan pun terhadap pemerintah muslim yang membawa kebaikan terhadap umat pada masa kapan pun”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga hujatan terhadap pemerintah. Manakala sebagian orang menjadikan hujatan terhadap pemerintah sebagai materi ceramah dan “nasihat-nasihat” yang mereka sampaikan untuk memperoleh simpati manusia. Manusia pada dasarnya menyukai hujatan terhadap pemerintah, juga terhadap para penguasa dan pemimpin, serta kepada setiap orang yang mempunyai posisi lebih tinggi dari mereka. Seakan-akan hujatan dan celaan tersebut sebagai hiburan yang dapat menyenangkan hati mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh suatu fenomena yang sangat menyedihkan ketika kita menyaksikan hujatan, makian, serta cercaan terhadap pemerintah, saat ini menjadi materi-materi ceramah dan “masukan” bagi sebagian da’i zaman sekarang, khususnya pada waktu terjadinya fitnah. Hingga materi yang mereka sampaikan akan membuat orang-orang berkomentar :”Masya Allah, Syaikh ini orang yang berani, atau Syaikh ini orang yang kuat”. Padahal fakta ini sesungguhnya tidak mendatangkan manfaat apa pun, melainkan hanya akan menghasut dan mengotori jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang justru mengira, tindakan tersebut merupakan bentuk upaya menasehati pemerintah. Padahal terdapat metode dan prosedur dalam menasehati pemerintah, seperti termaktub dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa di antara kalian yang ingin menasehati penguasa, maka hendaklah dia pergi kepadanya, dan merahasiakan nasihatnya itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menjelaskan bahwa nasihat kepada para penguasa atau pemerintah, hendaklah disampaikan secara rahasia. Karena bila ditempuh secara terang-terangan akan menimbulkan gejolak hati, yang merusak hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di antara kita –para penuntut ilmu- ada yang terjatuh ke dalam suatu kesalahan, kemudian salah seorang menasihatinya di depan umum, ia langsung akan berkata : “Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah. Janganlah kamu membuka aibku di depan umum. Kalau engkau ingin menasihatiku, maka lakukanlah dengan empat mata”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau para penuntut ilmu, para da’i yang mengajak manusia kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam –yang mengetahui keutamaan ilmu, keutamaan al-haq dan kembali kepadanya (setelah mengalami kekeliruan)- tidak menyukai metode seperti ini dalam memberikan suatu nasihat, maka bagaimana mungkin para penguasa yang memiliki kedudukan, kekuasaan, senjata, serta tentara yang banyak –bagaimana mungkin mereka- akan dapat menerima nasihat dengan cara yang tidak simpatik ini. Justru yang lebih utama, tidak menasihati mereka di depan umum ; kalaupun hal ini tidak mendatangkan maslahat bagi pemerintah, paling tidak akan memberi maslahat bagi diri kita sendiri. Hal ini, tentunya apabila mereka (para penguasa) adalah orang-orang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batasan yang paling rendah untuk menghukumi mereka sebagai seorang muslim, ialah apabila mereka tunduk dan mengakui kebenaran agama Islam. Meskipun mereka melakukan suatu penyelewangan, mempunyai kesalahan yang banyak dan berbuat dosa-dosa besar. Dan ini semua tidak menjadikan mereka sebagai orang kafir, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah” [Muttafaqun ‘alaih]&lt;br /&gt;Kemudian Syaikh Muqbil rahimahullah berkata : “Kami tidak memandang kudeta sebagai jalan untuk membenahi masyarakat. Bahkan gerakan tersebut, justru menimbulkan kerusakan dalam masyarakat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita simak sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Shahih Muslim, dari hadits Arfajah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang datang kepada kalian, ketika kalian bersatu di bawah satu pimpinan, dia berkeinginan untuk memecah belah persatuan kalian, maka bunuhlah dia” [HR Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa pemberontakan terhadap suatu pemerintah, yang dapat menimbulkan suatu perpecahan di kalangan masyarakat merupakan salah satu hal yang mewajibkan seseorang untuk dibunuh. Akan tetapi, perlu diingat, bahwa yang dapat menjatuhkan sanksi ini adalah waliyyul-amr, pemerintah yang memegang kekuasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu patuh dan taat, baik terhadap apa yang kami suka maupun yang tidak kami suka, dan dalam keadaan sulit maupun lapang, dan untuk mendahulukan apa yang diperintahkan (di atas segala kehendak kami), dan untuk tidak merebut kekuasaan dari pemimpin yang sah. Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah” [Muttafaqun ‘alaih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, ketaatan ini tidak boleh berlawanan dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya ketaatan itu hanya terhadap perkara yang ma’ruf (baik) saja” [Muttafaqun ‘alaih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak boleh taat kepada makhluk di dalam maksiat kepada Al-Khaliq”[HR Thabrani di dalam Al-Mu’jamul Kabir]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau merenung sejenak, niscaya kita akan memperoleh fakta bahwa dalam sejarah Islam, tidak ada satu pemberontakan pun yang berhasil. Lain halnya dengan orang-orang kafir, kebanyakan pemberontakan yang mereka gerakkan berakhir dengan keberhasilan. Di sini seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang menghendaki, supaya kita mau melihat dan memperhatikan bahwa cara seperti ini, bukanlah metode syar’i. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menginginkan kita supaya menempuh metode syar’i yang telah digariskan oleh-Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” [Ar-Ra’d : 11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu” [Muhammad : 7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa” [Al-Hajj : 40]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa metode syar’i adalah tidak keluar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Azza wa Jalla berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa” [Al-An’am : 153]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :”Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat suatu garis, kemudian beliau berkata : “Ini adalah jalan Allah”, kemudian beliau membuat garis-garis yang banyak di bagian kanan dan bagian kirinya, lalu berliau berkata : “Ini adalah jalan-jalan (yang dimaksud oleh Allah), dan pada setiap jalan terdapat setan yang menyeru kepadanya”, kemudian beliau membaca ayat : “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa” .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini jelaslah bagi kita, bahwa tidak ada jalan untuk memperbaiki kondisi masyarakat melainkan dengan mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala macam bentuk bid’ah. Mari kita simak firman Allah Azza wa Jalla yang sangat agung berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan adakalanya kami memperlihatkan kepadamu (Muhammad) sebagian dari (siksaan) yang Kami janjikan kepada mereka, atau Kami wafatkan engkau (sebelum itu)” [Yunus : 46]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak diantara manusia yang berkata “kami belum melihat kejayaan Islam”. Ketahuilah ! Bahwa tidaklah mesti kita melihat segala apa yang telah dijanjikan Allah kepada kita, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak melihat segala apa yang di jajikan oleh Allah. Coba kita menyimak firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang merupakan janji-Nya kepada orang-orang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah telah menjajikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan amal shalih, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama telah Dia ridhai bagi mereka. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam, ketakutan menjadi aman sentosa. Asalkan mereka (tetap) semata-mata beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan suatu pun” [An-Nur : 55]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ini merupakan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila kita dapat merealisasikan perintah Allah ini, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan merealisasikan apa yang telah Dia janjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu ‘alam, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihii wa shahbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;Footnote&lt;br /&gt;[1]. Diterjemahkan oleh ustadz Ahmad Danil dari penjelasan Syaih Ali Hasan Al-Halabi terhadap risalah Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah yang berjudul “Hadzihi Da’watuna Wa Aqidatuna”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;almanhaj&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-1389811137249620872?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/1389811137249620872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=1389811137249620872' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/1389811137249620872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/1389811137249620872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2008/04/bahaya-khuruj-melawan-terhadap.html' title='Bahaya Khuruj(melawan) terhadap Pemerintah'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-6442553674066099787</id><published>2008-04-02T04:45:00.000-07:00</published><updated>2008-04-02T04:51:06.382-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='khutbah'/><title type='text'>Sifat Al-Rafiq Allah Swt.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_foNCT-dpxRA/R_Ny8RV6m2I/AAAAAAAAAPU/OXi_705ERuY/s1600-h/1467256413_8390dc5f8c_m.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_foNCT-dpxRA/R_Ny8RV6m2I/AAAAAAAAAPU/OXi_705ERuY/s200/1467256413_8390dc5f8c_m.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184613975806614370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada Khutbah Jumah ini Huzur menerangkan bagian awal sifat Al Rafiq Allah Swt, yang artinya adalah bersikap lembut dan baik, teman serta sahabat. Menurut kamus Bahasa Arab, 'rafiq' adalah dia yang tidak mendatangkan sesuatu kemudaratan apapun. Melainkan hanya memberi faedah belaka; senantiasa bersimpati, dan melakukan segala tugas pekerjaannya tanpa cacad. Hadhrat Masih Mau'ud a.s. memperoleh makrifat hakekat sifat Allah Swt Al-Rafiq ini pada tahun 1903. Ketika itu akan berjangkit wabah penyakit pes yang luas dan mematikan. Melalui wahyu-Nya, Allah Swt mengajari beliau doa `Ya Hafizu, Ya Azizu Ya Rafiq' agar beliau [dan seluruh anggota Jamaah] terhindar dari wabah penyakit tersebut. &lt;span class="fullpost"&gt;Sedangkan sifat Al Aziz (Yang Mahagagah) dan Al-Hafiz (Yang Mahapelindung) adalah dua sifat Allah Swt lainnya [yang akan diterangkan kemudian].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huzur bersabda, pada umumnya semua manusia memperoleh manfaat dari sifat Rafiq Allah Swt; akan tetapi hanya beberapa orang saja yang menyadarinya dengan cara menjadi hamba-hamba Tuhan yang sejati; yakni kembali kepada Allah dengan seikhlas-ikhlasnya; sehingga berhasil menjadikan wujud Tuhannya sebagai Rafiqul-Ala (Karibun-Ala, Karib Yang Mulia). Salah satu di antara mereka yang sedikit itu adalah Rasulullah Saw, yang merupakan contoh yang paripurna, yakni berhasil membumikan Allah Swt sedemikian rupa, sehingga ruh beliau pun seakan-akan sudah berpisah dari kehidupan duniawi ini (sudah fana fillah). Beliau berhasil memberi hikmah pengertian kepada kita sedemikian rupa, yakni seperti itulah hendaknya manusia berupaya menjadikan Allah Swt sebagai Karibun'Ala (Sahabat Yang Mahakarib) alih-alih memilih [sesuatu kekuatan] duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huzur bersabda, aktivitas kaum penentang Islam saat ini semakin meningkat; sedangkan kita hanya memiliki Dia yang Al-Rafiq tempat kita mengadu, yang Pertolongan- Nya dapat diandalkan untuk menghadapi mereka. Salah seorang musuh Islam yang saat ini sedang diam-diam bersiasat adalah – Geert Wilder, seorang politikus Belanda yang anti-Islam telah membuat sebuah film yang melecehkan Islam. Film buruk tersebut rencananya akan ditayangkan hari ini di sebuah stasiun TV. Namun sebenarnya sudah ditayangkan di sebuah stasiun TV lokal kemarin dan juga di internet. Ini dikarenakan berbagai stasiun TV besar berskala nasional menolak untuk menayangkannya. Semoga Allah Swt senantiasa memberi petunjuk dan hidayah kepada mereka agar senantiasa dapat menolak segala bentuk keburukan. Huzur bersabda, Mr.Wilder ini berkeberatan terhadap ayat 5 Surah Muhammad (47:5), yang pada hakekatnya bukanlah sesuatu hal yang baru, melainkan lagu lama. Pada kenyataannya falsafah ajaran Islam berdasarkan cinta kasih dan peka terhadap hak-hak orang lain; akan tetapi perlu penjelasan lebih lanjut segi lain dari ajaran tersebut. Ajaran Islam senantiasa mengambil jalan tengah, tidak keras, tidak pula lembek. Mereka yang hanya melihat kepada segi 'kelembekan' menunjukkan bahwa mereka itu sebenarnya adalah golongan orang yang suka mengumbar dendam kesumat seperti halnya Mr. Wilder ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huzur bersabda, beliau ingin agar kaum Ahmadi menyimak sesuatu hal dengan seksama; berkaitan dengan hal ini, banyak-banyak bershalawat kepada Hadhrat Muhammad Rasulullah Saw adalah sangat penting. Mereka yang melaksanakannya dengan dawam akan memperoleh banyak keberkatan. Hal ini sebenarnya sudah dicantumkan di dalam Doa-doa Program Rohani menyambut Peringatan Seabad Khilafat Ahmadiyah. Oleh karena itu mohon diperhatikan kembali. Menerangkan lebih lanjut banyaknya keberkatan dalam bershalawat kapada Rasulullah Saw berdasarkan berbagai tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s., Huzur besabda, kita hendaknya banyak-banyak membaca shalawat sehubungan dengan meningkatnya siasat musuh-musuh Islam yang tengah mencoba mencemarkan nama baik Rasulullah Saw. Meskipun usaha mereka itu tidak akan berhasil, tetapi sebagai satu kesatuan di dalam Jamaah [Ahmadiyah] kita haruslah banyak-banyak bershalawat. Sehingga secara keseluruhan jumlahnya akan mencapai jutaan kali. Kita hendaknya kembali mendekatkan diri kepada Allah dan memohon pertolongan- Nya, agar diberi kemudahan dalam menyiarkan ajaran Islam ke seluruh dunia dengan cara yang sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huzur bersabda, kita hanya berupaya untuk menjernihkan keadaan. Oleh karena itu kita tidak percaya dengan cara-cara main hakim sendiri. Karena kita meyakini pertolongan Allah Swt, yang berkuasa atas segala sesuatu. Oleh karena itu takutlah kepada-Nya dan rubahlah akhlakmu. Manakala kita mencoba untuk mewujudkan berbagai sifat Allah di dalam diri kita, artinya kita harus dapat merubah akhlak perangai kita. Inilah senantiasa yang harus dapat kita lakukan, artinya kita menyerahkan perkaranya kepada Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huzur selanjutnya menerangkan keelokan ajaran Islam yang menjawab segala keberatan yang diajukan oleh Mr.Wilder dan sejenisnya. Huzur mendasari argumen jawaban beliau kepada ayat 41 – 44 Surah Al Shura (42:41, 42, 43, 44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huzur kemudian membacakan beberapa ikhtisar tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. mengenai keindahan dan kesempurnaan contoh teladan Rasulullah Saw yang merupakan citra ajaran Alquran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huzur bersabda, mereka yang akrab dengan Alquran tahu persis akan keindahan ajarannya. Akan tetapi, mereka yang memusuhi Islam justru mengajukan berbagai keberatan. Maka, manakala ayat-ayat Alquran di atas diterapkan pada situasi sekarang ini, yang diperlukan adalah mawas diri. Alih-alih membalas dendam secara membabi-buta, tempuhlah jalur hukum.&lt;br /&gt;Huzur kemudian menguraikan berbagai sifat mulia Rasulullah Saw yang patut menjadi suri tauladan kita semua berdasarkan keterangan dari berbagai ayat Alquran, yakni Surah 26:4 dan 21:108, kemudian menerangkannya lebih lanjut berdasarkan berbagai tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s.; Huzur lalu membacakan beberapa Hadith Rasulullah Saw yang menggambarkan akhlak fadillah Rasulullah Saw yang pada intinya bersifat penuh dengan cinta kasih dan murah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huzur mendoakan semoga Allah memudahkan penduduk dunia untuk melihat kebenaran dengan sikap pemikiran yang jernih. Dan semoga pula Allah Swt berkenan menerima kiriman Shalawat kita, sehingga bolehlah kita menyaksikan bersinarnya panji kebenaran Rasulullah Saw ke seluruh pelosok dunia, namun sekaligus juga akan membuat mereka yang bersikap culas menjadi terhinakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir khutbah, Huzur menyampaikan berita duka telah disyahidkannya  Dr. Muhammad Sarwer di Jemaat Peshawar, Pakistan pada tanggal 19 Maret oleh segerombolan orang tak dikenal yang sebelumnya mengetuk-ngetuk pintu rumah beliau. Keluarga beliau adalah satu-satunya keluarga Ahmadi di daerah tersebut, yang tetap bertahan tinggal di sana&lt;br /&gt;meskipun sudah ada beberapa kali penyerangan sebelumnya. Almarhum meninggalkan seorang istri, enam anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Semoga Allah memberi maqom terbaik bagi arwah almarhum di Jannah-Nya, serta memberikan ketawakalan bagi keluarga yang ditinggalkan. Huzur akan mengimami shalat jenazah gaib, bada shalat Jummah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;transltByMMA/ LA.032808&lt;br /&gt;Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Atba&lt;br /&gt;28 Maret 2008, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-6442553674066099787?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/6442553674066099787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=6442553674066099787' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/6442553674066099787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/6442553674066099787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2008/04/sifat-al-rafiq-allah-swt.html' title='Sifat Al-Rafiq Allah Swt.'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_foNCT-dpxRA/R_Ny8RV6m2I/AAAAAAAAAPU/OXi_705ERuY/s72-c/1467256413_8390dc5f8c_m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-3818069618034985576</id><published>2008-03-27T06:18:00.000-07:00</published><updated>2008-03-27T06:22:09.037-07:00</updated><title type='text'>Maka Ber-Tahajudlah, Berkhalwat Berdua dengan Tuhan-mu</title><content type='html'>"Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (QS Al-Isra’ 17:79-80) Dalam Al Qur’an, terdapat banyak ayat yang menuturkan tentang tahajud, perintah mengerjakannya dan keutamaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata tahajud sendiri dalam bahasa Arab berarti bergadang, sehingga makna tahajud adalah salat sunah di malam hari yang dilakukan sesudah tidur. Tahajud juga bisa disebut sebagai qiyamullail karena pelaksanaan waktunya malam hari. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perbedaannya, jika tahajud hanya dilakukan sesudah tidur, qiyamullail bisa dilakukan sebelum maupun sesudah tidur. Selain itu, qiyamullail bisa berupa shalat atau amal ibadah lainnya, seperti tilawah, tasbih atau yang lainnya, sedangkan tahajud hanya berupa shalat saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mensifati qiyamullail dengan firman-Nya: ”Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS Al-Muzzammil 73:6) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tafsir Al Azhar, Prof. Dr. Hamka menjelaskan ayat tersebut sebagai berikut: ”Karena di waktu malam gangguan sangat berkurang. Malam adalah hening, keheningan malam berpengaruh pula kepada keheningan fikiran. Di dalam suatu hadits Qudsi, Allah berfirman, bahwa pada sepertiga malam terakhir Allah turun ke langit dunia untuk mendengarkan keluhan hamba-Nya yang mengeluh, untuk menerima taubat orang yang taubat dan permohonan maghfirah (ampunan) hamba-Nya yang memohonkan ampun. Maksudnya ialah bahwa hubungan kita dengan langit pada waktu malam adalah sangat dekat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahajud maupun qiyamullail merupakan ibadah yang menghubungkan hati kita dengan Allah. Ketika suara-suara telah lenyap dan mata-mata telah terpejam serta orang-orang tertidur lelap di pembaringannya, orang yang melakukan qiyamullail menjauhkan diri mereka dari kasur-kasur empuk dan dipan-dipan mewah lagi nyaman untuk menghidupkan malam dengan berkhalwat berdua dengan-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Allah menyanjung dan mengistimewakan mereka melalui firman-Nya: ”(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS Az-Zumar 39:9) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW sendiri selalu menjaga qiyamullail, selalu mengerjakan qiyamullail sampai telapak kaki beliau bengkak. Padahal, beliau telah mendapat jaminan ampunan bagi semua dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanyakan kepada beliau, maka jawabnya, ”Tidak pantaskah aku untuk menjadi seorang hamba yang pandai bersyukur.” (HR. Bukhari dan Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qiyamullail merupakan sunnah muakadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah dengan sabdanya, "Hendaklah kamu melaksanakan qiyamullail karena qiyamullail itu adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kita, sarana pendekatan kepada Allah, penghapus keburukan, pencegah dosa dan penangkal penyakit di badan." (HR. Ahmad dan Tirmidzi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW juga sangat menganjurkan untuk melakukan qiyamullail karena di dalamnya terkandung kebaikan yang agung dan pahala yang banyak, dengan sabdanya, ”Sesungguhnya ada waktu di malam hari yang tidak seorangpun dari seorang hamba yang berdoa pada saat itu untuk memohon kebaikan kecuali pasti akan Allah kabulkan.” (HR. Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam Al Qur’an: ”Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (QS Al-Isra’ 17:79-80) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).” (QS Ath-Thuur 52:49) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.” (QS Al-Insan 76:26) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamka menerangkan tentang tafsir ayat tersebut sebagai berikut: “Sholat lima waktu ditambah dengan tahajud di malam yang panjang itu adalah alat penting bagi memperkaya jiwa dan memperteguh hati di dalam menghadapi tugas berat melakukan dakwah. Sebab rasa dekat kepada Tuhan itulah sumber kekuatan sejati bagi manusia.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qiyamullail merupakan kenikmatan dan karunia dari Allah terhadap hamba-Nya yang shaleh yang Allah mudahkan untuk beribadah kepada-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan qiyamullail, Allah akan memberi kekuatan. Dengan qiyamullail, Allah mengabulkan doa. Dengan qiyamullail, dapat menghapus keburukan, mencegah dosa dan menangkal penyakit. Dengan qiyamullail, dapat semakin mendekatkan kepada Allah. Dengan qiyamullail, Allah akan menggolongkan dalam ibaadurrahman. Dengan qiyamullail, Allah akan mengangkat ke tempat yang terpuji. Dengan qiyamullail, Allah akan memasukkan ke surga-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk tanda cinta kepada Allah adalah bermunajat kepada-Nya di keheningan malam. Sebagaimana ungkapan dari para ulama, ”Di dunia ini tidak ada waktu yang menyerupai waktu yang sangat di surga kecuali apa yang dirasakan oleh orang-orang shaleh di dalam hati mereka akan kenikmatan bermunajat kepada Rabb mereka.” &lt;br /&gt;Apabila malam telah gelap, Syadad bin Aus masuk ke kamar tidurnya, ia merasa gelisah, tidak bisa tidur, membolak-balikkan badannya bagaikan biji-bijian di atas penggorengan. Lalu, ia berkata, "Wahai Rabbku, sesungguhnya panasnya api neraka telah menghilangkan rasa kantukku." Lalu, ia bangun untuk melakukan shalat malam hingga pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila malam telah menjadi gelap gulita mereka bangun untuk shalat Maka, pagi pun datang sedang mereka masih dalam keadaan ruku Rasa takut telah menerbangkan kantuk mereka, maka bangun Saat orang-orang yang merasa aman di dunia tertidur pulas Sedang mereka sujud di kegelapan malam sambil terisak Suara tangis mereka meretakkan tulang-tulang rusuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang yang mendamba cinta-Nya, ingatlah bahwa Nabi Muhammad SAW beribadah di malam hari hingga kedua telapak kakinya bengkak. Para salafussaleh dan orang-orang pilihan umat ini pun selalu beribadah di malam hari. Jadikanlah qiyamullail sebagai prioritas kegiatan ibadahmu. Tidakkah Anda senang jika Anda dapat berdampingan dengan mereka di syurga Adn? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang difirmankan-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS Adz-Dzariyat 51:15-18) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya karena Allah-lah orang selalu terjaga di kala malam Hati yang dirundung takut dan pusing karena dosa tidak dapat tertidur Dengan tuangan air mata ia menangisi kesalahannya Dan malam pun tertutup dengan kehiruk-pikukkannya Sebagai penyesalan atas dosa-dosa yang telah dilakukannya Kepada Raja yanga para raja tunduk dan patuh kepada-Nya Wahai Tuhan, tidak ada yang maha memaafkan dosa selain-Mu Hanya kepada-Mu-lah, wahai Tuhanku, orang yang mengosongkan dirinya mencari pengampunan-Mu, Wahai Tuhan, ampunilah hamba-Mu ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;dikutip dari : http://www.pks-jaksel.or.id/Article1296.html&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-3818069618034985576?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/3818069618034985576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=3818069618034985576' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/3818069618034985576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/3818069618034985576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2008/03/maka-ber-tahajudlah-berkhalwat-berdua.html' title='Maka Ber-Tahajudlah, Berkhalwat Berdua dengan Tuhan-mu'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-455346036732378690</id><published>2008-02-21T16:37:00.000-08:00</published><updated>2008-02-21T16:40:36.118-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamologi'/><title type='text'>Beberapa Ciri Khas Islam Yang Istimewa</title><content type='html'>Tulisan ini merupakan naskah ceramah yang disampaikan oleh Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih IV r.a. di Canberra, Australia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak Ada Monopoli Kebenaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala berbicara mengenai masalah ciri-ciri khas Islam yang istimewa adalah, ciri khas pertama dan paling menarik yang menekankan satu hal, yang paling menarik bahwa Islam tak mendakwakan mempunyai monopoli kebenaran, dan bahwa tak ada kebenaran dalam agama-agama lain. Tidak pula ia mendakwa bahwa bangsa Arab saja yang telah menjadi penerima kasih sayang Tuhan. Islam merupakan satu-satunya agama yang secara total menolak pandangan bahwa kebenaran merupakan monopoli dari suatu agama, ras atau masyarakat tertentu; bahkan, ia mengakui bahwa petunjuk Ilahi adalah satu anugrah umum yang telah menghidupi umat manusia di segala zaman. Al-Qur’an memberitahu kita bahwa tak ada satu ras atau masyarakat, yang tidak diberkati dengan anugrah petunjuk Ilahi, dan tidak pula ada kawasan di bumi ini atau pun sekelompok masyarakat yang tidak menerima (diutus) nabi-nabi dan rasul-rasul Tuhan (35:35). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berlawanan dengan seluruh pandangan dunia ini Islam mengakui perwujudan Anugrah Allah atas semua orang di bumi ini, kita dikuatkan dengan kenyataan bahwa tak ada kitab atau agama lain mengakui atau bahkan menyebutkan kemungkinan orang-orang dan kaum-kaum lain telah menerima cahaya dan petunjuk dari Allah pada suatu babak dalam sejarah. Sebenarnya, kebenaran dan keabsahan agama setempat atau kedaerahan sering begitu besar ditekankan, dan kebenaran agama-agama lain diabaikan secara total, seakan-akan Tuhan menjaga hanya satu agama, satu kaum dan satu ras saja, mengasingkan seluruh penghuni lain dari bumi ini seakan-akan matahari kebenaran hanya terbit dan terbenam pada cakrawala terbatas dari satu kaum tertentu [maka] untuk dunia selebihnya, katakanlah, dilupakan dan dikutuk dalam kegelapan abadi. Misalnya, Al-kitab (Bibel) hanya mengemukakan Tuhan bangsa Israel, dan ia secara berulang-ulang mengatakan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka beberkatlah Tuhan, Allah orang Israel.” (1Tawarikh 16:36). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak mengakui, bahkan secara sambil lalu, kebenaran wahyu agama-agama yang diberikan kepada negeri-negeri dan kaum-kaum lain. Maka, kepercayaan Yahudi bahwa para nabi Bani Israil saja yang diutus kepada suku-suku bangsa Israel adalah sepenuhnya sesuai dengan maksud dan pesan Al-kitab (Bibel). Nabi Isa juga menyatakan bahwa kedatangan beliau dimaksudkan untuk petunjuk suku-suku Ibrani saja, dan telah bersabda, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku diutus hanya kepada domba-domba yang sesat dari umat Israel” (Matius 15:24), &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan beliau menasihati murid-murid beliau dengan kata-kata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan berikan kepada anjing barang yang suci, dan jangan memberikan mutiara kepada babi.” (Matius 7:6). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya, agama Hindu juga menisbahkan dalam kitabnya hanya kepada orang-orang dari golongan tinggi. Dikatakan, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika seorang dari golongan rendah (sudra) kebetulan mendengar satu kalimat dari Weda, Raja hendaklah menutup telinganya dengan lilin dan timah cair. Dan dia yang membaca sebagian dari kitab suci, lidahnya harus dipotong; dan jika dia terus membaca Weda, tubuhnya harus dipotong-potong.” (Gotama Smriti : 12). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan jika kita tak mengakui pernyataan-pernyataan berlebih-lebihan seperti itu, atau menyodorkan beberapa penjelasan yang lebih sederhana dari pada mereka, kenyataannya tetap bahwa kitab-kitab suci berbagai agama, bahkan dengan isyarat, tidak menyinggung kebenaran agama-agama dari negeri-negeri dan kaum-kaum lain. Masalah pokok yang timbul di sini adalah, bahwa jika seluruh agama ini ternyata benar, maka apa hikmah menyajikan konsep Tuhan dalam istilah yang demikian ketat dan terbatas? Al-Qur’an siap menyediakan pemecahan masalah ini. Ia mengatakan bahwa bahkan sebelum pewahyuan Al-Qur’an dan kedatangan Nabi Suci Muhammad (s.a.w.), Utusan-utusan Ilahi sungguh telah diutus kepada setiap bangsa dan setiap bagian bumi, tapi lingkup mereka adalah kedaerahan dan tugas mereka terbatas zamannya. Ini karena peradaban umat manusia belum mencapai tahap perkembangan yang memanfaatkan pengutusan seorang rasul universal, yang membawa pesan universal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Agama Universal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaran paling awal dari Al-Qur’an Suci memuji Tuhan Yang adalah Pemelihara seluruh dunia, dan dalam ayat-ayat terakhirnya mendorong kita untuk berdo’a kepada Tuhan manusia. Maka, kata-kata dari Al-Qur’an Suci yang awal dan yang akhir kedua-duanya menyajikan konsep keutuhan semesta, dan tidak [mengenai] Tuhan dari bangsa Arab atau orang-orang Muslim belaka. Sesungguhnya, tak seorang pun sebelum Nabi Suci Islam (s.a.w) telah mengisyaratkan seluruh umat manusia, dan tak sebuah kitab pun sebelum Al-Qur’an Suci telah merujuk pada seluruh dunia. Pertama pendakwaan seperti itu dibuat dalam menyokong Nabi Suci Islam (s.a.w.) dalam kata-kata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidaklah Kami utus engkau melainkan sebagai pembawa kabar suka dan pemberi peringatan untuk seluruh umat manusia, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS:34 : 29). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang rasul Allah untuk kamu sekalian’.” (7 : 159). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika Al-Qur’an menyebut dirinya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sebuah pesan untuk seluruh dunia” (QS:81:28), &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia mengangkat dirinya sebagai petunjuk yang dihubungkan dengan perkembangan dan manfaat manusia yang sejati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an secara berulang-ulang telah disebut sebagai ‘Pembukti’ kitab-kitab lain dan kaum muslimin diwajibkan untuk mempercayai semua nabi lain dengan cara yang tepat sama dengan mereka mempercayai nabi mereka sendiri. Dalam keimanan kita, adalah terlarang untuk membuat perbedaan di antara mereka, mempercayai sebagian dan mengingkari sebagian yang lain. Al-Qur’an mengatakan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”[Kami] semua beriman kepada Allah, dan malaikat-malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya [serta] berkata, ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara rasul-rasul-Nya’.” (2 : 286). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh tanpa guna untuk menerangkan jika ke-universal-an itu sendiri adalah satu ciri khas yang dapat diharapkan, dan mengapa Islam telah meletakkan tekanan yang demikian besar terhadapnya. Bahkan sejak Islam membawa pesan persatuan umat manusia, derap langkah ke arah persatuan seperti itu telah terus dipercepat pada setiap lapisan. Sebuah contoh dari langkah ini di zaman kita adalah berdirinya berbagai badan dan persatuan antar bangsa. Sesungguhnya, hal ini merupakan tonggak-tonggak sepanjang perjalanan yang panjang dan berliku-liku ke arah persatuan di kalangan seluruh umat manusia. Maka, keperluan yang dirasakan secara tajam oleh masyarakat yang maju dan beradab hari ini, telah digenapi dengan penanaman benih pemenuhannya dalam pesan Islam 1400 tahun yang lalu. Hari ini, tentunya, perkembangan perjalanan dan perhubungan yang cepat telah memberikan satu daya dorong baru yang bergerak ke arah persatuan di kalangan kaum-kaum dan bangsa-bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan Dan Pertentangan Di Antara Agama-Agama – Hakikatnya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pertanyaan yang timbul adalah; jika seluruh agama sebenarnya didirikan oleh para utusan dari Tuhan, maka mengapa ada perbedaan-perbedaan dalam ajaran-ajaran mereka? Dapatkah Tuhan yang sama menurunkan ajaran-ajaran yang berbeda? Pertanyaan ini dijawab oleh Islam saja, dan hal ini, juga, merupakan satu ciri khas istimewa dari agama ini. Islam berpegang bahwa ada dua penyebab dasar perbedaan-perbedaan antara berbagai agama. Pertama, bahwa keadaan-keadaan berbeda menghendaki ketentuan dan aturan yang berbeda, dan Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana telah menyediakan petunjuk untuk zaman, kawasan dan kaum-kaum yang berbeda menurut keperluan-keperluan mereka masing-masing. Kedua, kandungan-kandungan [ajaran] berbagai agama memudar dan layu di bawah pengaruh zaman, sehingga ajaran-ajaran itu tidak tampil dalam bentuk aslinya. Dalam beberapa hal, para pengikutnya sendiri memperkenalkan bid’ah-bid’ah (tambahan-tambahan) dan perubahan-perubahan untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan yang berubah, dan kitab-kitab yang asalnya diwahyukan terus dicampur tangani untuk tujuan ini. Secara nyata, penodaan pada Pesan Ilahi semacam itu akhirnya memerlukan petunjuk yang segar (baru) dari Sumber Asli. Sebagaimana Tuhan telah berfirman dalam Al-Qur’an: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka menyelewengkan kalimat-kalimat dari tempat-tempat yang selayaknya dan telah melupakan bagian yang baik yang dengannya mereka dinasihati.” (QS:5:14). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita uji sejarah perbedaan-perbedaan antara berbagai agama dengan cahaya prinsip-prinsip yang diterangkan oleh Al-Qur’an, kita jumpai bahwa perbedaan-perbedaan cenderung berkurang sebab kita menuju lebih dekat ke sumbernya sendiri. Misalnya, jika kita batasi perbandingan ajaran Kristen dan Islam hanya pada kehidupan Yesus (Nabi Isa) dan empat kitab Injil, maka hanya akan tampak perbedaan-perbedaan yang sangat kecil (sedikit) antara ajaran-ajaran pokok Al-kitab (Bibel) dan Al-Qur’an. Tapi, karena kita melangkah lebih jauh dalam perjalanan zaman, jurang perbedaan-perbedaan ini menjadi lebih lebar dan makin lebar, hingga hal itu menjadi tak terjembatani secara total – dan semua karena usaha-usaha manusia untuk mengubah apa yang awalnya diwahyukan. Sejarah agama-agama lain juga mengungkapkan kenyataan yang pada dasarnya sama, dan kita menjumpai bukti-bukti kuat dari pandangan Al-Quran, yang menunjukkan perubahan dan campur tangan manusia pada Pesan Ilahi, yang selalu berupa dari penyembahan kepada Satu Tuhan menjadi lebih dari satu, dan dari kenyataan menjadi khayalan, dari kemanusiaan menjadi pendewaan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran memberi tahu kita bahwa cara yang paling pasti untuk mengenali kebenaran agama, meskipun nyata kekurangannya, adalah menguji asal mulanya. Jika asalnya mengungkapkan ajaran keesaan Tuhan, tidak menyembah kecuali kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta kepedulian sejati dan ikhlas kepada seluruh umat manusia, maka agama seperti itu, walaupun nyata-nyata berubah, mesti diterima (diakui) sebagai [agama yang] benar. Para pendiri (pembawa) agama yang memenuhi persyaratan ini, adalah benar-benar wujud suci dan saleh, serta utusan-utusan sejati yang diutus oleh Tuhan, di antara mereka kita hendaknya tak membuat perbedaan dan terhadap mereka kita wajib beriman sepenuhnya. Mereka mempunyai tanda-tanda dasar yang pasti untuk semua tanpa memandang perbedaan zaman dan tempat. Maka uraian Al-Qur’an Suci: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan: Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah, dengan ikhlas kepada-Nya dalam ketaatan, dan lurus, dan mendirikan shalat, dan membayar zakat. Dan itulah agama kaum yang menempuh jalan yang lurus. (QS:98:6). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Agama Abadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu ciri khas istimewa Islam lainnya adalah, bahwa ia tidak hanya mendakwakan ciri khas universalnya, tapi juga adalah abadi, dan kemudian ia selanjutnya memenuhi syarat pendakwaan seperti itu. Misalnya, sebuah pesan dapat menjadi abadi hanya jika ia lengkap dan sempurna dalam segala segi, dan juga dijamin dengan pemeliharaan untuk kemurnian isi kandungannya. Dengan kata lain, kitab yang diwahyukan itu hendaklah membawa jaminan Ilahi perubahan dan campur tangan manusiawi. Sejauh hubungannya dengan ajaran Al-Quran, Allah Ta’ala Sendiri menyatakan dalam Al-Quran: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridhai bagi kalian Islam sebagai agama.” (QS:5:4). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeliharaan Al-Qur’an &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah saya katakan, untuk satu ajaran yang abadi, hal itu tidak cukup bahwa ia harus lengkap dan sempurna belaka, melainkan hendaklah ada juga satu jaminan untuk penjagaannya yang terus-menerus dalam bentuk aslinya. Al-Qur’an memenuhi tuntutan mendasar ini, dan Dia Yang menurunkan Al-Quran telah menyatakannya dalam bahasa yang sejelas-jelasnya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan kitab ini dan sesungguhnya Kami menjadi Penjaga baginya.” (QS:15:10) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, Tuhan Sendiri akan menjaganya dan tak akan pernah membiarkannya dicampur tangani. Satu cara pemeliharaan teks telah diadakan, yang sesuai dengan Kehendak Ilahi, telah selalu ada ratusan ribu orang di sepanjang masa yang menetapkan teks Al-Qur’an untuk dihafalkan, dan amalan ini berlanjut hingga hari ini. Dan cara pemeliharaan yang prinsip ini benar-benar penting dan isi kandungan pesan itu telah menjadi sunnah Ilahi dengan mengangkat Para Pembimbing dan Mujaddid di setiap abad, dan menubuatkan kedatangan seorang Mujaddid dan Pembaharu Agung di akhir zaman. Beliau diutus sebagai pemimpin ruhani oleh Allah Ta’ala Sendiri dan di bawah petunjuk Ilahi, adalah untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan dan persengketaan di kalangan para pengikut Islam, dengan demikian menjaga ruh Al-Qur’an Suci yang hakiki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, ada persoalan mengenai apakah pendakwaan Al-Quran tentang pemeliharaannya juga disokong oleh bukti nyata yang dapat dipercaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu petunjuk untuk menjawab pertanyaan ini terletak pada kenyataan bahwa ada sejumlah besar peneliti non Muslim yang, walaupun mereka [lakukan] sendiri, telah gagal total untuk menunjukkan bahwa teks Al-Qur’an telah dicampur tangani sedikit pun sesudah wafatnya Nabi Suci Islam (s.a.w.). Sebenarnya, ada banyak peneliti non Muslim yang telah merasa terdorong, sesudah penelitian luas mereka di bidang ini, untuk mengakui secara terbuka bahwa Al-Qur’an sungguh telah terpelihara dan terjaga dalam bentuknya yang asli. Misalnya, Sir William Muir dalam karyanya, The Life Of Muhammad, berkata: “Kita boleh, berdasarkan dugaan terkuat, yakin bahwa setiap ayat adalah susunan yang asli dan tak berubah dari Muhammad sendiri.” (P. XXVIII) Juga, “Sebaliknya ada setiap penjagaan, luar dan dalam, bahwa kita memiliki teks yang Muhammad sendiri berikan dan gunakan.” (P. XXVII) Kata Noldeke: “Sedikit kesalahan tulis mungkin ada, tapi Al-Qur’an dari Usman mengandung tak lain dari pada unsur-unsur asli, meskipun kadang-kadang dengan cara yang sangat aneh. Usaha-usaha para cendekiawan Eropa untuk membuktikan adanya tambahan-tambahan kemudian dalam Al-Qur’an telah gagal.” (Enc. Brit. 9th Edition under the word: Quran). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Agama Yang Sempurna &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan keistimewaan Islam dan pendakwaannya yang khas bahwa ajaran Al-Qur’an adalah lengkap dan sempurna dan sepenuhnya sesuai untuk menuntun manusia di segala zaman, hal ini, juga, disokong dengan dalil. Tidak mungkin dalam waktu yang singkat untuk membahas masalah ini secara rinci, dan saya terpaksa membatasi diri dengan satu rujukan ringkas pada beberapa petunjuk prinsip dasar dan contoh gambaran. Pertama, kita harus mengakui betapa Islam berhasil memenuhi tuntutan-tuntutan perubahan zaman, maka tidak perlu suatu perubahan dalam ajaran-ajarannya. Hal itu sungguh mengagumkan untuk mengkaji petunjuk praktis Islam dalam hubungan ini, yang darinya kini saya akan berikan satu contoh belaka di hadapan saudara-saudara: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Islam yang mengajarkan prinsip-prinsip dasar dan menghindarkan penjelasan terperinci sebab akan memerlukan banyak [keterangan] untuk mengatasi perubahan zaman dan suasana.&lt;br /&gt;Islam sepenuhnya sesuai dengan evolusi akal, kemasyarakatan dan politik manusia, dan ajaran-ajarannya memenuhi untuk segala suasana. Ia tidak hanya mengakui kenyataan bahwa terjadi perubahan dan perkembangan terus-menerus di kalangan bangsa-bangsa, melainkan juga kenyataan bahwa tidak semua kaum tetap dalam keadaan perkembangan mereka pada suatu masa. Misalnya, adalah mungkin bahwa bumi ini masih ada bagian yang dihuni oleh masyarakat Zaman Batu, dan sebagian kaum dan suku mungkin masih berada seribu tahun di belakang zaman kita, bahkan meskipun kita mengalami zaman yang sama. Akal, sosial dan politik mereka mungkin berasal dari zaman yang jauh di belakang. Saya yakin kita semua akan setuju bahwa akan sangat bodoh untuk memaksakan ideologi politik modern kepada penduduk asli Australia, atau Pigmi di Kongo (Afrika).&lt;br /&gt;Islam adalah satu agama yang menentramkan fitrat manusia dan memenuhi segala keperluan umat manusia. Tak perlu ada perubahan dalam ajaran-ajarannya, jika tidak ada juga perubahan mendasar dalam fitrat manusia, sebuah prospek yang dapat kita tolak sama sekali.&lt;br /&gt;Inilah beberapa segi dari prinsip-prinsip ajaran Islam; saya kini akan membahasnya agak lebih jauh supaya penyajian saya boleh dipahami lebih banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat Vs Riba &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam mengutuk lembaga riba (uang bunga) dalam segala bentuknya dan secara kuat mendorong penghapusannya secara keseluruhan. Dengan dorongan kuat ia menyediakan pengganti riba, untuk menggerakkan roda ekonomi, yang disebut zakat. Secara jelas, saya tidak dapat menjelaskan masalah ini dengan rinci dalam waktu yang tersedia, dan oleh sebab itu, hanya akan mengatakan beberapa patah kata atas dasar yang diambil oleh Al-Quran untuk menyajikan inti sari dari ajaran-ajarannya pada kesempatan penting ini. Zakat adalah satu sistem modal pajak, diwujudkan (diambil) dari orang-orang kaya. Selain dari memenuhi keperluan-keperluan negara, pajak ini dimaksudkan untuk memenuhi keperluan-keperluan kaum miskin. Dengan kata lain, sistem ini bukan hanya memenuhi tuntutan-tuntutan kerja pemerintah, melainkan juga menjamin pemenuhan tuntutan keperluan kesejahteraan sosial. Semua itu telah dikerjakan untuk meletakkan prinsip dasar, meninggalkannya kepada mereka dengan pengertian dan pemahaman untuk menetapkan perinciannya sesuai dengan keadaan yang timbul pada waktu yang ditetapkan. Al-Qur’an mengatakan bahwa dalam harta kekayaan mereka yang memiliki lebih banyak dari pada keperluan-keperluan pokok mereka, juga ada bagian untuk mereka yang tidak mampu memenuhi keperluan-keperluan pokok mereka dan dianggap tertekan dalam lingkungan mereka. Ini secara jelas menguatkan bahwa merupakan hak setiap orang untuk mendapatkan keperluan-keperluan dasar hidup tertentu yang disediakan untuknya di setiap kawasan dan masyarakat, dan mereka yang bertanggung jawab untuk memenuhi kewajiban ini adalah orang-orang yang memiliki lebih dari pada keperluan-keperluan pokok mereka, menyerahkan kepada negara untuk memutuskan pelaksanaannya, yang menjamin bahwa sistem itu seimbang, adil serta layak dan secara memadai memenuhi tujuan pokoknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk-Petunjuk Dalam Masalah Politik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan besar internasional lainnya yang kita hadapi hari ini adalah penetapan bentuk pemerintahan yang diberikan untuk satu kawasan atau Negara. Di sini, juga, prinsip-prinsip petunjuk Islam adalah begitu berkaitan, berbobot dan luwes (tidak kaku) sehingga kebenaran dan pengamalannya sendiri menjadi bukti nyata. Tak seorang pun dapat mengingkari bahwa satu bentuk pemerintahan tertentu dipertimbangkan sesuai atau tak sesuai hanya apabila diterapkan keadaan-keadaan tertentu, adalah khayalan untuk memikirkan bahwa satu sistem politik tertentu dapat memenuhi keperluan-keperluan setiap kaum untuk segala zaman. Inilah sebabnya mengapa Islam tidak mengkhususkan satu bentuk pemerintahan tertentu. Ia tidak menyajikan bentuk demokrasi atau sosialis, tidak pula mengusulkan kerajaan atau diktator. Bahkan memperluas cara-cara pemerintahan yang berdiri, Islam menerangkan prinsip pelaksanaan urusan-urusan politik dan pemerintahan dengan cara yang khas, dan menentukan syarat bahwa, tak masalah apa pun bentuknya, tanggung jawab pemerintah akan selalu diwajibkan dengan [bertindak] secara adil dan wajar, dengan simpati; selalu memenuhi dan menjunjung hak-hak asasi manusia. Maka, Al-Qur’an dari pada menekankan bagian pertama definisi demokrasi yang diterima secara umum, yakni, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“pemerintahan oleh rakyat:, Islam menekankan bahwa, apa pun bentuk pemerintahan, ia wajib dalam semua kejadian adalah: untuk rakyat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka apabila demokrasi disebutkan di antara bentuk-bentuk pemerintahan yang sungguh-sungguh menekankan kualitasnya. Ditekankan bahwa itu hendaknya tidak merupakan satu demokrasi palsu, tapi seharusnya bahwa orang-orang yang dipilih [jadi] pemimpin mereka adalah orang-orang yang mampu, berniat dengan segala kejujuran untuk memilih hanya mereka yang benar-benar layak dan mampu bertugas. Hal ini telah dijadikan prasyarat untuk pemilihan satu jabatan oleh Al-Qur’an. Dikatakan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, Allah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanat kepada yang berhak menerimanya dan ketika kalian memutuskan di antara manusia maka putuskanlah dengan adil.” (QS:4:59). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian, apa pun hasil pemerintahan yang mungkin berdiri, ia berkewajiban untuk memerintah dengan adil, tanpa membeda-bedakan ras, warna kulit, atau keturunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saya akan menyimpulkan secara singkat aturan-aturan yang berasal dari dasar-dasar yang diberikan dalam Al-qur’an mengenai sistem pemerintahan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pemerintahan terikat kewajiban untuk melindungi kehormatan, kehidupan dan harta benda rakyatnya.(1)&lt;br /&gt;Seorang penguasa wajib bertindak dengan adil, di antara pribadi-pribadi dan di antara masyarakat (2)&lt;br /&gt;Masalah-masalah kaum hendaknya ditetapkan dengan musyawarah.(3)&lt;br /&gt;Pemerintah wajib mengatur untuk memenuhi keperluan-keperluan pokok manusia: katakanlah, menyediakan makanan, pakaian dan tempat tinggal.(4)&lt;br /&gt;Masyarakat hendaklah disediakan lingkungan yang aman dan damai, serta kehidupan, harta dan kehormatan mereka dilindungi.(5)&lt;br /&gt;Sistem ekonomi hendaknya seimbang dan teratur.5)&lt;br /&gt;Pelayanan kesehatan hendaknya ditetapkan.5)&lt;br /&gt;Hendaklah ada kebebasan agama sepenuhnya.(6)&lt;br /&gt;Kaum yang ditaklukkan wajib diperlakukan dengan adil.(7)&lt;br /&gt;Tawanan perang hendaklah diperlakukan dengan cinta kasih.(8)&lt;br /&gt;Perjanjian dan persetujuan wajib dihormati.(9)&lt;br /&gt;Perjanjian-perjanjian berat sebelah tidak boleh dipaksakan atas pihak yang lemah.9)&lt;br /&gt;Warga-warga Muslim diwajibkan taat kepada pemerintah yang berkuasa. Satu-satunya kekecualian untuk aturan ini adalah pada perkara dimana pemerintah secara nyata menentang dan mencegah pengamalan kewajiban agama.(10)&lt;br /&gt;Jika timbul perbedaan dengan penguasa, maka hal ini harus dikembalikan dengan berpedoman pada prinsip yang ditetapkan Al-Qur’an dan Nabi Suci (s.a.w.). Tak seorang pun akan diarahkan dengan niat pribadi.(11)&lt;br /&gt;Masyarakat digalakkan untuk membantu penguasa dengan menyokong rancangan-rancangan yang bertujuan untuk meningkatkan kebaikan dan kesejahteraan umum. Adalah terlarang untuk melancarkan apa yang disebut gerakan non-koperasi.(12) Sama halnya, pemerintah juga diwajibkan untuk membantu dalam tindakan-tindakan yang bermanfaat, apakah secara perorangan atau kelompok, dan jangan menghalangi usaha-usaha semacam itu.&lt;br /&gt;Suatu Negara dilarang melakukan tindakan agresi terhadap Negara lain: pengadaan persenjataan diizinkan hanya untuk mempertahankan diri.(13)&lt;br /&gt;Konsep Keadilan Islam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kini akan mengutip beberapa contoh prinsip Islam yang penting yang mungkin perlu penekanan-penekanan khusus di dunia hari ini. Perhatian awal ajaran Islam pada persamaan dan keadilan. Agama-agama lain tidak menyajikan pengarahan yang mantap mengenai peraturan keadilan dan persamaan, dan bahkan tidak menyebutkan hal ini sama sekali, yaitu dalam istilah-istilah secara sederhana yang dapat diterapkan pada kita sekarang. Sebenarnya, sebagian dari ajaran-ajaran ini tampak bertentangan secara langsung dengan akal dan perasaan kita masa kini, dan seseorang tidak dapat menyimpulkan kecuali bahwa ajaran-ajaran ini telah rusak atau hanya dimaksudkan untuk tempat dan zaman tertentu. Sebagaimana ajaran Yahudi mengemukakan Tuhan hanya sebagai Tuhan bangsa Israel dengan mengecualikan semua manusia lainnya – maka tak heran, bahwa hal itu bahkan tidak sesuai dengan persoalan pokok Hak Asasi Manusia juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Hindu tampak sepenuhnya bahwa tidak hanya berlawanan dengan non Hindu tapi juga kepada kaum Hindu dari kasta rendah, mempersempit lingkup kasih sayang Tuhan kepada kelompok yang lebih kecil dari umat manusia. Ajaran Hindu menetapkan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika seorang Brahmana tak dapat mengembalikan pinjaman kepada seseorang dari kasta yang lebih rendah, yang lain tak punya hak menuntut pengembaliannya. Tapi jika seseorang dari kasta yang rendah tak dapat mengembalikan pinjaman yang diambil dari seorang Brahmana, dia akan dipekerjakan sebagai buruh untuk Brahmana itu hingga waktunya dia dapat membayar kembali hutang sepenuhnya.” (Manu Smriti 10:35). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi, dalam ajaran Yahudi kita gagal untuk melacak satu konsep keadilan terhadap seorang musuh. Dikatakan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Tuhan, Allah-mu, telah menyerahkan mereka kepadamu, sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka“.(Ulangan 7:2) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kini akan, dengan cara perbandingan, mengutip beberapa contoh ajaran Islam dalam bidang yang sama. Al-Qur’an memerintahkan – dan saya kutip: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kalian menetapkannya dengan adil. (QS 4:59).&lt;br /&gt;Jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun bertentangan dengan diri kalian sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabat kalian. (QS 4:136).&lt;br /&gt;Dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Sebab adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS 5:9).&lt;br /&gt;Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tapi jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS 2:191).&lt;br /&gt;Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS 8:62).&lt;br /&gt;Contoh lain saya ingin mengutip ajaran-ajaran Islam yang abadi berkenaan dengan pembalasan (hukuman) dan pemaafan (pengampunan). Ketika kita membandingkan ajaran-ajaran Islam dalam lingkup ini dengan apa yang ada pada agama-agama lain, kita seketika didorong oleh perintah Perjanjian Lama: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki“ (Keluaran 21:24). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa keraguan, penekanan pada pembalasan tidak hanya menyebabkan keheranan, melainkan juga menyedihkan hati kita. Bagaimanapun, saya mengutip contoh ini bukan untuk mengritik ajaran [agama] lain, tapi untuk menunjukkan bahwa, ketika memandang dengan cahaya prinsip Al-Qur’an, bahkan ukuran-ukuran yang begitu drastis kadang-kadang dibenarkan. Al-Qur’an, dengan demikian membantu kita dalam menyikapi pertentangan ajaran-ajaran dari agama-agama lain dengan jiwa simpati dan pengertian, yang juga merupakan ciri khas Islam yang istimewa. Menurut Al-Qur’an, penghapusan hukuman sepenuhnya hanya diputuskan untuk menghadapi keperluan-keperluan khusus pada masanya. Ini perlu untuk memberi hati kepada Bani Israil untuk membuat mereka berani menuntut hak-hak mereka sesudah mereka tetap menjadi korban dan diperbudak dalam masa yang panjang, dan sebagai hasilnya, menjadi penakut dan berubah menjadi kaum yang rendah diri. Secara nyata, dalam suasana demikian, akan tidak tepat untuk menekankan pemaafan, sebab itu hanya akan menjadikan Bani Israil tenggelam lebih dalam pada keadaan mereka dan tidak memberikan mereka rasa percaya diri dan keberanian untuk memutuskan ikatan belenggu keputus asaan. Ajaran ini, oleh sebab itu, benar dan tepat dalam suasana yang diperlukan, dan sungguh diberikan oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana. Sebaliknya, ketika kita renungkan Perjanjian Baru, kita jumpai bahwa ada pertentangan dengan Kitab Suci sebelumnya, ia menekankan pengampunan sampai suatu batas yang secara total menghilangkan hak Bani Israil untuk melakukan pembalasan apa pun juga. Dasar yang sebenarnya untuk hal ini adalah bahwa pengamalan ajaran terdahulu selama rentang masa yang panjang, Bani Israil telah menjadi keras hati dan ganas, dan ini hanya dapat diobati dengan mencabut hingga waktu tertentu hak mereka untuk melakukan pembalasan. Inilah sebabnya Nabi Isa (Yesus) memperingatkan mereka: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. “(Matius 5:38-40). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menetapkan dua ajaran yang saling berlawanan ini sebagai saling melengkapi, masing-masing sesuai untuk keadaan dan suasana zaman yang ditetapkan, dan oleh sebab itu, tidak dapat mendakwakan sebagai universal atau abadi. Dan hal ini sepenuhnya memberikan dalil, karena manusia masih akan berkembang maju melalui tahap-tahap perkembangan terdahulu dan belum menjadi satu kaum yang dapat dibebani satu hukum syariat terakhir dan universal. Kita percaya bahwa Islam adalah syariat terakhir itu dan menyajikan satu ajaran yang tidak dipengaruhi oleh tempat atau waktu yang kenyataannya dilukiskan oleh ajarannya sebagai bahan pertimbangan (renungan). Al-Qur’an mengatakan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan balasan suatu kejahatan adalah hukuman yang setimpal, tetapi barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik [kepada orang yang berbuat jahat] maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS:42:41). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Islam menggabungkan unsur-unsur terbaik kedua ajaran terdahulu, dengan tambahan penting bahwa pemaafan (pengampunan) diberikan jika menghasilkan suatu perubahan dan perbaikan orang yang bersalah itu, sehingga menjadi tujuan yang benar. Jika tidak, maka hukuman perlu dilakukan, tapi tidak melebihi batas kesalahan [yang dia lakukan]. Sesungguhnya, petunjuk ini sepenuhnya sesuai dengan fitrat manusia dan dapat diamalkan hari ini seperti juga ketika diwahyukan empat belas abad yang lampau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Keistimewaan Lainnya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan ciri-ciri khas Islam yang istimewa merupakan satu hal yang sangat luas, dan saya telah dapat menerangkan hanya beberapa segi yang telah saya pilih untuk penyajian ini. Waktu tak akan mengizinkan lebih lama dari pada menerangkan beberapa segi tertentu lainnya yang saya tidak ingin lewatkan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam meyakini Tuhan sebagai Pencipta alam semesta dan menghadirkan Ketunggalan-Nya dalam istilah-istilah yang jelas, berbobot dan menyentuh hati dan akal. Islam menyebut Tuhan sebagai Wujud Yang Sempurna, sumber segala kebaikan dan bebas dari segala kekurangan. Dia adalah Tuhan Yang Hidup menampakkan Kebesaran-Nya di setiap tempat dan Yang mencintai makhluk-makhluk-Nya dan mendengarkan permohonan-permohonan mereka. Tak satu pun dari sifat-Nya berhenti bekerja; Dia, oleh sebab itu, berhubungan dengan manusia seperti dahulu juga, dan tidak menghalangi jalan untuk mencapai Dia secara langsung.&lt;br /&gt;Islam meyakini bahwa tak ada pertentangan antara firman Tuhan dan perbuatan-Nya. Maka, hal itu membebaskan kita dari persaingan tradisional antara ilmu pengetahuan dan agama, dan tidak menuntut manusia untuk mempercayai sesuatu melampaui hukum alam yang ditetapkan-Nya. Dia menggalakkan kita untuk merenungkan [kejadian] alam dan menjadikannya bermanfaat, sebab segala sesuatu telah diciptakan untuk manfaat bagi manusia.&lt;br /&gt;Islam tidak membuat pendakwaan-pendakwaan kosong atau pun memaksa kita untuk mempercayai apa yang kita tidak pahami. Ia menyokong ajaran-ajarannya dengan dalil-dalil dan keterangan, memuaskan akal kita dan juga kedalaman ruh kita.&lt;br /&gt;Islam tidak berdasarkan pada mitos atau dongeng. Ia mengajak setiap orang untuk mengalami sendiri dan berpegang bahwa kebenaran selalu dapat dibuktikan, dalam satu atau lain bentuk.&lt;br /&gt;Kitab Suci Islam yang diwahyukan adalah khas, yang membedakannya dari seluruh agama lainnya. Meskipun mereka berusaha selama berabad-abad, para penentangnya tidak dapat menandingi bahkan sebagian kecil pun dari Kitab luar biasa ini. Kelebihannya tidak hanya terletak pada keunggulan sastranya, tetapi juga dalam kesederhanaan dan bobot ajaran-ajarannya. Al-Qur’an mengumumkan bahwa ia merupakan ajaran terbaik – satu pendakwaan yang tak dibuat oleh Kitab wahyu lainnya.&lt;br /&gt;Al-Qur’an mendakwakan bahwa ia menggabungkan ciri-ciri khas terbaik dari kitab-kitab suci sebelumnya, dan semua ajaran yang berlanjut dan berbobot telah dihimpun di dalamnya. Al-Qur’an mengatakan: ”Di sinilah perintah-perintah terakhir.” dan ”Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, [yaitu] kitab-kitab Ibrahim dan Musa.”&lt;br /&gt;Satu ciri khas Islam yang istimewa adalah bahwa Kitab Sucinya mempunyai satu bahasa yang hidup. Tidakkah luar biasa bahwa semua bahasa dari kitab-kitab suci lain telah mati atau tak digunakan lagi secara umum? Sebuah kitab yang hidup, tampaknya, haruslah ada dalam bahasa yang hidup dan tahan uji.&lt;br /&gt;Sebuah ciri khas lain dari Islam adalah bahwa Nabinya telah melalui setiap tahap yang dapat dibayangkan pengalaman manusia, bermula dari masa kanak-kanak yang penuh derita dan yatim serta berakhir sebagai penguasa kaum yang tak tergoyahkan. Kehidupan beliau telah tercatat dengan sangat rinci dan mencerminkan keimanan yang tak ada taranya kepada Tuhan serta pengorbanan yang dawam di jalan-Nya. Beliau menjalani kehidupan yang sempurna dan menarik dengan amal perbuatan, dan meninggalkan contoh-contoh amal perbuatan yang sempurna dalam setiap segi kehidupan manusia. Hanya inilah yang tepat dan layak, sebab beliau merupakan tafsir Al-Qur’an yang hidup, dan dengan contoh pribadi menerangi jalan manusia untuk masa-masa mendatang – suatu peranan yang tidak dipenuhi oleh nabi-nabi lain secara memuaskan.&lt;br /&gt;Satu ciri khas Islam lainnya adalah banyak nubuatan (khabar ghaib)-nya yang telah terpenuhi sepanjang zaman dan telah menguatkan kembali iman para pengikutnya tentang keberadaan Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Hidup. Proses ini berlanjut hingga hari ini, seperti yang disaksikan dengan penemuan tubuh yang diawetkan dari Fir’aun yang mengejar Musa (a.s.) dan kaum beliau keluar dari Mesir. Contoh segar lainnya dari Nubuatan Al-Qur’an adalah mengenai pengembangan alat-alat penghancur yang baru, dimana api akan dikunci dalam partikel-partikel kecil yang akan mengembang dan meningkat sebelum meledak dengan satu kekuatan yang akan menyebabkan gunung-gunung hancur.&lt;br /&gt;Satu ciri khas lain dari Islam adalah, bahwa ketika mengatakan mengenai akhirat dan hidup sesudah mati, ia juga menubuatkan kejadian-kejadian masa depan di dunia ini, yang penggenapannya menguatkan iman para pengikutnya akan kehidupan sesudah mati.&lt;br /&gt;Islam adalah menonjol dari agama-agama lain dalam menyediakan aturan-aturan yang berbobot dalam urusan-urusan pribadi, masyarakat dan antar bangsa. Petunjuk-petunjuk ini sesuai untuk segala suasana yang dapat dibayangkan dan termasuk hubungan antara tua dan muda, majikan dan buruh, antara anggota-anggota keluarga, antara kawan dan rekan, dan bahkan antara musuh-musuh. Perintah dan prinsip yang ditetapkan adalah benar-benar universal dan telah teruji sepanjang zaman.&lt;br /&gt;Islam mengumumkan persamaan penuh di kalangan umat manusia, tanpa memandang perbedaan kasta, keturunan dan warna kulit. Satu-satunya ukuran kemuliaan yang diterima adalah ketakwaan, bukan keturunan, kekayaan, ras ataupun warna kulit. Al-Qur’an mengatakan: ”Sungguh, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS 49:14). Dan juga: ”Dan barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga.” (QS 40:41).&lt;br /&gt;Islam menyajikan batasan (pengertian) baik dan jahat yang membedakannya dari agama-agama lain. Ia tidak memandang hasrat-hasrat alami manusia sebagai kejahatan; ia hanya menyebut pemenuhan hasrat yang berlebihan dan tak layak itu sebagai kejahatan. Islam mengajarkan bahwa kecenderungan-kecenderungan alami kita hendaknya diatur dan disalurkan supaya menjadi konstruktif dan bermanfaat bagi masyarakat.&lt;br /&gt;Islam tidak hanya menjadikan wanita berhak mewarisi harta, melainkan juga memberikan mereka hak yang setara dengan laki-laki, tetapi tidak dengan cara yang akan melecehkan kekhususan jasmani mereka dan tanggung jawab khusus mereka dalam melahirkan dan mengasuh anak-anak.&lt;br /&gt;Agama Perdamaian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, saya akan memberikan kepada semua pencari perdamaian kabar gembira bahwa Islam sajalah agama yang menjamin perdamaian di semua lingkungan dan pada semua lapisan; pribadi, masyarakat, ekonomi, bangsa dan antar bangsa. Islam sajalah yang menyandang nama, yang makna harfiahnya adalah ’damai’, dan orang yang menjadi seorang Muslim, tidak hanya memasuki suasana damai bagi dirinya tapi juga menjamin hal itu untuk yang lain, dan menghindari perbuatan-perbuatan yang dapat membawa kekacauan dan kerusuhan. Nabi Suci (s.a.w.) bersabda bahwa seorang Muslim adalah dia yang tidak menyakiti orang lain dengan perkataan dan perbuatannya (Bukhari – Kitabul Iman). Pidato Rasulullah (s.a.w.) yang disampaikan secara singkat sebelum kewafatan beliau, dan sesudah melaksanakan apa yang kemudian disebut sebagai Haji Perpisahan, merupakan piagam perdamaian abadi bagi seluruh umat manusia. Islam menggalakkan perdamaian bukan hanya di antara manusia, tapi juga antara manusia dan Pencipta mereka, sehingga tidak hanya orang-orang lain selamat dari perkataan dan perbuatan seorang Muslim, melainkan dia juga selamat dari kemurkaan dan kutukan Tuhan – sebagai balasan yang diterima akibat berbuat pelanggaran. Maka, kedamaian seorang Muslim berbuah di dunia ini dan juga berlanjut ke akhirat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Islam, jika diikuti oleh bangsa-bangsa di dunia ini, sepenuhnya mampu menyelamatkan mereka dari kekacauan dan kehancuran. Islam merupakan agama yang hidup dan menyatakan mampu untuk menempatkan hubungan manusia dengan Tuhan dengan rencana yang sama seperti di masa lalu. Islam tidak menganggap wahyu dan hubungan dengan Tuhan sebagai sesuatu [yang dapat terjadi hanya di] masa lalu. Ia mempercayai bahwa derajat-derajat ruhani yang dilimpahkan kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan, di atas mereka semua, Nabi Islam (s.a.w.), adalah masih terbuka dan menjadi tanda untuk mereka yang mengharapkan hubungan yang dekat dengan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jama’at Ahmadiyah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jama’at Ahmadiyah dalam Islam meyakini bahwa pendakwaan-pendakwaan ini telah sempurna di zaman kita dalam wujud pendirinya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (a.s.), yang lahir tahun 1835 di kampung terpencil Qadian di India. Beliau dikaruniakan dengan kasih sayang Ilahi untuk menempuh jalan kesalehan dan kesucian, dan, secara tegas mengikuti ajaran-ajaran Islam, diberkati dengan hubungan yang dekat dengan Allah Ta’ala. Beliau menerima wahyu Ilahi, yang juga berbentuk khabar-khabar ghaib kepada beliau, yang tak gagal penggenapannya bahkan berlanjut sesudah masa hidup beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan petunjuk Ilahi, beliau mendirikan Jama’at Ahmadiyah dalam Islam tahun 1889, dan, meninggalkan sekelompok pengikut yang mukhlis dan bersemangat sejumlah beberapa ratus ribu orang, beliau wafat tahun 1908. Kerja beliau berlanjut, dan Jama’at selama ini telah dipimpin oleh para penerus beliau yang terpilih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menggambarkan tugas beliau, pendiri Jama’at kita telah bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku telah diutus bahwa aku harus membuktikan bahwa Islam sajalah agama yang hidup. Aku telah diberkati dengan kekuatan-kekuatan ruhani yang menyebabkan mereka dari agama-agama lain dan juga orang-orang dari antara kita yang buta secara ruhani putus asa. Aku dapat memperagakan kepada setiap penentang bahwa Al-Qur’an merupakan mukjizat dalam ajaran-ajarannya, ilmu-ilmu pencerahannya, kandungannya yang dalam dan pendekatannya, dan dalam pengungkapannya yang sempurna.” (Anjam-i-Atham (Ruhani Khazain) jil. 11, hal. 345-346). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau selanjutnya bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Akulah cahaya bagi zaman kegelapan ini. Barang siapa mengikuti aku, dia akan diselamatkan dari jurang dan lubang-lubang yang telah dipersiapkan syaitan bagi orang-orang yang berjalan dalam kegelapan. Dia telah mengutus aku agar aku menuntun dunia ke arah Tuhan Hakiki dengan damai dan lemah lembut. Serta supaya aku menegakkan kembali keunggulan-keunggulan akhlak Islam. Dan Dia telah menganugrahkan pula tanda samawi kepadaku untuk memberikan ketentraman kepada para pencari kebenaran.” (Almasih Di Hindustan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kini mengakhiri ceramah saya dengan sebuah kutipan lain dari tulisan-tulisan Pendiri Jama’at Ahmadiyah, yang merupakan satu seruan kepada seluruh manusia: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku ingin meyakinkan para pendengar bahwa Tuhan – yang dengan menemukan-Nya timbul keselamatan dan kebahagiaan abadi bagi manusia – sama sekali tidak akan dapat ditemukan tanpa mengikuti Al-Qur’an Suci….Siapa saja yang di dalam ruhnya terdapat kedambaan untuk meraih kebenaran, bangkit dan carilah. Aku mengatakan dengan sebenarnya, jika di dalam ruh timbul gejolak pencarian sejati dan di dalam hati timbul kehausan hakiki, maka orang-orang hendaknya mencari jalan ini dan sibuk di dalam upaya untuk menemukannya. Akan tetapi, dari arah mana jalan ini akan terbuka dan dengan obat apa tirai ini akan tersingkap? Aku pastikan kepada para pencari kebenaran bahwa hanya Islam sajalah yang memberikan khabar suka tentang jalan ini. Sedangkan umat-umat lain sejak lama telah memasang segel penutup ilham Ilahi. Jadi, pahamilah dengan seyakin-yakinnya bahwa segel ini bukanlah berasal dari Tuhan, melainkan suatu dalih yang diciptakan oleh manusia karena dia sendiri tidak menerimanya. Dan pahamilah dengan seyakin-yakinnya bahwa sebagaimana kita tidak mungkin dapat melihat tanpa mata, atau mendengar tanpa telinga, atau bicara tanpa lidah, demikian pula kita tidak mungkin dapat melihat Wajah Sang Kekasih Tersayang itu tanpa Al-Qur’an. Dahulu aku muda, sekarang sudah tua, namun aku tidak menemukan seorang pun yang telah berhasil meneguk minuman dari piala makrifat yang nyata itu tanpa melalui mata air suci ini.” (Filsafat Ajaran Islam). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa keraguan, seruan ini merupakan pesan yang memberi kehidupan kepada setiap jiwa yang mendambakan kebenaran hakiki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, Allah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanat kepada yang berhak menerimanya (QS 4:59).&lt;br /&gt;Dan jika kalian menghakimi di antara manusia, hakimilah dengan adil (QS 4:59).&lt;br /&gt;Dan urusan-urusan mereka diputuskan dengan musyawarah (QS 42:39). &lt;br /&gt;Sesungguhnya ada [jaminan] bagi engkau bahwa engkau tidak akan kelaparan di dalamnya, tidak pula engkau akan telanjang. Dan engkau tidak akan kehausan di dalamnya, tidak pula engkau akan terkena panas matahari. (QS 20:119-120).&lt;br /&gt;Dan ketika dia berpaling [dari engkau], dia berbuat kerusakan di bumi dan menghancurkan ladang dan ternak. Dan Allah tidak menyukai kerusuhan/kerusakan. (QS 2:206).&lt;br /&gt;Tak ada paksaan dalam agama. (QS 2:257). &lt;br /&gt;Dan janganlah kebencian terhadap kaum lain membuat kalian tidak berlaku adil. Berbuatlah adil, sebab adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS 5:9). &lt;br /&gt;Tidak layak bagi seorang nabi mengambil tawanan perang hingga dia terlibat dalam perang yang sesungguhnya di bumi. (QS 8:68). &lt;br /&gt;Maka sesudah itu bebaskanlah mereka sebagai belas kasihan atau dengan mengambil tebusan – hingga perang meletakkan bebannya (selesai). (QS 47:5).&lt;br /&gt;Taatlah kepada Allah dan Rasul dan orang-orang yang memerintah di antara kalian (QS 4:60). &lt;br /&gt;Dan jika kalian berselisih mengenai sesuatu hal, maka kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya. (QS 4:60).&lt;br /&gt;Dan saling menolonglah dalam kebaikan dan takwa. Tapi jangan saling menolong dalam dosa dan pelanggaran. (QS 5:3).&lt;br /&gt;Dan janganlah engkau tujukan pandangan kepada apa yang Kami anugrahkan kepada beberapa golongan dari mereka dari nikmat dunia. (20:132).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27 Agustus 2006 – Oleh Hazrat Mirza Tahir Ahmad &lt;br /&gt;Penterjemah  : Muharim Awaludin &lt;br /&gt;Sumber : www.ahmadiyya.or.id &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-455346036732378690?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/455346036732378690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=455346036732378690' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/455346036732378690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/455346036732378690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2008/02/beberapa-ciri-khas-islam-yang-istimewa.html' title='Beberapa Ciri Khas Islam Yang Istimewa'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-2115603815107163550</id><published>2008-02-16T18:26:00.000-08:00</published><updated>2008-02-16T19:33:50.143-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhammad'/><title type='text'>Revolusi Akbar melalui Rasulullah SAW</title><content type='html'>Argumentasi pertama yang dikemukakan Al-Qur’an agar manusia mau menerimanya sebagai Kitab yang benar dan Rasul-Nya sebagai Rasul yang benar serta untuk membuktikan bahwa ia memang berasal dari Allah yang Maha Kuasa, ialah Kitab dan Rasul itu sepatutnya muncul pada saat dunia sedang dilanda kegelapan dimana manusia sudah menjadi penyembah berhala sebagai pengganti Ketauhidan Ilahi, mengikuti jalan kejahatan sebagai pengganti kesucian, tenggelam dalam keangkaraan dan meninggalkan keadilan, telah menjadi demikian bodoh sehingga karenanya amat membutuh¬kan seorang Pembaharu dalam diri seorang Rasul. &lt;br /&gt;Kemudian Rasul tersebut akan meninggalkan dunia ini ketika ia telah menyelesaikan seluruh tugas pembaharuannya dengan cara yang indah dan terpelihara dari segala musuhnya ketika ia sedang melaksanakan tugasnya. Ia itu sewajarnya muncul sebagai seorang pelayan dan berangkat di bawah perintah majikannya. Singkat kata, sewajarnya ia akan muncul di saat ketika manusia membutuhkan seorang Pembaharu samawi dan membutuhkan bimbingan sebuah Kitab, untuk kemudian dipanggil pulang berdasarkan wahyu yang diturunkan setelah ia selesai menanam pohon pembaharuan yang tertanam teguh dan telah muncul revolusi akbar dalam keruhanian manusia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami dengan bangga hati menyatakan bahwa kecemerlangan yang menegakkan argumentasi ini yang mendukung kebenaran Al-Qur’an dan penghulu kita Nabi Suci s.a.w. nyatanya tidak ada terdapat pada Nabi-nabi lain atau pun Kitab-kitab lain. Pengakuan dari Nabi Suci s.a.w. adalah bahwa beliau diutus kepada seluruh umat manusia dan karena itu Al-Qur’an menyalahkan secara keseluruhan manusia yang terlibat dalam paganisme, kejahatan dan kefasikan sebagaimana ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan apa yang telah diusahakan oleh tangan manusia”. (S.30 Ar-Rum:42)&lt;br /&gt;untuk kemudian mengemukakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maha beberkat Dia yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi sekalian alam”. (S.25 Al-Furqan:2).&lt;br /&gt;Dengan kata lain, ditugaskan kepada Nabi Suci s.a.w. untuk mengingatkan umat manusia bahwa karena kelakuan mereka serta aqidah yang salah, mereka itu dianggap sebagai sangat berdosa dalam pandangan Allah yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “Pemberi peringatan”. dalam ayat ini berkaitan dengan seluruh umat manusia dan jika dikatakan bahwa peringatan ini bagi para pendosa dan pelaku kejahatan, maka berarti Al-Qur’an menyatakan kalau seluruh dunia ini telah menjadi busuk dimana setiap orang telah meninggalkan jalan kebenaran dan amal saleh. Yang namanya peringatan dengan sendirinya hanya ditujukan kepada mereka yang fasik dan bukan kepada mereka yang berperilaku baik. Semuanya memahami bahwa yang diberi peringatan adalah mereka yang jahat dan tidak beriman, karena demikian itulah cara Allah s.w.t. mengutus Nabi untuk membawa kabar suka bagi umat yang saleh dan sebagai “Pemberi peringatan”. kepada mereka yang jahat. Jika dikatakan bahwa seorang Nabi ditugaskan sebagai “Pemberi peringatan”. bagi seluruh dunia maka patut disadari kalau berdasarkan wahyu yang diturunkan kepada Nabi tersebut bahwa seluruh dunia telah terlibat dalam tindakan yang menyimpang dari kebenaran. Pernyataan seperti ini tidak terdapat dalam Kitab Taurat berkenaan dengan Nabi Musa a.s. dan tidak juga dalam Kitab Injil berkenaan dengan Nabi Isa a.s. dan hanya bisa ditemukan di dalam Al-Qur’an saja. &lt;br /&gt;Ketika difirmankan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu dahulu telah berada di pinggir lubang api”. (S.3 Ali Imran:104),&lt;br /&gt;yang dimaksud adalah sebelum kedatangan Nabi Suci s.a.w. umat manusia telah berada di tubir neraka.&lt;br /&gt;Umat Yahudi dan Kristiani diingatkan bahwa mereka telah menyelewengkan Kitab-kitab Allah dan telah membawa manusia kepada segala rupa kejahatan dan perilaku salah. Adapun para penyembah berhala diingatkan bahwa mereka telah menjadi penyembah bebatuan, manusia, bintang-bintang serta unsur-unsur alam sehingga mereka melupakan sang Maha Pencipta yang Sejati. Begitu juga dengan mereka yang memakan harta anak yatim, membunuh anak-anak serta mencurangi serikat usahanya sendiri dan melakukan pelanggaran melampaui batas dalam segala hal. Difirmankan bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya”. (S.57 Al-Hadid:18)&lt;br /&gt;mengandung arti bahwa seluruh dunia ini sudah mati dan sekarang akan dihidupkan kembali oleh Allah s.w.t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, Kitab Suci Al-Qur’an menyatakan bahwa seluruh dunia sudah berperilaku salah, manusia sudah menjadi penyembah berhala, umat Yahudi dan Kristiani menjadi akar dari segala keburukan dan berbagai macam dosa. Al-Qur’an memberikan gambaran kerusakan dunia yang padanannya tidak ada pada masa lain kecuali hanya pada masa Nabi Nuh a.s. Kami hanya mengutip beberapa ayat saja dan mengharapkan para pembaca sudi kiranya mempelajari sendiri Al-Qur’an secara tekun guna menemukan bagaimana Al-Qur’an ini telah menyatakan secara tegas bahwa seluruh dunia saat itu sudah dalam keadaan busuk dan mati serta manusia sudah berada di tubir neraka. Kitab ini mengingatkan Nabi Suci s.a.w. untuk memberi peringatan kepada seluruh dunia bahwa mereka itu berada dalam keadaan yang gawat.&lt;br /&gt;Telaah atas Kitab Suci Al-Qur’an mengungkapkan bahwa seluruh dunia sedang tenggelam dalam paganisme, kedurhakaan, segala bentuk dosa dan terbenam dalam sumur kejahatan. Memang benar bahwa Kitab Injil ada menyatakan kalau umat Yahudi telah menyimpang, tetapi tidak ada menyebut bahwa seluruh dunia sudah membusuk dan mati karena dipenuhi dengan paganisme dan perbuatan dosa. Nabi Isa a.s. pun tidak ada memberi¬kan pengakuan bahwa beliau adalah Rasul bagi seluruh dunia. Beliau hanya berbicara kepada umat Yahudi yang merupakan bangsa yang kecil jumlahnya dan tinggal di desa-desa dalam jarak pandang Nabi Isa a.s. Adapun Al-Qur’an mengemukakan mengenai kematian seluruh dunia dan menguraikan kondisi buruk dari semua bangsa. Umat Yahudi memang keturunan dari Nabi-nabi dan menyatakan beriman kepada Kitab Taurat tetapi perilaku mereka tidak sejalan dengan Kitab tersebut, bahkan ketika di masa Nabi Suci s.a.w. aqidah mereka pun sudah melenceng jauh. Ribuan manusia lalu menjadi atheis dan ribuan lagi yang menyangkal adanya wahyu, sedangkan segala macam perilaku dosa menjadi marak di muka bumi. Nabi Isa a.s. ada menyatakan perilaku jahat umat Yahudi yang merupakan bangsa yang jumlahnya kecil dengan tujuan memberitahukan bahwa umat Yahudi saat itu sedang membutuhkan seorang Pembaharu. Namun argumentasi yang kami ajukan berkaitan dengan Hadzrat Rasulullah s.a.w. ialah beliau itu datang di saat dunia dalam keadaan rusak dan dipanggil kembali setelah menegakkan pembaharuan secara sempurna. Kedua aspek ini dikemukakan secara jelas dalam Al-Qur’an guna menarik perhatian manusia mengenai hal tersebut, dan yang pasti hal seperti ini tidak ada ditemukan dalam Kitab Injil atau pun Kitab-kitab lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumentasi tersebut dikemukakan sendiri oleh Al-Qur’an dan Kitab ini menyatakan bahwa kebenaran dirinya dikuatkan oleh kedua aspek tadi. Kitab ini muncul ketika perilaku manusia telah menyimpang dan aqidah-aqidah palsu telah merebak ke seluruh muka bumi sehingga dunia jadi melenceng jauh dari kebenaran dan realitas Ketauhidan Ilahi. Penegasan Al-Qur’an tentang hal ini diteguhkan oleh hasil studi komparative sejarah. Ada banyak bukti-bukti berupa pengakuan orang-orang yang menyatakan bahwa masa itu begitu penuh dengan kegelapan dimana setiap orang cenderung menyembah makhluk lainnya sehingga ketika Al-Qur’an menuduh mereka telah durhaka dan berdosa, tidak ada satu pun yang bisa membuktikan kebersihan dirinya. Perhatikanlah betapa tegasnya Allah yang Maha Perkasa berbicara tentang kejahatan para ahli Kitab serta tentang kematian seluruh dunia. &lt;br /&gt;Dinyatakan dalam ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahwa mereka hendaknya tidak menjadi seperti orang-orang yang diberi Kitab sebelum mereka, melainkan karena masa penganugrahan karunia Allah kepada mereka diperpanjang bagi mereka, hati mereka menjadi keras dan kebanyakan mereka menjadi durhaka. Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kepadamu supaya kamu dapat mengerti”. (S.57 Al-Hadid:17-18).&lt;br /&gt;Ayat ini mengandung arti bahwa para muminin diingatkan agar jangan berperilaku seperti para ahli Kitab yang telah memperoleh Kitab-kitab Ilahi sebelum mereka tetapi karena lamanya perjalanan waktu lalu hati mereka menjadi keras dan sebagian besar dari mereka lalu mendurhaka dan menjadi jahat. Mereka diingatkan bahwa dunia sudah mati dan sekarang akan dihidupkan kembali. Inilah tanda-tanda tentang perlunya Al-Qur’an serta kebenarannya agar kalian mau mengerti.&lt;br /&gt;Sekarang kalian tentunya menyadari bahwa kami tidak ada mengajukan argumentasi ini dari hasil pikiran kami sendiri, melainkan Al-Qur’an sendirilah yang mengemukakannya dimana setelah mengajukan kedua aspek dari argumentasi lalu menyatakan kalau semua itu merupakan tanda-tanda yang mendukung kebenaran Nabi Suci s.a.w. dan Kitab Al-Qur’an itu sendiri dengan tujuan agar kalian menyadari dan menemukan realitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua dari argumentasi tadi bahwa Hadzrat Rasulullah s.a.w. akan dipanggil pulang dari dunia kembali kepada Tuhan beliau pada saat beliau telah selesai melaksanakan tugas, juga dinyatakan secara tegas dalam Kitab Al-Qur’an pada ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini telah Kusempurnakan agamamu bagi manfaatmu dan telah Kulengkapkan nikmat-Ku atasmu dan telah Kusukai bagimu Islam sebagai agama”. (S.5 Al-Maidah:4)&lt;br /&gt;yang mengandung arti bahwa dengan diwahyukannya Al-Qur’an dan telah direformasinya umat manusia maka keimananmu telah sempurna serta karunia Ilahi telah disempurnakan bagimu dan Tuhan telah memilih Islam sebagai agamamu. Ayat ini merupakan indikasi kalau pewahyuan Al-Qur’an sudah selesai dan Kitab ini telah membawa perubahan yang luar biasa dalam hati manusia dengan kesempurnaan petunjuk dan bahwa karunia Ilahi telah disempurnakan bagi umat Islam.&lt;br /&gt;Inilah kedua aspek yang menjadi tujuan dari diutusnya seorang Rasul. Ayat tersebut menegaskan bahwa Hadzrat Rasulullah s.a.w. tidak akan meninggalkan hidup ini sampai Islam telah disempurnakan melalui diwahyukannya Al-Qur’an serta pemberian petunjuk yang patut bagi umat Islam. Semua itu merupakan tanda Ilahi yang tidak akan diberikan kepada seorang Nabi palsu. Sesungguh¬nya sebelum Nabi Suci s.a.w. tidak ada Nabi lain yang berhasil memper¬lihatkan bahwa Kitab yang dibawanya telah selesai dengan sempurna dan umatnya telah memperoleh petunjuk yang lengkap serta musuh-musuhnya telah dikalahkan sebagaimana Islam yang unggul di segala penjuru.&lt;br /&gt;Di tempat lain dinyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila tiba pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat orang-orang masuk ke dalam agama Allah dengan berduyun-duyun, maka sanjunglah kesucian Tuhan engkau dengan puji-pujian-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia berulang-ulang kembali dengan rahmat-Nya”. (S.110 An-Nashr:2-4).&lt;br /&gt;Berarti bahwa pertolongan dan kemenangan yang telah dijanjikan telah datang dan engkau telah melihat, wahai Rasul, bahwa manusia berduyun-duyun masuk ke dalam Islam, maka agungkan dan pujilah Tuhan karena sebenarnya apa yang telah terjadi itu bukanlah hasil kerjamu sendiri melainkan berkat rahmat dan karunia Allah s.w.t. Karena itu sembahlah Allah dan beristighfar karena Dia selalu kembali bersama rahmat-Nya. Jika para Nabi diperintahkan untuk beristighfar, tidaklah berarti bahwa mereka memohon pengampunan sebagaimana laiknya orang yang berdosa. Pada keadaan para Nabi tersebut, beristighfar merupakan pengakuan dari ketiadaan arti diri, kerendahan hati, kelemahan dan cara terhormat untuk memohon pertolongan. Sebagaimana ayat-ayat itu menegaskan bahwa tujuan dari kedatangan Hadzrat Rasulullah s.a.w. telah terpenuhi dimana beribu-ribu orang telah memeluk Islam, tetapi juga merupakan indikasi telah dekatnya waktu wafat beliau (beliau wafat dalam waktu satu tahun setelah diterimanya wahyu ini), maka wajar kalau wahyu ini telah memberikan kegembiraan kepada Nabi Suci s.a.w. tetapi juga menimbulkan kekhawatiran tentang bagaimana masa depan pengairan dari taman yang telah ditanaminya. Karena itu Allah yang Maha Agung untuk mencairkan kekhawatiran tersebut telah menyuruh Hadzrat Rasulullah s.a.w. agar beliau beristighfar. Pengertian dari “maghfirat”. adalah menyelimuti seseorang agar selamat dari segala bencana. Arti kata “mighfar”. adalah ketopong atau helm. Istighfar dengan demikian berarti agar bencana yang ditakuti atau dosa yang diperkirakan, akan ditutupi dan dicegah sebelum mewujud. Dalam keadaan ini kata itu ditujukan untuk memberikan ketenteraman hati kepada Nabi Suci s.a.w. agar beliau tidak perlu berduka atas kelangsungan agama Islam karena Allah s.w.t. tidak akan membiarkannya hancur serta akan selalu kembali dengan rahmat-Nya dan akan menahan segala kerugian yang ditimbulkan oleh adanya kelemahan manusia. (Noorul Qur’an, no. 1, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 9, hal. 333-356, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Sudah menjadi bukti yang nyata akan kebenaran Kenabian dari Hadzrat Rasulullah s.a.w. dan kesahihan dari Kitab Suci Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Nabi Suci s.a.w. diutus ketika dunia ini sedang sangat membutuhkan seorang Pembaharu Akbar dan bahwa beliau tidak wafat dan tidak juga terbunuh sampai telah selesai menegakkan kebenaran di bumi. Ketika beliau muncul sebagai seorang Nabi, beliau langsung menunjukkan kalau memang wujudnya amat diharap¬kan oleh dunia dan beliau langsung menegur umat manusia yang telah tenggelam dalam paganisme, kefasikan dan perbuatan dosa. Dalam Kitab Suci Al-Qur’an banyak ditemui peringatan demikian seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maha beberkat Dia yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi sekalian alam”. (S.25 Al-Furqan:2)&lt;br /&gt;yang merupakan peringatan bagi umat manusia yang telah rusak aqidahnya dan telah melenceng jauh cara hidupnya. Ayat ini menjadi bukti dari pernyataan Al-Qur’an bahwa Hadzrat Rasulullah s.a.w. muncul ketika seluruh dunia dan semua umat manusia telah rusak akhlaknya, dimana mereka yang semula melawan akhirnya menerima pernyataan beliau, tidak dengan berdiam diri tetapi dengan pengakuan melalui baiat. Dari sini jelas kalau Nabi Suci s.a.w. datang ketika saatnya memang sudah harus muncul seorang Nabi yang sempurna dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita lalu mentelaah kapan saatnya beliau dipanggil pulang, Al-Qur’an secara eksplisit menjelaskan bahwa kepulangan beliau adalah setelah selesai menuntaskan tugasnya. Beliau dipanggil pulang oleh Allah s.w.t. setelah turunnya ayat yang menyatakan bahwa aqidah pendidikan bagi umat Islam telah sempurna dan semua wahyu yang berkaitan dengan itu telah diturunkan. Tidak hanya itu, juga dinyatakan bahwa pertolongan Allah s.w.t. sudah digenapkan dan beribu manusia telah menganut Islam. Juga diwahyukan bahwa hati mereka telah dipenuhi dengan keimanan dan ketakwaan sehingga mereka menjauhi kedurhakaan dan dosa. Akhlak mereka telah mengalami perubahan luar biasa yang mempengaruhi perilaku dan jiwa mereka. Kemudian dikemukakan dalam surah An-Nashr bahwa tujuan dari Kenabian beliau telah terpenuhi dan Islam telah mencapai kemenangan di hati manusia. Hadzrat Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa surah ini mengindikasikan kewafatan beliau. Beliau kemudian melaksanakan ibadah Haji dan menyebut¬nya sebagai Haji Wada (perpisahan) dimana beliau menyampaikan khutbah panjang dari punggung seekor unta. Beliau meminta kesaksian mereka yang hadir bahwa beliau telah menyampaikan keseluruhan firman Tuhan yang ditugaskan kepada beliau untuk disampaikan kepada mereka. Setiap dari mereka yang hadir menyatakan dengan suara lantang bahwa benar beliau telah menyampaikan kepada mereka. Hadzrat Rasulullah s.a.w. kemudian menunjuk ke langit dan mengatakan: “Engkau menjadi saksi, ya Allah.”. Beliau kemudian mengingatkan mereka secara panjang lebar karena beliau tidak akan ada lagi bersama mereka pada tahun yang akan datang. Beliau kemudian kembali ke kota Medinah dan wafat pada tahun berikutnya. Turunkanlah berkat dan salam Engkau, ya Allah, atas diri beliau. Semua indikasi ini ada dikemukakan dalam Al-Qur’an dan dibenarkan oleh sejarah agama Islam.&lt;br /&gt;Adakah dari antara penganut agama Kristen, Yahudi atau Arya yang bisa menunjukkan bukti-bukti bahwa Pembaharu mereka masing-masing memang datang pada saat dibutuhkan, dan pulang kembali ke Tuhan-nya setelah tugas mereka selesai, disamping para lawannya mau mengakui kekeliruan cara hidup serta ketidak-salehan mereka? Aku merasa yakin sekali bahwa tidak ada satu pun umat lain dari luar agama Islam yang akan mampu memberikan bukti demikian. Yang diketahui pasti, Nabi Musa a.s. diutus untuk kehancuran Firaun dan menyelamat¬kan umat beliau dari penindasan serta membimbing mereka ke arah yang benar. Adalah benar bahwa beliau memang berhasil menyelamatkan umatnya dari penindasan Firaun namun tidak mampu menyelamatkan mereka dari godaan Syaitan, dan beliau juga tidak berhasil membawa mereka ke tanah yang dijanjikan. Keturunan Bani Israil ternyata tidak bisa memurnikan batin mereka di tangan beliau dan mereka berulangkali melakukan kedurhakaan sampai kemudian Nabi Musa a.s. wafat ketika mereka masih dalam keadaan demikian. Sepanjang menyangkut pengikut Nabi Isa a.s. cukuplah Kitab Injil menjadi saksi atas kondisi mereka, tidak perlu lagi penjelasan tambahan. Bukanlah suatu hal yang tertutup adanya kenyataan bahwa betapa sedikitnya umat Yahudi yang menerima Nabi Isa a.s. padahal beliau sengaja diutus kepada mereka. Jika harkat Kenabian Nabi Isa dinilai dari tolok ukur jumlah pengikut maka Kenabian beliau tidak akan memenuhi syarat. (Noorul Qur’an, no. 1, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 9, hal. 358-369, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Hadzrat Rasulullah s.a.w. dibangkitkan ketika seluruh dunia sedang tenggelam dalam paganisme, kedurhakaan dan penyembahan makhluk, dimana semua orang telah meninggalkan aqidah yang murni dan melupakan jalan yang lurus. Penyembahan berhala berkembang luas di tanah Arab, adapun bangsa Parsi menyembah api, sedangkan di India disamping penyembahan berhala ditambah lagi dengan penyembahan berbagai macam makhluk lainnya. Banyak sudah buku ditulis mengenai hal ini dimana berpuluh-puluh manusia yang telah dipertuhan sebagai bagian dari penyembahan Avatar16.&lt;br /&gt;Berdasarkan pendapat dari Pendeta Mr. Bourt17 dan beberapa penulis Inggris lainnya, tidak ada agama yang demikian rancunya sebagaimana agama Kristen dimana agama ini sudah jatuh kredibilitasnya akibat penyelewengan dan aqidah salah para ulama atau pendetanya. Dalam aqidah Kristen tidak hanya satu atau dua orang saja yang dipertuhan tetapi juga beberapa benda lainnya.&lt;br /&gt;Kedatangan Nabi Suci s.a.w. pada saat kegelapan demikian dimana situasi menuntut munculnya seorang Pembaharu agung guna memberikan petunjuk Ilahi yang akan mencerahkan dunia dengan Ketauhidan Ilahi serta menghapus paganisme dan penyembahan makhluk yang merupakan induk dari segala kemudharatan, merupakan bukti yang jelas bahwa beliau adalah Rasul Allah yang benar dan jauh mengungguli Rasul-rasul lainnya. Kebenaran beliau ditegaskan oleh kenyataan bahwa dalam zaman jahiliah demikian, norma hukum alam dan kebiasaan Allah s.w.t. mengharuskan adanya seorang Pembimbing yang sempurna.&lt;br /&gt;Sudah menjadi norma abadi dari Tuhan semesta alam bahwa ketika penderitaan dunia telah mencapai puncaknya, rahmat Ilahi akan turun untuk menanggulanginya. Ketika bumi dilanda kekeringan berkepanjangan yang mengancam kelanjutan kehidupan manusia, maka Allah yang Maha Pengasih akan menurunkan hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat beratus dan beribu-ribu manusia telah mati karena suatu wabah, maka akan turun pertolongan berupa udara atau iklim yang kemudian dibersihkan oleh unsur-unsur alam atau ditemukannya suatu jenis pengobatan baru. Ketika suatu bangsa terperangkap dalam penindasan tirani, akan muncul seorang penguasa yang adil dan pengasih. Begitu pula saat manusia melupakan jalan Allah dan meninggalkan Ketauhidan dan penyembahan Wujud-Nya, maka Allah yang Maha Luhur akan mengaruniakan wawasan sempurna kepada salah seorang hamba-Nya dimana setelah memberkati yang bersangkutan dengan firman-Nya, lalu mengutusnya untuk membimbing manusia agar ia memperbaiki kebusukan yang telah merasuk. Sang Maha Pengasih yang memelihara serta mendukung eksistensi dunia ini tidak akan menahan atau membatalkan sifat Rahmat-Nya.&lt;br /&gt;Setiap sifat-sifat Wujud-Nya akan memanifestasikan dirinya pada saatnya yang tepat. Logika sehat telah membuktikan bahwa untuk mengatasi setiap bentuk bencana maka sifat Allah s.w.t. yang relevan akan mewujud pada saat itu. Sejarah telah membuktikan dan juga dibenarkan oleh para penentang serta dipertegas oleh Al-Qur’an bahwa pada saat diutusnya Hadzrat Rasulullah s.a.w. memang benar bencana telah mencapai puncaknya karena manusia di seluruh dunia telah meninggalkan jalan Ketauhidan dan ketulusan. Adapun mengenai ibadah kepada Tuhan, semua orang mengakui bahwa hanya Hadzrat Rasulullah s.a.w. saja yang telah memperbaiki kerusakan akhlak dan menyelamatkan dunia dari kegelapan paganisme dan penyembahan makhluk, lalu menegakkan Ketauhidan Ilahi sehingga tidak bisa diragukan lagi bahwa beliau itu seorang Pembimbing yang benar dari Allah yang Maha Kuasa. Argumentasi ini dikemukakan Al-Qur’an dalam ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengirimkan rasul-rasul kepada semua umat yang sebelum engkau tetapi syaitan menampakkan perbuatan mereka indah bagi mereka. Maka ia menjadi pemimpin bagi mereka pada hari itu dan bagi merekalah azab yang pedih. Dan Kami tidak menurunkan kepada engkau kitab ini kecuali supaya engkau dapat menjelaskan kepada mereka mengenai apa yang mereka telah menimbulkan perselisihan-perselisihan dan supaya menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Allah telah menurunkan air dari langit, lalu Dia menghidupkan dengan itu bumi setelah matinya. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada tanda bagi kaum yang mau mendengarkan kebenaran”. (S.16 An-Nahl:64-66).&lt;br /&gt;Kami ingin mengingatkan kembali bahwa tiga unsur yang telah kami kemukakan yang menghasilkan kesimpulan bahwa Hadzrat Rasulullah s.a.w. adalah seorang Pembimbing yang benar, ada dikemukakan secara indah dalam ayat di atas. Pertama adalah tentang kalbu manusia yang telah menyimpang dan terperangkap dalam kekeliruan selama berabad-abad, ditamsilkan sebagai tanah yang kering dan mati sedangkan firman Tuhan ditamsilkan sebagai hujan yang turun dari langit, karena memang merupakan kaidah abadi bahwa rahmat Ilahi akan selalu menyelamatkan umat manusia dari kehancuran. Kaidah ini tidak terbatas kepada air hujan phisik saja tetapi juga hujan ruhani yang akan turun pada masa kesulitan yaitu ketika kefasikan telah merata. Dalam keadaan demikian rahmat Tuhan pasti akan berfungsi untuk mengatasi bencana yang mempengaruhi kalbu manusia. Ayat ini lalu menunjuk kepada unsur kedua yaitu bahwa seluruh dunia telah rusak sebelum kedatangan Nabi Suci s.a.w. Unsur ketiga merujuk kepada kenyataan bahwa mereka yang mati ruhaninya telah dihidupkan kembali oleh firman Tuhan.&lt;br /&gt;Kesimpulan yang bisa ditarik dari sini ialah bahwa semua itu merupakan tanda kebenaran Kitab Suci Al-Qur’an dimana para pencari kebenaran digiring untuk menyimpulkan bahwa Kitab Suci Al-Qur’an memang benar dari Allah s.w.t. Karena argumentasi ini juga menegakkan kebenaran dari Hadzrat Rasulullah s.a.w. maka disimpulkan juga bahwa beliau itu memang kenyataannya mengungguli semua Nabi-nabi lainnya karena Nabi Suci s.a.w. harus menangani seluruh dunia dimana tugas yang beliau emban sebenarnya setimpal dengan karya dari seribu atau dua ribu Nabi-nabi lainnya. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 112-116, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Zaman pada saat kedatangan Hadzrat Rasulullah s.a.w. memang membutuhkan seorang Pembaharu Samawi yang akbar yang membawa petunjuk Ilahi dimana ajaran yang beliau bawa nyatanya adalah hal yang benar dan amat dibutuhkan serta mencakup segala hal yang diperlukan manusia. Ajaran beliau demikian efektif sehingga berhasil menarik ratusan ribu hati manusia kepada kebenaran dan menanamkan dalam pikiran mereka bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah s.w.t.&lt;br /&gt;لااله الله محمد رسو ل الله&lt;br /&gt;Beliau telah menyempurnakan tujuan paripurna dari Kenabian yaitu beliau telah mengajarkan prinsip-prinsip keselamatan ruhani sedemikian sempurna sehingga tidak ada ajaran Nabi-nabi lain yang bisa menimbalinya. Semua kenyataan tersebut mendorong orang untuk yakin bersaksi bahwa sesungguhnya Hadzrat Rasulullah s.a.w. adalah seorang pembimbing yang benar dari Allah s.w.t.&lt;br /&gt;Tidak ada keselamatan bagi seseorang yang karena kefanatikan dan kedegilannya lalu menyangkal semua tanda-tanda kebenaran dan ketakwaan yang mewujud begitu sempurna dalam diri Hadzrat Rasulullah s.a.w. yang tidak akan ditemui pada Nabi-nabi lainnya. Orang-orang seperti itu bahkan akan menyangkal keberadaan Tuhan, jika pun misalnya hanya untuk menyangkal kebenaran dan ketakwaan Hadzrat Rasulullah s.a.w. Biarlah mereka yang berani menyangkal, maju ke muka dan memperlihatkannya kepada kami. &lt;br /&gt;(Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 112-114, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Nabi kita Hadzrat Rasulullah s.a.w. adalah seorang Pembaharu akbar dalam penyampaian kebenaran dan telah mengembalikan kebenaran yang selama itu hilang kepada dunia. Tidak ada Nabi lain yang bisa menimpali keberhasilan beliau dalam mencerahkan dunia yang semula gelap gulita menjadi terang benderang akibat kehadiran beliau. Beliau tidak wafat sebelum bangsa kepada siapa beliau turun, telah menanggalkan jubah paganisme mereka dan mengenakan jubah Ketauhidan Ilahi. Tidak itu saja, nyatanya mereka telah berhasil mencapai tingkat keruhanian yang tinggi serta juga berlaku takwa dan saleh yang tidak ada padanannya di bagian lain dunia. Keberhasilan demikian belum pernah dicapai Nabi lainnya selain beliau. Adalah suatu kenyataan bahwa Hadzrat Rasulullah s.a.w. dibangkitkan di masa saat dunia tenggelam dalam kegelapan yang membutuhkan seorang Pembaharu akbar. Beliau meninggalkan dunia ini di saat ketika ratusan ribu orang telah meninggalkan paganisme dan penyembahan berhala serta beralih kepada jalan yang lurus dan Ketauhidan Ilahi. Pembaharuan yang demikian sempurna itu adalah hasil karya beliau yang telah mengajar mereka yang tadinya berada di tingkatan hewaniah menjadi manusia seutuhnya. Dengan kata lain, beliau itu telah merubah binatang-binatang liar menjadi manusia untuk kemudian menjadi¬kan mereka sebagai manusia terdidik, lalu merubah mereka menjadi hamba-hamba Allah serta meniupkan keruhanian ke dalam diri mereka guna menciptakan hubungan antara mereka dengan Tuhan yang Maha Benar. Mereka ada yang dijagal di jalan Allah seperti domba dan diinjak-injak di bawah kaki seperti semut, namun tidak ada dari mereka yang menanggalkan keimanannya dan siap maju terus menghadapi aral rintangan.&lt;br /&gt;Tidak diragukan bahwa Nabi Suci s.a.w. adalah Adam yang kedua, bahkan Adam yang sesungguhnya di bidang penegakan keruhanian melalui mana nilai-nilai luhur manusia mencapai kesempurnaannya dimana semua kemampuan manusia diarahkan pada fungsi yang sepatutnya dan tidak ada fitrat manusia yang tersisa tidak terbina. Kenabian berakhir dengan beliau tidak saja karena beliau adalah Nabi terakhir dalam skala waktu, tetapi juga karena semua kesempurnaan Kenabian telah mencapai puncaknya pada wujud beliau. Mengingat beliau itu adalah manifestasi sempurna dari sifat-sifat Ilahi maka norma-norma beliau memiliki sifat keagungan dan keindahan. Karena itu beliau disebut sebagai Muhammad dan juga Ahmad, serta tidak ada kekikiran dalam Kenabian beliau karena merupakan kemaslahatan bagi seluruh dunia. &lt;br /&gt;(Khutbah Sialkot berjudul “Islam,”. Sialkot, Mufid Aam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 206-207, London, 1984).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-2115603815107163550?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/2115603815107163550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=2115603815107163550' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/2115603815107163550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/2115603815107163550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2008/02/revolusi-akbar-melalui-rasulullah-saw.html' title='Revolusi Akbar melalui Rasulullah SAW'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-8707054041884079288</id><published>2008-02-16T18:25:00.001-08:00</published><updated>2008-02-16T19:34:22.890-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi ISLAM'/><title type='text'>Muhammad saw penghulu dan pembimbing</title><content type='html'>Nabi yang bernama Muhammad itu,&lt;br /&gt;Kami selalu berpegang kepada jubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihnya yang masuk tubuh melalui susu ibu kami,&lt;br /&gt;Menjadi nyawa kami yang bertahan sampai maut nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah Nabi terbaik dan makhluk tersempurna,&lt;br /&gt;Kenabian menjadi sempurna dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami minum dari sumber mata airnya,&lt;br /&gt;Siapa yang telah kenyang, masih akan dipuaskan olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun wahyu atau ilham yang dikaruniakan kepada kami&lt;br /&gt;Adalah karenanya, bukan karena diri kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui wujudnya kami diberkati bimbingan dan kesempurnaan,&lt;br /&gt;Tanpa dirinya, tak mungkin kami bertemu dengan yang Maha Abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti ajarannya tergurat di hatiku,&lt;br /&gt;Apa pun yang berasal daripadanya adalah imanku.&lt;br /&gt;(Siraj Munir, Ruhani Khazain, vol. 12, hal. 95).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-8707054041884079288?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/8707054041884079288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=8707054041884079288' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/8707054041884079288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/8707054041884079288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2008/02/muhammad-saw-penghulu-dan-pembimbing.html' title='Muhammad saw penghulu dan pembimbing'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-1562350054538158078</id><published>2008-01-20T18:11:00.000-08:00</published><updated>2008-01-20T18:12:05.980-08:00</updated><title type='text'>Matahari Terbit dari barat</title><content type='html'>&lt;object width="425" height="355"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/sbui3rCnky0&amp;rel=1"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/sbui3rCnky0&amp;rel=1" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="355"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-1562350054538158078?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/1562350054538158078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=1562350054538158078' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/1562350054538158078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/1562350054538158078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2008/01/matahari-terbit-dari-barat.html' title='Matahari Terbit dari barat'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-7081927203708789541</id><published>2007-12-17T23:10:00.000-08:00</published><updated>2007-12-17T23:11:09.960-08:00</updated><title type='text'>Tanda-tanda Abadi Kebenaran Islam</title><content type='html'>Sifat-sifat agama Islam sebagaimana telah kami kemukakan bukanlah sesuatu yang dibuktikan dengan hal-hal di masa lalu saja seperti sisa-sisa reruntuhan makam-makam kuno. Islam bukanlah agama yang mati dimana orang bisa mengatakan bahwa semua berkatnya telah tertinggal di masa lalu dan tidak ada apa-apa lagi tersisa di masa depan. Sifat utama dari Islam adalah berkat yang selalu mengikutinya yang tidak hanya terpaku di masa lalu tetapi juga memberikan berkat di masa kini. Dunia ini selalu membutuhkan berkat dan tanda-tanda samawi. Dunia membutuhkannya tidak hanya di masa lalu tetapi juga di masa kini. Seorang manusia yang lemah tanpa daya yang terlahir buta selalu membutuhkan keterangan tentang kerajaan surga dan ia perlu melihat beberapa tanda dari eksistensi dan kekuasaan Tuhan, kepada Siapa ia beriman. Tanda-tanda yang diberikan di masa lalu tidak mencukupi bagi masa kini, karena mendengar saja tidak sama dengan melihat sendiri, mengingat dengan berjalannya waktu maka kejadian-kejadian masa lalu berubah bentuk menjadi hikayat. Setiap abad dimulai dengan dunia yang baru. Karena itu Tuhan dalam agama Islam, yang adalah Tuhan yang sebenarnya, memanifes&amp;shy;tasikan tanda-tanda baru bagi setiap dunia yang baru. Di awal abad yang baru, khususnya pada awal abad dimana manusia sudah sangat jauh melenceng dari agama, integritas dan yang terselubung kegelapan, Dia akan membangkitkan seorang Nabi substitusi yang dalam cerminan daripada sifatnya akan diperlihatkan sebagai seorang Nabi. Sosok demikian itu menunjukkan kepada dunia segala kemuliaan dari Nabi panutan dimana ia menjadi pengikutnya, dan mengalah&amp;shy;kan lawan melalui kebenaran, penampakan daripada realitas serta penggagalan kepalsuan. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 245-247,  London, 1984).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-7081927203708789541?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/7081927203708789541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=7081927203708789541' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/7081927203708789541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/7081927203708789541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2007/12/tanda-tanda-abadi-kebenaran-islam.html' title='Tanda-tanda Abadi Kebenaran Islam'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-6082684657327557595</id><published>2007-12-17T23:02:00.000-08:00</published><updated>2007-12-17T23:07:25.909-08:00</updated><title type='text'>Perlunya Agama Islam</title><content type='html'>Adalah bodoh untuk membayangkan bahwa beberapa hal yang dikemukakan dalam kitab Injil sebagai agama. Semua hal yang yang esensial bagi kesempurnaan manusia harus tercakup dalam ruang lingkup suatu agama. Agama harus mencakup semua hal yang menuntun manusia dari kondisi alamiah liarnya kepada kondisi kemanusiaan yang sebenarnya, dan dari sana membawa manusia ke tingkatan hidup yang bijak, setelah itu membawanya lagi kepada kehidupan yang sepenuhnya merupakan pengabdian kepada Allah s.w.t. (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 13, hal. 89, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Tidak ada keraguan bahwa kitab Injil tidak ada memberikan jalan bagi pemeliharaan pohon kemanusiaan. Kita ini turun di bumi dengan berbagai kemampuan dan sifat, dimana setiap kemampuan itu layaknya digunakan pada tempatnya yang tepat. Injil hanya menekankan kepada sifat “rendah hati”. dan “kelembutan.”. Sifat rendah hati dan pengampun memang merupakan sifat yang baik jika digunakan pada saat yang tepat, tetapi jika digunakan pada setiap keadaan maka hal itu akan membawa kerusakan dahsyat. Kehidupan budaya manusia terdiri dari saling pengaruh mempengaruhinya berbagai bentuk tabiat yang menuntut bahwa kita harus menggunakan sifat-sifat kita secara bijak pada saat yang tepat. Memang benar bahwa pada beberapa keadaan, sifat pengampun dan tabah akan memberikan manfaat material dan spiritual kepada orang yang menyakiti kita. Tetapi pada keadaan lain, penggunaan sifat tersebut hanya akan menggalakkan si pendosa tersebut untuk melakukan kejahatan yang lebih besar dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah. Kehidupan keruhanian kita dalam banyak hal menyerupai kehidupan phisikal. Berdasarkan pengalaman kita mengetahui bahwa memakan satu jenis makanan atau obat saja sepanjang waktu akan merusak kesehatan kita. Jika kita membatasi diri untuk suatu waktu panjang hanya menyantap makanan yang bersifat dingin dan sama sekali tidak makan sesuatu yang menghangat&amp;shy;kan maka kita akan mudah terkena beberapa jenis penyakit seperti kelumpuhan, Parkinson atau epilepsi. Sebaliknya kalau kita membatasi diri pada unsur-unsur makanan yang hangat saja, dimana air minum pun harus panas, maka kita juga cenderung akan terkena beberapa jenis penyakit lainnya. Karena itu untuk menjaga kesehatan tubuh, kita harus menjaga keseimbangan di antara panas dan dingin, di antara yang keras dan yang lunak dan antara dinamika gerakan dengan istirahat. Menyangkut kesehatan ruhani, kita juga harus mengikuti ketentuan yang sama. Sesungguhnya tidak ada sifat yang sendirinya secara murni bisa dikatakan buruk. Adalah penyalahgunaan daripada sifat itu yang menjadikannya buruk. Sebagai contoh, sifat iri hati dikatakan buruk, tetapi jika kita menggunakannya untuk tujuan yang baik seperti berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan, maka sifat iri demikian menjadi akhlak yang mulia. Begitu juga dengan sifat-sifat akhlak lainnya. Penyalah&amp;shy;gunaan sifat itu akan menjadikannya merusak, tetapi pemanfaatan&amp;shy;nya pada saat yang tepat dengan cara yang layak akan menjadikannya bermaslahat. Karena itu merupakan kesalahan untuk memotong cabang-cabang lain dari pohon kemanusiaan dan hanya menekankan pada “pengampunan”. dan “ketabahan”. saja. Karena itulah ajaran tersebut telah gagal dalam tujuannya dan para penguasa di negeri-negeri Kristiani harus menerapkan norma-norma hukum untuk penghukuman mereka yang bersalah. Kitab Injil yang sekarang ini tidak bisa menghasilkan penyempurnaan harkat kemanusiaan. Sebagaimana bintang-bintang mulai memudar dan kemudian menghilang dengan munculnya sang surya, begitu juga halnya dengan Injil dibanding dengan Al-Qur’an. (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 13, hal. 66-67, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Telaah atas berbagai agama di dunia mengungkapkan bahwa setiap agama, kecuali Islam, mengandung berbagai kesalahan. Hal ini bukan karena sumbernya adalah salah, tetapi karena setelah turunnya agama Islam,  Allah s.w.t. tidak lagi mendukung agama-agama lain sehingga agama-agama itu menjadi seperti taman-taman yang tidak lagi mempunyai tukan kebun untuk merawat, mengairi dan memeliharanya sehingga secara berangsur taman itu jadi melapuk. Pohon-pohon buah mereka jadi meranggas dan mandul, sedangkan semak dan duri merayap meliputi semuanya. Agama-agama itu kehilangan semangat keruhanian yang menjadi dasar dari semua agama, dan tidak ada lagi yang tersisa selain kata-kata usang. Allah s.w.t. tidak membiarkan hal seperti itu terjadi pada agama Islam karena Dia menginginkan agar taman ini harus subur berkembang selamanya. Dia telah mengatur agar di tiap abad ada yang mengurus pengairannya sehingga taman itu tidak menjadi terlantar. Meski pun pada awal setiap abad ketika diutus seorang hamba Allah untuk memperbaiki, orang-orang yang bodoh selalu menentang dan menolak perubahan atas apa pun yang telah menjadi kebiasaan mereka, namun Allah yang Maha Kuasa tetap bersiteguh dengan cara-Nya. Pada akhir zaman ini pun yang merupakan saat pertempuran terakhir di antara petunjuk kebenaran dan kebatilan, di awal abad keempatbelas karena melihat bagaimana umat Islam menjadi tidak perduli dan acuh, Allah s.w.t. kembali menunaikan janji-Nya dan menyiapkan kebangkitan kembali Islam. Hanya saja agama-agama lain tidak pernah disegarkan kembali setelah kedatangan Yang Mulia Rasulullah s.a.w. sehingga agama-agama itu mati jadinya. Tidak ada lagi kehidupan keruhanian dalam agama-agama itu dan kebatilan berakar di tengah mereka seperti halnya debu yang berakumulasi di pakaian yang tidak pernah lagi dicuci. Orang-orang yang tidak mempunyai perhatian atas keruhanian dan tidak terbebas dari noda eksistensi keduniawian, malah membuat agama-agama itu membusuk sehingga sama sekali tidak lagi mirip dengan keadaan pada awal ketika agama tersebut diturunkan. Ambillah sebagai contoh agama Kristen, betapa murninya agama itu pada awalnya. Ajaran yang diberikan Nabi Isa a.s. memang tidak sesempurna ajaran Al-Qur’an karena saat itu belum waktunya manusia menerima wahyu ajaran yang sempurna dan mereka belum cukup kuat untuk menanggungnya, namun ajaran tersebut amat baik dan cocok untuk zamannya. Ajaran itu juga menuntun manusia kepada Tuhan yang sama sebagaimana disuratkan oleh Taurat, hanya saja setelah Nabi Isa a.s., tuhannya umat Kristen menjadi tuhan yang lain yang tidak ada disebut dalam Taurat dan tidak dikenal sama sekali oleh Bani Israil.&lt;br /&gt;Keimanan kepada tuhan yang baru ini telah menjungkir-balikkan sistem Taurat dan semua ajaran yang terkandung di dalamnya karena pelepasan dari dosa dan upaya pencapaian keselamatan haqiqi serta kehidupan yang suci, menjadi kacau balau. Keselamatan dan pelepasan dari dosa sekarang menjadi bergantung pada kepercayaan bahwa Yesus menerima penyaliban sebagai penebusan umat manusia dan bahwa beliau adalah Tuhan itu sendiri. Banyak sekali kaidah-kaidah tetap dari Taurat yang telah diubah dan agama Kristen menjadi begitu berubah sehingga jika misalnya Yesus turun lagi ke dunia maka beliau tidak akan lagi mengenalinya sebagai ajaran yang dibawanya. Ajaib sungguh bahwa manusia yang diperintahkan untuk mentaati Taurat, lalu tiba-tiba mengesampingkan ajaran-ajarannya. Sebagai contoh, meski pun Injil menyatakan bahwa Taurat melarang makan daging babi, namun hal itu sekarang diperkenankan. Begitu juga Injil menyatakan bahwa walaupun Taurat mengharuskan khitan, tetapi sekarang hal itu malah dilarang. Hal-hal seperti ini dan apa yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Isa a.s. malah menjadi bagian dari agama Kristen. Hanya saja, karena memang sudah menjadi bagian dari rencana Allah s.w.t. untuk menegakkan sebuah agama yang universal yang bernama Islam, maka semua kelapukan dari agama Kristen menjadi indikasi dari kemunculan Islam. Begitu juga diketahui bahwa agama Hindu sudah melapuk jauh sebelum kedatangan agama Islam dimana di seluruh bagian India, penyembahan berhala sudah menjadi hal yang umum. Bagian dari pembusukan itu berasal dari aqidah bahwa Tuhan yang sebenarnya tidak tergantung kepada apa pun dalam pelaksanaan sifat-sifat-Nya, dalam pandangan bangsa Arya dianggap amat bergantung kepada yang lainnya dalam penciptaan alam semesta. Aqidah seperti ini melahirkan aqidah salah lainnya yang mengatakan bahwa semua partikel massa dan semua jiwa bersifat abadi dan ada berwujud tanpa diciptakan. Kalau saja mereka mempelajari secara mendalam sifat-sifat Tuhan, maka mereka tidak akan mungkin mengatakan hal demikian. Jika dalam pelaksanaan sifat-sifat abadi-Nya dalam kegiatan penciptaan ternyata Tuhan harus bergantung kepada yang lain seperti halnya manusia, lalu bagaimana mungkin Dia dalam sifat mendengar dan melihat menjadi tidak terlalu bergantung sebagaimana halnya manusia. Manusia tidak bisa mendengar tanpa perantaraan udara dan tidak bisa melihat tanpa bantuan cahaya. Apakah Tuhan juga bergantung pada cahaya dan udara untuk melihat dan mendengar? Jika Dia tidak bergantung demikian maka yakinlah bahwa Dia itu tidak bergantung kepada apa pun dalam melaksanakan sifat-sifat-Nya ketika kegiatan penciptaan.&lt;br /&gt;Adalah salah sama sekali menyangka bahwa Dia bergantung kepada yang lain dalam pelaksanaan atribut-atribut-Nya. Adalah salah sama sekali melekatkan atribut kelemahan manusia kepada Tuhan, seperti dikatakan bahwa Dia tidak mampu menciptakan sesuatu dari ketiadaan sama sekali. Keadaan manusia itu terbatas adanya sedangkan keadaan Tuhan itu tanpa batas. Atas dasar kekuasaan Wujud-Nya, Dia itu bisa saja menciptakan makhluk lainnya. Inilah yang menjadi inti pokok dari konsep ke-Tuhan-an. Dia itu tidak bergantung kepada apa pun dalam pelaksanaan sifat-sifat-Nya karena jika demikian adanya maka Dia bukanlah Tuhan. Tidak ada satu pun yang bisa menghalangi-Nya. Jika Dia bermaksud menciptakan langit dan bumi secara seketika, maka Dia akan bisa melakukannya. Dari antara umat Hindu yang memiliki selain pengetahuan juga menganut keruhanian serta tidak bergantung kepada logika dasar, mereka ini tidak mengimani Tuhan sebagaimana yang dikemukakan bangsa Arya saat ini. Semua ini adalah akibat dari ketiadaan keruhanian di dalam agama tersebut.&lt;br /&gt;Semua pembusukan agama, beberapa di antaranya bahkan tidak layak disebut dan bertentangan dengan kesucian kemanusiaan, merupakan indikasi perlunya ada agama Islam. Setiap orang yang berpikir pasti mengakui bahwa sejenak sebelum turunnya Islam, agama-agama lain telah membusuk dan kehilangan keruhaniannya. Hadzrat Rasulullah s.a.w. adalah seorang pembaharu akbar dalam bidang kebenaran yang telah mengembalikan kebenaran kepada dunia. Tidak ada Nabi lain yang bisa menyamai beliau dalam kebanggaan bahwa beliau menjumpai dunia ini dalam kegelapan dan dengan turunnya beliau lalu merubah kegelapan menjadi Nur. (Khutbah Sialkot berjudul “Islam,”. Sialkot, Mufid  Aam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 203-206,  London, 1984).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-6082684657327557595?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/6082684657327557595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=6082684657327557595' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/6082684657327557595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/6082684657327557595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2007/12/perlunya-agama-islam.html' title='Perlunya Agama Islam'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-811885445129577533</id><published>2007-12-06T18:39:00.001-08:00</published><updated>2007-12-06T18:39:55.448-08:00</updated><title type='text'>Lagi! Tentang AHMADIYAH</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tentang AHMADIYAH, ternyata masyarakat kita terlalu mudah dibohongi dan diadu domba. MAsyarakat Kita lupa, khilaf atau memang masyarakat kita bodoh? Naudzubillah!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini persoalan AHMADIYAH kembali menyeruak pemberitaan, setelah tahun 2005 lalu markas komunitas AHMADIYAH di parung-Bogor di datangi masa yang mengatas namakan  Gerakan Umat Islam. Persoalan AHMADIYAH yang di Indonesia sudah berbadan hukum sejak tahun 1925 memang seakan menjadi persoalan yang tidak pernah habis-habisnya.&lt;br /&gt;Bagi kita yang berakal, berilmu atau minimal berpendidikan, tidak sulit mencari tahu tentang AHMADIYAH dari ribuan referensi yang tersedia baik media cetak, radio, televisi hingga internet.&lt;br /&gt;Ragam informasi dari yang tahu, yang sok tahu atau dari orang yang pura-pura tahu tentang AHMADIYAH terus mewarnai pemberitaan baik yang resmi maupun yang tidak resmi. Namun seperti tadi saya sampaikan, akan lebih afdol kalau kita melihat sendiri apa dan bagaimana AHMADIYAH itu dari sumbernya.&lt;br /&gt;Di Internet, dari situs resminya di Indonesia di http://www.ahmadiyya.or.id atau situs Internasional AHMADIYAH di http://www.alislam.org , informasi tentang AHMADIYAH sangat membingungkan. Bukan bingung karena informasi yang ada di situs AHMADIYAH, namun karena semua yang kita dan masyarakat kita dengar tentang AHMADIYAH sangat bertolak belakang dengan semua yang ada disitus resmi AHMADIYAH.&lt;br /&gt;Dari situs AHMADIYAH, dan situs-situs lain yang memberitakan AHMADIYAH terutama di mancanegara, AHMADIYAH sangat gencar membela ISLAM. Orang AHMADI (sebutan bagi anggota AHMADIYAH) sangat berani, hebat dan tidak mengenal lelah dalam membela Islam dari serangan-serangan yang mendiskreditkan ISLAM, Nabi Muhammad saw dan semua tentang Islam. Buku-buku AHMADIYAH yang bisa didownload dari situs www.alislam.org atau bisa request di info@ahmadiyya.or.id , justru lebih banyak berisi tentang ke Islaman dan Nabi Muhammad saw serta bagaimana menyikapi hidup secara Islami berdasarkan derasnya arus dari barat yang menghujam bahkan merusak sendi-sendi kehidupan kita semua.&lt;br /&gt;Yang dapat saya simpulkan dari ajaran AHMADIYAH adalah :&lt;br /&gt;1. AHMADIYAH memiliki rukun Iman dan rukun Islam yang sama dengan golongan-golongan Islam lainnya. Bahkan dari pelaksanaannya, AHMADI sangat dalam dan konsisten. Kalau anda perhatikan, seperti sunnah Rasul saw, lebih banyak laki-laki AHMADI yang berjenggot dari pada yang tidak. Bahkan kalau kita mau melihat dengan jelas, sangat sedikit wanita AHMADI yang tidak mengenakan JILBAB. Masya ALLAH. Luar biasa. Dan sekali lagi, kalau kita mau melihat dengan hati yang bersih dan jujur, orang AHMADI memiliki hidup yang sangat sederhana meski mereka adalah orang yang sangat berada.&lt;br /&gt;2. Kiblat AHMADIYAH tetap ke Ka’bah&lt;br /&gt;3. Kitab suci AHMADIYAH adalah Al-Qur’an. Tulisan-tulisan AHMADIYAH tentang Al-Qur’an dan keindahan tentang Al-Qur’an belum saya pernah lihat tandingannya hingga saat ini. Coba anda download di www.alislam.org atau minta dikirimi melalui info@ahmadiyya.or.id&lt;br /&gt;4. Orang AHMADI sangat rajin shalat tahajjud dan berpuasa.&lt;br /&gt;Lalu? Kenapa ada informasi yang sangat berbeda tentang AHMADIYAH? Apakah informasi tersebut benar atau hanya salah informasi atau apakah AHMADIYAH yang saat ini sedang dibicarakan banyak orang dan ramai dipemberitaan adalah AHMADIYAH yang berbeda? Lalu dari mana informasi-informasi tentang AHMADIYAH yang sangat aneh dan sangat berbeda dari yang sebenarnya?&lt;br /&gt;Memang ada yang berbeda dari mereka, yaitu tentang pemahaman IMAM MAHDI. Kalau seluruh umat Islam masih menunggu atau bahkan ada yang tidak mau menunggu IMAM MAHDI, AHMADIYAH mempercayai kalau IMAM MAHDI sudah datang. Dialah yang mendirikan komunitas atau JAMAAH AHMADIYAH yang saat ini sedang kita dengar. Salahkah mereka mempercayai IMAM MAHDI sudah datang? Bagi saya itu adalah HAK orang-orang AHMADIYAH yang mempercayai kalau IMAM MAHDI sudah datang. Masalah benar tidaknya IMAM MAHDI versi AHMADIYAH, kita sebagai orang yag berpikir, tidak bodoh dan tidak mau dibodoh-bodohi pasti bisa mencari sumber informasi untuk mencari tahu apakah IMAM MAHDI versi AHMADIYAH adalah benar atau tidak. Atau seharusnya bagi kita yang mempercayai ALLAH SWT hidup dan ADA dan memperhatikan kita, sebaiknya kita tanyakan pada ALLAH mengenai IMAM MAHDI tersebut melalui prosedur yang sudah ditetapkan NYA kalau kita dalam kebingungan yaitu shalat ISTIKHARAH. ALLAH pasti akan menjawabnya. Apalagi IMAM MAHDI adalah atau sebutan bagi utusan NYA. IMAM MAHDI nya AHMADIYAH mengaku diutus oleh ALLAH swt ke dunia, saya haqqul yaqin, ALLAH swt tidak akan diam dan pasti menjawab apakah IMAM MAHDI nya AHMADIYAH benar atau tidak. Karena jangankan ALLAH, kalau ada orang yang mengaku kita suruh lalu melakukan sesuatu dan minta kita bertanggung jawab, tentu kita tidak mau. Kita pasti bisa membayangkan bagaimana MURKA nya ALLAH swt kalau ada yang mengaku diutus oleh NYA. Masalahnya, apakah kita percaya pada ALLAH? Atau beranikah kita shakat ISTIKHARAH untuk membuktikan kebenaran AHMADIYAH? &lt;br /&gt;Rasanya umat Islam yang selama ini salah informasi tentang AHMADIYAH perlu meminta maaf pada AHMADIYAH karena ketidak tahuan, miscommunication atau kebodohan yang kita lakukan dalam mengkafirkan. MALU rasanya melihat diri kita yang tidak melakukan apapun untuk ISLAM, tetapi kita malah mengganggu saudara AHMADIYAH kita yang sedang berjibaku membela ISLAM. Mau kita letakkan dimana wajah kita?&lt;br /&gt;Semoga ALLAH swt member kita semua petunjuk KEBENARAN..! Amin Allahuma Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-811885445129577533?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/811885445129577533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=811885445129577533' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/811885445129577533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/811885445129577533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2007/12/lagi-tentang-ahmadiyah.html' title='Lagi! Tentang AHMADIYAH'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-1630717952146860582</id><published>2007-12-06T18:24:00.001-08:00</published><updated>2007-12-06T18:24:37.925-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi ISLAM'/><title type='text'>Penghulu kami</title><content type='html'>Ia adalah penghulu kami, sumber segala nur&lt;br /&gt;Namanya Muhammad, hanya ia kekasihku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua Nabi adalah suci, satu lebih dari yang lain&lt;br /&gt;Namun dari yang Maha Kuasa, ia itulah makhluk tersempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia jauh lebih baik dari para pendahulu, fitratnya penuh pujian&lt;br /&gt;Semua mata ke arahnya kerna ia bulan purnama penghalau kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang datang sebelumnya telah kelelahan setengah jalan&lt;br /&gt;Ia yang membawa kami ke pantai.&lt;br /&gt;Biar aku jadi tumbal, hanya ia penunjuk jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia telah mengurai tabir dan menunjukkan jalan rahasia&lt;br /&gt;Ia mempertautkan hati kepada Yang Terkasih, betapa akrab dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat terkasih yang kasat mata, kami menemukan-Nya&lt;br /&gt;Berkat dirinya karena ia pembimbing hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini ia Raja keimanan, mahkota para Rasul&lt;br /&gt;Betapa suci dan murni, ini adalah lagu puji baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua perintah Tuhan yang Benar diperagakan sunah dirinya&lt;br /&gt;Ia mengungkap semua rahasia, betapa luhurnya ini berkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangannya jauh bagai teropong, hatinya dekat kepada sang Sahabat&lt;br /&gt;Di tangannya nur keimanan, ia adalah sumber mata air nur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengungkap rahasia keimanan termuskil&lt;br /&gt;Ia adalah Raja yang menganugerahkan kekayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah tumbal dalam Nur itu, aku adalah miliknya&lt;br /&gt;Ia adalah segalanya, apa yang kumiliki? Inilah kata akhirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Maha Esa adalah sumber segala pengetahuan&lt;br /&gt;Di luar itu hanyalah dongeng sedangkan ini kebenaran hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menemukan semuanya berkat ia, ya Allah Engkau-lah saksinya&lt;br /&gt;Ia itulah perwujudan keindahan yang menunjukkan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami semula buta nurani, dengan ratusan buhul menjerat hati&lt;br /&gt;Yang membuka simpul uraian adalah sang Mujtaba ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Qadian ke Arya aur Hum; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 456,  London, 1984).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-1630717952146860582?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/1630717952146860582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=1630717952146860582' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/1630717952146860582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/1630717952146860582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2007/12/penghulu-kami.html' title='Penghulu kami'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-7129694132675688016</id><published>2007-12-06T18:23:00.001-08:00</published><updated>2007-12-06T18:23:45.486-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi ISLAM'/><title type='text'>Sifat-sifat Rasulullah s.a.w.</title><content type='html'>Wahai kalbuku, ingatlah Ahmad&lt;br /&gt;Sumber petunjuk dan pemusnah musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia yang saleh, lembut dan pengasih&lt;br /&gt;Samudra karunia dan keberkatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia cemerlang bak bulan purnama,&lt;br /&gt;Terpujilah semua fitratnya.&lt;br /&gt;Kelembutannya menawan nurani&lt;br /&gt;Kecantikannya menawar dahaga hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penguasa menolak dirinya&lt;br /&gt;Begitu tak adil, begitu angkuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seorang pun menyangkal kebenaran&lt;br /&gt;Jika telah mewujud sempurna.&lt;br /&gt;Cobalah cari wujud sesempurna dirinya&lt;br /&gt;Kalian akan kecewa berputus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah ditemui seseorang mirip dirinya&lt;br /&gt;Yang telah menggugah mereka yang terlena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah Nur Ilahi yang menghidupkan lagi&lt;br /&gt;Semua cabang pengetahuan menyegar kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah wujud pilihan yang terpilih&lt;br /&gt;Pembimbing dan sumber segala berkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan petunjuk hanyalah sebagian dari&lt;br /&gt;Hujan deras belas asihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia terlupa akan gerimis kecil&lt;br /&gt;Saat melihat hujan dahsyat dari imam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini mereka yang kejam berusaha memadamkan&lt;br /&gt;Nyala api obor petunjuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat laun, Allah akan&lt;br /&gt;Mewujudkan nurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai hujan yang mencurah siang dan malam&lt;br /&gt;Engkau telah terpelihara dari kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau telah mengairi pepohonan di dataran rendah&lt;br /&gt;Dan di dataran tinggi dengan karuniamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau adalah pelabuhan perlindungan&lt;br /&gt;Dan setelah menemukan pelabuhan demikian,&lt;br /&gt;Tak lagi kami cemas akan bahaya mengancam&lt;br /&gt;Tak lagi kami takut akan keseraman sebuah pedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kami takut akan lindasan waktu&lt;br /&gt;Tidak juga oleh berbagai ancaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat setiap prahara menghampiri&lt;br /&gt;Kami berpaling kepada Tuhan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap pertandingan,&lt;br /&gt;Antara diriku dan bala pasukan musuh,&lt;br /&gt;Aku selalu muncul sebagai pemenang, dihormati&lt;br /&gt;Dan menerima pertolongan Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji syukur kepada Allah. Puji syukur kepada-Nya&lt;br /&gt;Karena telah mengenali pembimbing kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai sahabat, sesungguhnya Allah&lt;br /&gt;Yang telah mengkaruniakan berkat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah Malam Lailatul Qadar&lt;br /&gt;Dengan segala keabadian berkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Karamatus Sadiqin, Ruhani Khazain, vol. 7, London, 1984 hal. 70-71).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-7129694132675688016?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/7129694132675688016/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=7129694132675688016' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/7129694132675688016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/7129694132675688016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2007/12/sifat-sifat-rasulullah-saw.html' title='Sifat-sifat Rasulullah s.a.w.'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-1263713328504237399</id><published>2007-12-06T18:20:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T20:50:26.353-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah SAW'/><title type='text'>Karunia Allah bagi pengikut Rasulullah s.a.w.</title><content type='html'>Tidak sepatutnya kita meragukan bahwa seorang pengikut biasa dari Rasul yang diridhoi tersebut bisa berbagi nama, sifat atau berkat beliau. Memang benar bahwa dalam kenyataannya tidak ada Nabi lain yang bisa menyamai keagungan Hadzrat Rasulullah s.a.w. Bahkan para malaikat pun tidak, apalagi seorang manusia biasa. Namun wahai kalian pencari kebenaran, semoga Allah s.w.t. membimbing kalian dan simaklah dengan hati-hati hal ini. Dengan tujuan agar berkat dari Rasul yang diridhoi tersebut bisa diperlihatkan selama-lamanya dan agar Nur beliau yang sempurna dapat mengalahkan musuh-musuh beliau, maka Allah yang Maha Kuasa telah menyusun kebijakan berikut ini demi Keagungsan dan Kasih-Nya. Beberapa orang terpilih dari umat Muhammad s.a.w. yang patuh kepada beliau dengan kerendahan hati sepenuhnya dan yang menyungkurkan diri dengan menghilangkan segala egonya sendiri, akan ditemukan oleh Allah s.w.t. sebagai cermin yang bersih yang memantulkan berkat Rasul yang diridhoi tersebut dalam diri mereka masing-masing. Melalui diri mereka Tuhan akan menurunkan rahmat dan tanda-tanda yang semuanya bersumber pada Hadzrat Rasulullah s.a.w.&lt;br /&gt;Dalam kenyataan dan dalam kesempurnaannya, semua puji-pujian hanya patut bagi diri beliau dan bahwa beliau itu adalah teladan yang sempurna. Namun sebagai penganut dari ajaran Hadzrat Rasulullah s.a.w. yang karena kepatuhan yang sempurna telah menjadi refleksi daripada beliau, dimana Nur yang diperlihatkannya pun adalah juga pantulan dari Nur beliau, maka munculnya sosok yang merefleksikan sifat dan jasad beliau akan berwujud sebagai bayang-bayang dirinya. Bayang-bayang ini tidak tegak dengan sendirinya dan ia tidak memiliki kelebihan dalam kenyataannya. Yang terlihat adalah gambaran daripada yang aslinya sebagai pantulan refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal yang dimunculkan oleh refleksi dari Nur itu yang mirip dengan rahmat abadi, yang akan mewujud pada beberapa pengikut Muhammad s.a.w. Pertama adalah diperlihatkannya kesempurnaan haqiqi dari Hadzrat Rasulullah s.a.w. berupa obor darimana obor-obor lain akan dinyalakan dan hal ini jauh lebih baik daripada sebuah obor yang tidak pernah menyalakan obor lainnya. Kedua, melalui rahmat abadi ini telah diteguhkan kelebihan umat Islam di atas para pengikut agama lainnya, dan bukti nyata dari agama Islam telah disegarkan kembali sehingga manusia tidak selalu hanya bertumpu kepada masa lalu saja. Dengan cara demikian itulah Nur kebenaran Al-Qur’an akan memancar terang sebagai sinar matahari dan bukti kebenaran Islam telah diteguhkan terhadap para lawannya, sedangkan kerendahan dan kekalahan para musuh Islam akan menjadi nyata. Mereka akan bisa menyaksikan rahmat dan Nur di dalam Islam yang padanannya tidak akan mereka jumpai pada diri para pendeta atau pandit agama mereka masing-masing. Perhatikanlah semua hal ini wahai para pencari kebenaran, semoga Allah membantu kalian dalam pencaharian kalian.&lt;br /&gt;Betapa agungnya derajat Khataman Nabiyin s.a.w. dan betapa sempurnanya kecemerlangan matahari kebenaran ini sehingga menjadikan seseorang menjadi muminin yang sempurna, menjadikan yang lainnya sebagai orang yang mengenal Tuhan dan memberkati yang ketiga dengan tanda-tanda Keagungan dan Ketauhidan serta melimpahkan atasnya berkat Ilahi. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 268-271, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Sejak munculnya matahari kebenaran di dunia ini dalam wujud yang berberkat Hadzrat Rasulullah s.a.w. sampai dengan hari ini, sudah beribu-ribu orang yang memiliki kapasitas dan kemampuan berkat dari mengikuti firman Ilahi dan patuh kepada beliau, yang telah berhasil mencapai derajat tinggi sebagaimana dikemukakan, dan proses ini masih berlanjut terus. Allah yang Maha Agung secara berkesinambungan mengaruniai mereka dengan berkat, rahmat serta pertolongan sehingga mereka yang memiliki penglihatan jernih bisa melihat bagaimana orang-orang ini telah menjadi kekasih Allah, berada di bawah naungan berkat Ilahi dan menjadi penerima rahmat yang akbar. Para pemerhati ini secara jelas bisa melihat bahwa orang-orang itu memperoleh karunia-karunia yang luar biasa dan dibedakan dari manusia lainnya dengan tanda-tanda samawi serta diharumkan oleh wewangian kasih dan keridhoan Ilahi. Nur dari yang Maha Agung menyinari persahabatan mereka, perhatian mereka, tekad hati mereka, akhlak mereka, cara hidup mereka, kegembiraan mereka, kemarahan mereka, keinginan mereka, ketidaksukaan mereka, gerakan mereka dan istirahat mereka, bicara dan diam mereka, batin dan jasmani mereka, sejelas dan setransparan wadah kaca yang berisi wewangian yang harum. Melalui berkat persahabatan dan hubungan serta kasih kepada mereka, semua ini bisa diperoleh dengan mudah. Dengan menciptakan silaturahim dengan mereka dan berpandangan baik tentang diri mereka maka keimanan seorang manusia akan mendapat aspek dan kekuatan baru bagi penampakan akhlak yang baik. Kecenderungan ego terhadap hura-hura dan dosa akan terkekang dan sebagai gantinya akan muncul rasa puas dan kelembutan. Sejalan dengan kapasitas setiap orang, hasrat keimanan seseorang akan marak dan mereka menunjukkan kasih dan pengabdian, serta mereka akan menjadi bertambah suka mengingat Allah s.w.t. Dalam jangka panjang, berteman dengan orang-orang yang berberkat demikian akan menimbulkan kesadaran bahwa kekuatan keimanan, akhlak yang mulia, tindakan memfana¬kan duniawi, perhatian dan kasihnya terhadap Tuhan, kelembutan terhadap para makhluk Tuhan, kesalehan, keteguhan dan ketakwaan menerima takdir Ilahi, sesungguhnya mereka itu tidak ada padanannya di dunia ini. Akal yang sehat segera melihat bahwa rantai yang selama ini menjadi belenggu bagi manusia, pada orang-orang itu telah tanggal terbuka, dan kesempitan pandangan yang menghimpit dada orang lain, telah diangkat dari dada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memperoleh kehormatan bisa berbicara terus menerus dengan Tuhan mereka dan mereka itu diterima sebagai sarana perantara di antara Tuhan dengan hamba-hamba yang mencari-Nya yang menginginkan bimbingan dan petunjuk. Kecemerlangan mereka telah mencerahkan kalbu manusia lainnya. Sebagaimana dengan datangnya musim semi maka tetumbuhan bertunas semua, begitu pula dengan kemunculan mereka akan memunculkan Nur alamiah di hati manusia yang waras dan yang beruntung sehingga kemampuan batin mereka akan berkembang penuh dan mereka bisa menyingkapkan tirai kedalaman kelelapan mereka yang akan membersihkan dosa-dosa dan noda-noda kejahatan serta kegelapan dari kebodohan dan pikiran. Zaman masa hidup mereka yang berberkat mempunyai karakteristik khusus dan Nur yang menebar ke dalam batin mereka yang beriman dan para pencari kebenaran akan mengembangkan hasrat batin yang bersangkutan kepada agama serta memperkuat keteguhan hati mereka. Setiap mereka yang tulus akan memperoleh berkat dari wewangian yang dilimpahkan kepada mereka karena kepatuhan mereka, sepadan dengan ketulusan hati mereka. Adapun mereka yang tidak beruntung, tidak akan memperolah apa-apa daripadanya, dan mereka ini akan terus saja dalam permusuhan, kecemburuan dan i’tikad buruk sampai akhirnya nanti mereka masuk neraka. Hal inilah yang dimaksud dalam ayat:&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;“Allah telah memeterai hati mereka”. (S.2 Al-Baqarah:8).&lt;br /&gt;(Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 529-532, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Pernyataan pengakuan dari Nabi Suci kita Rasulullah s.a.w. berpendar seperti sinar matahari dan menjadi bukti dari berkat yang mengalir abadi dari wujud beliau. Bahkan dalam abad ini pun, barangsiapa mematuhi Rasulullah s.a.w. akan dibangkitkan dari kematian dan dikarunia dengan kehidupan ruhaniah nyata yang dimanifestasikan oleh berkat dan pertolongan Ilahi serta dukungan dari rohul kudus. Ia akan menjadi manusia unik di antara umat manusia lainnya karena Allah s.w.t. akan membukakan berbagai rahasia samawi serta menyampaikan kebenaran wujud-Nya kepadanya, Dia akan memperlihatkan tanda-tanda dari kasih dan perkenan-Nya dan menurunkan bantuan di atas dirinya serta menjadikan dirinya sebagai cermin dari sifat Rahmaniyat-Nya. Kebijakan akan mengalir dari mulutnya dan mutiara-mutiara hikmah akan menyemburat dari kalbunya. Rahasia-rahasia tersembunyi akan dibukakan baginya. Allah yang Maha Agung akan memperlihatkan tanda-tanda agung atas dirinya dan datang mendekati dirinya. Ia akan mencapai derajat tinggi karena pengabulan doa-doanya, terbukanya pintu pemahaman, terungkapnya rahasia-rahasia samawi serta karena turunnya berkat atas dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapat penugasan dari Allah s.w.t., hamba yang lemah ini telah mengirimkan beberapa ribu lembar surat tercatat kepada para musuh Islam yang terkenal di Asia, Eropa dan Amerika mengenai hal-hal di atas agar mereka mengetahui. Aku telah mengundang mereka untuk memberikan tanggapan mereka bahwa kalau ada yang mengaku bisa memperoleh kehidupan ruhaniah tanpa mengikuti Khatamul Anbiya s.a.w. agar mereka maju menghadapi aku, jika tidak maka sepatutnyalah ia datang kepadaku sebagai seorang pencari kebenaran guna menyaksikan berkat dan tanda-tanda yang telah dikaruniakan kepadaku. Ternyata tidak ada seorang pun yang menanggapi dengan tulus dan i’tikad baik, sedangkan dengan berlaku angkuh demikian terlihat bahwa sebenarnya mereka itu meraba-raba dalam kegelapan.&lt;br /&gt;(Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 221-222, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Kami meyakini sepenuhnya bahwa Nabi Allah yang paling akbar dan yang paling dikasihi-Nya adalah Muhammad s.a.w. Adapun para pengikut nabi-nabi lainnya berada dalam kegelapan karena yang tersisa bagi mereka hanyalah dongeng dan hikayat saja lagi, sedangkan umat Islam selalu menerima tanda-tanda baru dari Allah yang Maha Kuasa. Karena itu di antara umat Islam banyak ditemui orang-orang yang memiliki pemahaman yang mendalam, orang-orang yang beriman kepada Tuhan-nya dengan penuh kepastian seolah-olah bisa menampak Wujud-Nya. Umat agama lainnya tidak memiliki kepastian yang seperti itu menyangkut Allah s.w.t. Karena itulah jiwa kami bersaksi bahwa agama yang benar dan lurus hanyalah Islam saja.&lt;br /&gt;Mukjizat-mukjizat yang diperlihatkan junjungan kita Hadzrat Rasulullah s.a.w. bukanlah hanya dongeng semata. Dengan mematuhi beliau, kita sendiri bisa mengalami mukjizat-mukjizat tersebut dan dengan berkat renungan dan pengalaman, kita akan memperoleh kepastian yang sempurna. Betapa luhurnya derajat Nabi Suci yang sempurna itu yang Kenabiannya selalu memberikan bukti-bukti baru kepada para pencari kebenaran sehingga berkat pengamatan berbagai tanda-tanda berkesinambungan, kita dimungkin¬kan mencapai tahapan bisa melihat Allah s.w.t. dengan mata kita sendiri. Karena itulah agama yang benar hanyalah Islam dan Nabi yang benar adalah beliau itu yang menjadi sumber mata air kebenaran.&lt;br /&gt;Bersandar kepada dongeng-dongeng yang bisa disangkal dengan segala macam dalih bukanlah pilihan dari seorang yang bijak. Ratusan sudah manusia yang dipertuhan di bumi ini dan mereka bertumpu pada berbagai dongeng-dongeng kuno, padahal pencipta keajaiban yang sebenarnya adalah beliau yang menjadi sungai dengan mukjizat yang tidak pernah mengering. Sosok tersebut adalah junjungan dan penghulu kita, Hadzrat Rasulullah s.a.w. Pada setiap abad, Allah yang Maha Agung telah membangkitkan seseorang yang akan memperlihatkan tanda-tanda dari wujud yang sempurna dan suci tersebut. Dalam abad ini Dia telah mengutus aku dengan derajat sebagai Al-Masih yang Dijanjikan. Banyak tanda-tanda yang diperlihatkan di langit dan beraneka kejadian luar biasa sedang berlangsung sekarang ini. Setiap pencari kebenaran silahkan datang dan berdiam bersamaku guna menyaksikan tanda-tanda tersebut, apakah kalian dari umat Kristiani, Yahudi atau pun Arya. Semua ini merupakan berkat dari Hadzrat Rasulullah s.a.w. (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 13, hal. 155-157, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Bukti dari kehidupan ruhani hanya bisa ditemukan pada wujud berberkat Hadzrat Rasulullah s.a.w. Alangkah hampanya hidup yang tidak dirahmati dan alangkah tidak bergunanya hidup tidak berberkat. Sesungguhnya hanya ada dua kehidupan yang patut dihargai. Pertama adalah kehidupan dari yang Maha Hidup dan Dzat yang Tegak Dengan Sendirinya yang menjadi sumber dari segala kebaikan, sedangkan yang kedua adalah kehidupan yang baik yang menuju kepada Tuhan. Kami bisa membuktikan bahwa kehidupan demikian itu adalah kehidupan Hadzrat Rasulullah s.a.w. bagi siapa langit telah memberikan kesaksian di setiap abad sebagaimana juga yang terdapat sekarang ini. Mereka yang tidak mengikuti kehidupan yang baik sama saja dengan orang yang sudah mati.&lt;br /&gt;Aku bersaksi demi Allah bahwa Dia telah memberikan kepadaku bukti dari kehidupan abadi, keagungan penuh dan kesempurnaan dari junjungan kita Muhammad s.a.w. kepada siapa kita patut patuh dimana dengan mengikuti dan mengasihi beliau, aku telah melihat tanda-tanda samawi yang turun atas diriku sehingga hatiku penuh dengan Nur kepastian. Aku telah menyaksikan demikian banyak tanda-tanda sehingga melalui Nur tanda-tanda itu aku telah menyaksikan Tuhanku. (Tiryaqul Qulub, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 15, hal. 139-140, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Pada beberapa tahapan kehidupan Hadzrat Rasulullah s.a.w. terlihat sebagai yang sedang amat direndahkan, tetapi pada saat bersamaan beliau terlihat sebagai dibantu dan dicerahkan oleh dukungan Nur rohul kudus sebagaimana terlihat dalam tindakan dan perilaku beliau. Lingkaran Nur dan berkat beliau itu demikian luas dan lebarnya sehingga bukti dan refleksinya menjadi nyata secara abadi. Rahmat dan karunia Ilahi yang turun di abad ini hanya bisa diperoleh dengan mengikuti dan mematuhi beliau. Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa disebut sebagai muttaqi atau yang memperoleh keridhoan Allah s.w.t., tidak juga yang bersangkutan bisa menjadi penerima berbagai berkat, rahmat, pemahaman, kebenaran dan kashaf yang hanya diberikan kepada mereka dengan tingkat kesucian batin tertinggi, kecuali ia itu sepenuhnya patuh kepada Hadzrat Rasulullah s.a.w. Hal ini ditegaskan oleh Allah s.w.t. dalam ayat:&lt;br /&gt;     •     &lt;br /&gt;“Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, kemudian Allah pun akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa-dosamu”“. (S.3 Ali Imran:32).&lt;br /&gt;Aku inilah bukti praktis yang hidup dari janji Ilahi tersebut. Kalian akan bisa mengenaliku melalui tanda-tanda dari mereka yang menjadi kekasih Allah s.w.t. dan para sahabat-Nya sebagaimana dikemukakan dalam Al-Qur’an. (Malfuzat, vol. I, hal. 203-204).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Hasil ikutan dari mengikuti jejak langkah Hadzrat Rasulullah s.a.w. khususnya yang berkaitan dengan kasih, hormat dan kepatuhan kepada beliau, adalah yang bersangkutan akan menjadi kekasih Allah s.w.t. dimana dosa-dosanya akan diampuni. Jika ia telah menelan racun dosa maka racun itu akan dijadikan tidak berdaya karena vaksin kasih dan kepatuhan. Sebagaimana seseorang bisa disembuhkan dari suatu penyakit dengan menggunakan obat, begitu juga seorang pendosa dapat dibersihkan dari dosa-dosanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sinar yang mengusir kegelapan dan sebuah vaksin antidotal bisa memusnah¬kan efek dari racun, begitu juga kasih dan kepatuhan yang murni akan menimbulkan efek yang sama. Serupa api yang membakar langsung maka perbuatan baik bagi manifestasi keagungan tindakan Tuhan akan menyerupai api yang membakar dosa. Jika seseorang beriman sepenuhnya kepada Hadzrat Rasulullah s.a.w. dan mengakui kebesaran beliau, mematuhinya dengan rajin, kasih dan kepatuhan, sedemikian rupa sehingga ia mencapai taraf fana, maka ia karena hubungannya yang dekat kepada Rasulullah s.a.w. akan ikut menikmati Nur Ilahi yang telah turun di atas beliau. Sebagaimana Nur dan kegelapan saling berseberangan, kegelapan dalam batinnya akan pupus sehingga tidak ada lagi yang tersisa. Ia akan dikuatkan oleh Nur, kebaikan yang terbaik akan memancar dari dirinya sedangkan Nur kecintaan Allah s.w.t. akan mengalir keluar dari seluruh anggota tubuhnya. Kegelapan di dalam dirinya akan sirna sama sekali dan ia akan menikmati pencerahan dalam akal maupun dalam perilaku, sedemikian rupa sehingga seluruh kegelapan dosa akan meninggalkan batinnya. Jelas bahwa kegelapan dan cahaya tidak bisa eksis di satu tempat, seperti itu jugalah Nur keimanan dan kegelapan dosa tidak mungkin berada di satu tempat. Kalau seseorang memang belum pernah melakukan dosa maka kemampuannya mencipta dosa akan diredam sama sekali dan ia akan berhasrat melakukan segala hal yang baik sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur’an:&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;“Allah telah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan telah menampakkannya indah dalam kalbumu dan Dia telah menjadikan kamu benci kepada kekafiran dan kejahatan dan kedurhakaan”. (S.49 Al-Hujurat:8).&lt;br /&gt;(Review of Religions, Urdu, vol. I, no. 5, hal. 194-195).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Pencapaian derajat sebagai orang yang dikasihi dan diridhoi Allah s.w.t. dan menjadi salah seorang sahabat-Nya, tidak mungkin dicapai tanpa kepatuhan kepada Hadzrat Rasulullah s.a.w. Tidak mungkin bagi seorang Kristen, Arya atau Yahudi memperlihatkan tanda-tanda dan nur keridhoan Tuhan jika memusuhi pengikut Nabi Suci s.a.w. yang benar.&lt;br /&gt;Ada satu cara yang jelas untuk menentukan hal ini. Tidak ada lawan yang berasal dari umat lain seperti Kristen dan yang lainnya yang memusuhi seorang Muslim muttaqi pengikut setia dari Nabi Suci s.a.w. bisa berdiri tegak memaklumkan bahwa ia sanggup mempertunjukkan tanda-tanda yang sama dari langit yang mendukung sang Muslim, atau mampu mengungkapkan rahasia-rahasia langit serta pertolongan samawi melalui pengabulan doa. Tidak juga ia akan mampu mempertunjukkan tanda-tanda alamiah yang dimunculkan bagi sang Muslim, atau pun nubuatan tentang bantuan Allah s.w.t. serta nubuatan peringatan tentang akhir yang buruk bagi para musuhnya. Tidak akan ada dari mereka itu yang akan berani menentang seorang pengikut setia Hadzrat Rasulullah s.a.w. dengan cara demikian karena dalam hati kecilnya mereka mengakui kedustaan mereka dan bahwa mereka tidak memiliki hubungan dengan Allah yang Maha Benar yang menjadi penolong bagi para muttaqi dan sahabat dari para muminin. (Tasdiqin Nabi, hal. 45-46 atau Maktubati Ahmadiyah, vol. 3, hal. 78-79).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Beriman kepada seorang Rasul Allah merupakan prasyarat untuk beriman kepada Ketauhidan Ilahi. Yang satu tidak mungkin dipisahkan dari yang lainnya. Seseorang yang menyatakan beriman kepada Ke-Esaan Tuhan tanpa mengikuti Nabi Suci s.a.w. adalah sama dengan tulang kering yang tidak berisi sumsum dan seolah memegang lentera gelap yang tidak memberikan cahaya. Seseorang yang meyakini bahwa Tuhan adalah wujud tanpa sekutu tetapi tidak beriman kepada Hadzrat Rasulullah s.a.w. sama saja dengan seorang yang hatinya dijangkiti kusta serta buta karena tidak memahami apa yang dimaksud dengan Ketauhidan Ilahi. Syaitan masih lebih baik dari dirinya dalam pengakuan mengenai Ketauhidan Ilahi karena syaitan meskipun mungkar namun ia meyakini eksistensi Tuhan, padahal orang demikian itu tidak meyakini Allah s.w.t. (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 22, hal. 122, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Kedatangan Nabi s.a.w. Laiknya Kedatangan Tuhan&lt;br /&gt;Ada yang mempertanyakan bahwa jika Nabi Isa a.s. dan aku telah mencapai derajat demikian, lalu derajat apakah yang tersisa bagi junjungan dan penghulu kita, Rasul yang terbaik, Khatamal Anbiya, wujud yang terpilih, Muhammad s.a.w.? Jawabannya adalah bahwa bagi beliau adalah derajat yang luhur dan bersifat khusus, yang tidak mungkin dicapai orang lain.&lt;br /&gt;Tingkat kedekatan dan kasih kepada Allah s.w.t. dari sudut keruhanian, terdiri dari tiga jenis. Tingkat paling bawah (meski pun tetap juga termasuk tinggi) adalah bara kecintaan Ilahi akan selalu menghangatkan hatinya sedemikian rupa sehingga hati yang hangat itu bisa mendekati sifat-sifat api namun masih kekurangan kecemerlangan api itu sendiri. Ketika bara dari kecintaan Ilahi seperti ini ada di hati seorang manusia maka kehangatan yang dihasilkannya di dalam kalbu disebut sebagai rasa tenteram dan kepuasan yang terkadang disebut sebagai sama dengan malaikat.&lt;br /&gt;Tingkat kedua dari kecintaan ini adalah ketika bara dari kecintaan Ilahi yang ditimbulkan oleh penggabungan dua kecintaan telah menghangatkan hati sedemikian rupa sehingga menghasilkan nur kecemerlangan yang tidak membakar. Keadaan demikian disebut sebagai rohul kudus.&lt;br /&gt;Tingkat ketiga dari kecintaan ini ialah ketika nyala api kecintaan Ilahi menyentuh dan membakar pita-pita kecintaan manusiawi serta menguasai sepenuhnya keseluruhan partikel hati yang bersangkutan sehingga menjadi manifestasi sempurna dan lengkap dari kecintaan itu sendiri. Dalam keadaan seperti ini, api kecintaan Ilahi tidak saja memberikan kecemerlangan pada hati manusia, tetapi secara simultan menyalakan keseluruhan wujud dimana nyalanya menerangi sekelilingnya sebagai cahaya siang hari dan wujud itu menjadi api dengan sifat-sifatnya yang lengkap. Kondisi yang diciptakan oleh penggabungan dari dua kecintaan yang merupa sebagai api yang menyala disebut sebagai fitrat keamanan karena memberikan keamanan terhadap segala kegelapan dan bebas dari segala kekaburan. Juga disebut sebagai fitrat kekuatan karena merupakan wahyu yang paling kuat yang tidak mungkin lebih kuat lagi. Juga dikenal sebagai cakrawala tinggi karena merupakan manifestasi dari bentuk wahyu yang paling luhur. Juga dikemukakan sebagai: “Dia melihat apa yang ia lihat”. dan kondisi demikian itu berada di luar kemampuan imajinasi segenap makhluk yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi demikian itu hanya dikaruniakan kepada satu manusia saja yang merupakan manusia yang sempurna dimana keseluruhan sistem manusia berujung pada wujud beliau dan lingkaran fitrat manusia telah disempurna¬kan. Sesungguhnya beliau itu adalah kulminasi titik tertinggi dari makhluk ciptaan Tuhan dan merupakan puncak dari segala derajat keagungan. Kebijakan Ilahi telah memulai proses penciptaan dari titik yang paling sederhana dan berakhir pada ciptaan yang paling mulia yaitu Muhammad s.a.w. dengan segala manifestasi keluhurannya yang sempurna. Karena kedudukan beliau yang paling tinggi itu maka sewajarnya kepada beliau dikaruniakan wahyu dan kecintaan pada tingkatan¬nya yang paling mulia. Ini adalah derajat tinggi yang tidak mungkin dicapai oleh Nabi Isa a.s. mau pun diriku. Derajat demikian itu disebut sebagai kebersatuan dan tingkat Ketauhidan yang sempurna. Nabi-nabi sebelumnya yang menubuatkan kedatangan Hadzrat Rasulullah s.a.w. ada menyebut tingkat derajat demikian. Adapun derajat dari Nabi Isa a.s. mau pun diriku secara metaforika bisa disebut sebagai derajat putra. Derajat dari Hadzrat Rasulullah s.a.w. itu sedemikian tingginya sehingga Nabi-nabi di masa lalu secara metaforika menggambarkan kedatangan beliau sebagai kemunculan Tuhan sendiri dimana turunnya beliau digambarkan sebagai turunnya Tuhan yang Maha Kuasa ke muka bumi. (Tauzih Maram, Amritsar, Riyaz Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 3, hal. 62-64, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Bukan hanya Yesus saja yang telah menubuatkan bahwa kedatangan Hadzrat Rasulullah s.a.w. sebagai kemunculan dari Tuhan yang Maha Kuasa sendiri, karena Nabi-nabi lain pun dalam nubuatan mereka menggunakan istilah yang sama dan secara metaforika menggambarkan kedatangan beliau sebagai munculnya Allah yang Maha Kuasa dan karena wujud beliau merupakan manifestasi sempurna dari Tuhan, lalu menyebut beliau sebagai Tuhan. Dalam Kitab Perjanjian Lama dalam Mazmur 421 diutarakan:&lt;br /&gt;“Engkau yang terelok di antara anak-anak manusia, kemurahan tercurah pada bibirmu, sebab itu Allah telah memberkati engkau untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;Ikatlah pedangmu pada pinggang, hai pahlawan, dalam keagunganmu dan semarakmu.&lt;br /&gt;Dalam semarakmu itu majulah demi kebenaran, perikemanusiaan dan keadilan. Biarlah tangan kananmu mengajarkan engkau perbuatan-perbuatan yang dahsyat.&lt;br /&gt;Anak-anak panahmu tajam menembus jantung musuh raja, bangsa-bangsa jatuh di bawah kakimu.&lt;br /&gt;Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya dan tongkat kerajaanmu adalah tongkat kebenaran.&lt;br /&gt;Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan, sebab itu Allah, Allahmu telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu”.&lt;br /&gt;Ungkapan “Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya dan tongkat kerajaanmu adalah tongkat kebenaran”. bermakna metaforika yang bermaksud memperlihatkan keluhuran derajat keruhanian daripada Nabi Suci Muhammad s.a.w.&lt;br /&gt;Begitu pula dalam Perjanjian Lama pada Kitab Yesaya 422 diungkapkan:&lt;br /&gt;“Lihat itu hamba-Ku yang Ku-pegang, orang pilihan-Ku yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh roh-Ku keatasnya supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.&lt;br /&gt;Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memper¬dengarkan suaranya di jalan.&lt;br /&gt;Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.&lt;br /&gt;Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai sampai ia menegakkan hukum di bumi . . .&lt;br /&gt;Tuhan keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur”.&lt;br /&gt;Ungkapan “Tuhan keluar berperang seperti pahlawan”. merupakan deskripsi metaforika dari kegagahan kedatangan Nabi Suci s.a.w. Banyak lagi Nabi-nabi lainnya yang telah menggunakan metaforika ini dalam nubuatan mereka menyangkut kabar kedatangan Hadzrat Rasulullah s.a.w.&lt;br /&gt;(Tauzih Maram, Amritsar, Riyaz Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 3, hal. 65-67, London, 1984).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-1263713328504237399?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/1263713328504237399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=1263713328504237399' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/1263713328504237399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/1263713328504237399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2007/12/karunia-allah-bagi-pengikut-rasulullah.html' title='Karunia Allah bagi pengikut Rasulullah s.a.w.'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1334525647683399785.post-7467808451633781840</id><published>2007-12-06T18:18:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T20:49:19.894-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasulullah SAW'/><title type='text'>Keutamaan Mengikuti Ajaran Rasulullah S.a.w.</title><content type='html'>Pada tingkat pemahaman yang sempurna, Islam bukanlah hanya semata istilah tetapi merupakan pencapaian semua realitas tersebut di atas dimana batin manusia akan menyungkurkan diri dihadapan Ketauhidan Ilahi.&lt;br /&gt;Setelah itu maka dari kedua sisi akan terlontar kata-kata: “Apa pun yang menjadi milikku adalah milikmu juga.”. Yang dimaksud, ketika batin manusia berseru dan mengakui: “Ya Allah, apa pun milikku adalah kepunyaan-Mu”. sedangkan Tuhan akan berfirman memberitahukan: “Wahai hamba-Ku, langit dan bumi yang beserta-Ku adalah besertamu juga.”. Tingkatan ini diindikasikan dalam ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai hamba-hamba-Ku yang telah berdosa terhadap jiwa mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa”. (S.39 Az-Zumar:54).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat tersebut tidak digunakan kata “Hai hamba-hamba Allah”. melainkan digunakan kata “Hai hamba-hamba-Ku.”. Ayat ini diwahyukan dalam bentuknya tersebut agar manusia mengerti bahwa Allah bermaksud memberitahukan kabar gembira tentang adanya rahmat tanpa batas dan dengan demikian bisa menghibur hati mereka yang telah patah karena dosa-dosanya. Dengan demikian Allah yang Maha Agung bermaksud memperlihatkan contoh dari rahmat-Nya dan memanifestasikan seberapa jauh Dia akan mengagungkan seorang hamba yang setia dengan berkat-berkat khusus. Dengan menggunakan kata-kata “Hai hamba-hamba-Ku”. sebenarnya Tuhan bermaksud mengutara¬kan: “Tengoklah Rasul-Ku yang tercinta dan lihat betapa tingginya derajat yang telah dicapainya berkat kepatuhannya yang sempurna kepada-Ku sehingga sekarang ini apa yang menjadi milik-Ku adalah juga menjadi miliknya. Siapa yang menginginkan keselamatan, sepatutnya menjadi hambanya juga, dengan pengertian bahwa mereka harus mematuhinya secara sempurna sebagaimana laku seorang hamba. Maka semua dosa-dosanya akan diampuni.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan “abd”. dalam istilah bahasa Arab berarti hamba sahaya seperti yang diungkapkan dalam ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik”. (S.2 Al-Baqarah:222).&lt;br /&gt;Pada ayat di muka itu telah dikemukakan bahwa ia yang mengharapkan keselamatan, agar menciptakan hubungan sebagai hamba sahaya kepada Rasul ini, dengan pengertian bahwa ia tidak akan melanggar semua perintah beliau dan mengikatkan dirinya sebagaimana seorang sahaya terikat kepada majikannya, barulah ia akan mendapatkan keselamatan. Kita patut mengasihani mereka yang berhati gelap yang membenci nama-nama seperti Ghulam Nabi, Ghulam Rasul, Ghulam Mustafa, Ghulam Ahmad dan Ghulam Muhammad karena menganggapnya sebagai menyekutukan Rasulullah dengan Allah s.w.t. padahal nama-nama itu sebenarnya menggambarkan keberkatan. Sebagaimana seorang “abd”. mengimplikasikan bahwa seseorang yang bernama demikian harus membatasi diri dari segala kemerdekaan dan hanya patuh sepenuhnya kepada majikannya saja, karena itulah para pencari kebenaran yang mencari keselamatan, dianjurkan untuk menyesuaikan dirinya pada kondisi demikian itu. Ayat ini memiliki konotasi yang sama dengan ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, kemudian Allah pun akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa-dosamu”“. (S.3 Ali Imran:32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pengikut yang sempurna menuntut adanya pengabdian dan kepatuhan sepenuhnya sebagaimana terkandung dalam perkataan “abd.”. Ayat yang menyatakan “Hai hamba-hamba-Ku”. secara intinya bermakna: “Wahai para pengikut-Ku yang bergelimang dosa, janganlah kalian berputus asa akan rahmat Allah karena Allah, berkat kalian mengikut padaku, akan mengampuni dosa-dosa kalian.”. Allah tidak akan memaafkan para penyembah berhala dan orang-orang kafir jika mereka tidak beriman dan mengikuti Hadzrat Rasululllah s.a.w. Dalam ayat tersebut tersirat bahwa para sahaya yang tulus dari Rasulullah s.a.w. akan memperoleh karunia Nur keimanan, kecintaan dan semangat yang akan menyelamatkan mereka dari segala sesuatu yang menyekutukan Allah, dan mereka akan dibebaskan dari dosa-dosa serta dikaruniai dengan kehidupan yang suci di dunia ini, bebas dari kuburan gelap nafsu-nafsu manusiawi. Hal ini diindikasikan dalam sebuah Hadith (Bukhari):&lt;br /&gt;اناالحاش الذ ى يحشرالناس على قد مى&lt;br /&gt;“Aku adalah yang membangkitkan kembali dan dengan mengikuti aku maka orang-orang akan dibangkitkan.”.&lt;br /&gt;Kitab Suci Al-Qur’an penuh dengan idiom yang menyatakan bahwa dunia ini sebenarnya sudah mati dan Allah yang Maha Agung telah menghidupkannya kembali dengan menurunkan Hadzrat Rasulullah s.a.w. sebagaimana dinyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya”. (S.57 Al-Hadid:18).&lt;br /&gt;Begitu pula mengenai para sahabat Rasulullah s.a.w. dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia Sendiri”. (S.58 Al-Mujadilah:23).&lt;br /&gt;Ilham atau wahyu amat membantu dalam menghidupkan kembali batin seorang manusia dan menyelamatkannya dari kematian ruhani serta memberikan seseorang indra yang pasti dan pengetahuan yang murni yang bisa membawa manusia kepada kedekatan dengan Tuhan-nya. Pengetahuan atas mana didasarkan keselamatan ruhani tidak bisa didapat begitu saja tanpa kedekatan dengan jiwa yang diberkati rohul kudus. Kitab Al-Qur’an menegas¬kan bahwa kehidupan ruhaniah hanya mungkin diperoleh dengan cara mengikut pada Hadzrat Rasulullah s.a.w. sedangkan mereka yang menolak beliau sesungguhnya berada dalam keadaan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan kehidupan ruhaniah adalah kemampuan intelektual dan indra yang aktif yang dihidupkan oleh rohul kudus. Kitab Al-Qur’an mengemukakan ada enam ratus kaidah Ilahi yang harus diikuti oleh manusia. Sejalan dengan itu maka sayap malaikat Jibrail pun terdiri dari enam ratus pula. Sebelum telur kemanusiaan diletakkan di bawah sayap Jibrail yang bermakna enam ratus kaidah demikian maka belum atau tidak akan dilahirkan seorang bayi yang sepenuhnya fana kepada Ilahi.&lt;br /&gt;Realitas manusia sebenarnya memiliki kapasitas dari enam ratus telur. Seseorang yang enam ratus telurnya dierami oleh enam ratus sayap sifat dari Jibrail adalah seorang yang sempurna dengan kelahiran ruhaniah yang sempurna dan yang hidupnya menjadi sempurna. Kalau saja manusia mau memperhatikan maka ia akan melihat bahwa kelahiran ruhaniah dari telur inti kemanusiaan sebagai hasil dari kepatuhan kepada Rasulullah s.a.w. adalah yang sebenarnya berasal dari rohul kudus dan mereka ini jauh lebih sempurna dan lengkap dibanding anak-anak keruhanian dari Nabi-nabi lainnya. Hal ini diindikasikan dalam ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu adalah umat terbaik, dibangkitkan demi kebaikan umat manusia”. (S.3 Ali Imran:111). (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 186-197, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Kebangkitan Ketauhidan melalui Rasulullah s.a.w.&lt;br /&gt;Hadzrat Rasulullah s.a.w. diutus ke dunia agar beliau mengaruniakan pendengaran kepada manusia yang dilanda ketulian sesudah beberapa ratus tahun. Siapakah yang dimaksud sebagai orang buta atau yang tuli? Mereka adalah manusia yang tidak mengakui Ketauhidan Ilahi dan mereka yang menolak Rasul yang telah membangkitkan kembali Ketauhidan Ilahi di muka bumi. Beliau adalah Rasul yang telah mengubah orang-orang liar menjadi manusia untuk kemudian mengangkat derajat mereka sebagai manusia yang berakhlak baik, lalu mewarnai mereka dengan warna-warna Ilahi dari sosok manusia yang dekat kepada Tuhan. Beliau itulah Rasul yang menjadi matahari kebenaran, di kaki siapa ribuan orang-orang yang batinnya telah mati karena paganisme, atheisme dan kehidupan dosa, kemudian dibangkitkan. Apa yang dilakukannya tidak semata hanya bicara seperti halnya yang dilakukan Isa a.s. Rasul yang muncul di Mekah itu telah mengebaskan kegelapan mengenai hubungan dengan Tuhan dan penyembahan makhluk hidup. Beliau itulah terang dunia sesungguhnya, yang menemukan kegelapan di dunia dan mengaruniakan Nur yang telah merubah malam gelap menjadi siang terang. Bagaimana bentuk dunia sebelum kedatangan beliau serta bagaimana akhirnya setelah itu? Ini bukanlah suatu pertanyaan yang sulit dijawab.&lt;br /&gt;Jika kita beriman maka nurani kita akan mengingatkan bahwa sebelum turunnya wujud yang mulia itu, nyatanya kebesaran Tuhan telah dilupakan manusia di semua negeri dan keimanan manusia telah dialihkan kepada dewa-dewa, batu, bintang-bintang, pohon, hewan dan bahkan manusia lainnya dimana makhluk-makhluk rendah demikian ditempatkan dimana seharusnya hanya berada Keagungan dan Kesucian Allah s.w.t. Kalau memang benar bahwa manusia, hewan dan bintang-bintang itu memang Tuhan adanya, termasuk Yesus, maka Rasul ini tidak diperlukan. Kalau mereka nyatanya bukanlah Tuhan maka pengakuan yang dinyatakan oleh penghulu kita Muhammad s.a.w. di bukit kota Mekah memiliki Nur yang menyertainya. Apakah pengakuan tersebut?&lt;br /&gt;Pengakuan itu adalah karena Tuhan melihat betapa dunia ini sudah tenggelam dalam kegelapan dan telah menyekutukan Tuhan maka Dia telah mengutus beliau untuk mengusir kegelapan. Hal itu tidak semata berhenti pada pengakuan saja, tetapi Rasul yang diridhoi Allah s.w.t. tersebut sepenuhnya telah menegakkan pengakuan itu. Kalau keunggulan seorang Nabi bisa ditetapkan dengan cara demikian sehingga nyata bahwa kasihnya jauh melampaui kasih Nabi-nabi lain, maka wahai manusia, sepatutnya kalian bangkit dan bersaksi bahwa dalam hal ini Muhammad s.a.w. tidak ada padanannya di muka bumi. Masih ada saja para penyembah berhala yang buta yang belum mengakui beribu contoh-contoh kasih kemanusiaan yang telah dikemukakan oleh Rasul Akbar ini. Aku sendiri meyakini bahwa sudah tiba waktunya bagi Nabi Suci ini untuk dikenal manusia. Silahkan kalian catat pernyataanku bahwa mulai sekarang ini penyembahan seorang yang sudah mati akan mulai menurun sampai suatu hari nanti pupus sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah manusia mau mengangkat dirinya melawan Tuhan? Mungkinkah senoktah makhluk tidak berarti mencoba menrancukan rencana Tuhan? Mungkinkah rencana manusia maya ini mempengaruhi kaidah Ilahi? Wahai kalian yang bertelinga, dengarlah, dan kalian yang berpikir, renungkanlah dan ingat bahwa kebenaran akan dinyatakan dan beliau yang menjadi Nur yang sesungguhnya akan berkilau sepenuhnya. (Majmua Ishtiharat, vol. 22, hal. 67-68).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Menurut pengalaman pribadiku, kepatuhan kepada Hadzrat Rasulullah s.a.w. dengan kecintaan dan ketulusan hati, pada akhirnya akan menjadikan seseorang dicintai oleh Allah s.w.t. Tuhan akan menciptakan kecintaan kepada Wujud-Nya di dalam kalbu yang bersangkutan sehingga ia akan menarik diri dari segalanya dan condong sepenuhnya kepada Allah s.w.t. dengan segala kecintaan dan hasrat. Pada saat itu akan turun manifestasi kasih Ilahi ke atas dirinya yang akan mewarnai kalbunya dengan kecintaan dan pengabdian kepada Wujud-Nya dengan kekuatan akbar. Ia kemudian akan mengalahkan semua hasrat-hasrat pribadinya dan dari segala penjuru akan muncul tanda-tanda ajaib dari Allah yang Maha Kuasa yang akan membantu dan menolongnya. (Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 22, hal. 67-68, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Aku telah menyaksikan bahwa dengan membaca salawat bagi Nabi Suci s.a.w. maka rahmat Ilahi berbentuk Nur akan menyinar menuju Hadzrat Rasulullah s.a.w. yang kemudian diserap oleh dada beliau, dan dari sana lalu muncul pancaran arus sinar ke arah manusia-manusia yang patut menerimanya sesuai kemampuannya masing-masing. Sesungguhnya tidak ada rahmat yang bisa mencapai siapa pun tanpa melalui perantaraan Hadzrat Rasulullah s.a.w. Memohonkan salawat atas beliau akan menggerakkan Arasy Ilahi dari mana Nur itu bersumber. Barangsiapa mengharapkan rahmat dari Allah yang Maha Agung, sewajarnya selalu menyampaikan salawat bagi beliau dengan rajin agar rahmat tersebut tergerak baginya. (Al-Hakam, 28 Pebruari 1903, hal. 7).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Suatu malam, hamba yang lemah ini membaca salawat bagi Hadzrat Rasulullah s.a.w. sedemikian rupa sehingga hati dan jiwaku dipenuhi wewangiannya. Malam itu aku melihat dalam ru”.ya beberapa malaikat membawa kantung-kantung air yang penuh dengan Nur ke dalam rumahku dan salah seorang dari mereka berkata kepadaku: “Semua ini adalah salawat yang engkau mintakan bagi Muhammad s.a.w.”. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 598, London, 1984)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1334525647683399785-7467808451633781840?l=akucintaislam.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akucintaislam.blogspot.com/feeds/7467808451633781840/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=1334525647683399785&amp;postID=7467808451633781840' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/7467808451633781840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1334525647683399785/posts/default/7467808451633781840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akucintaislam.blogspot.com/2007/12/keutamaan-mengikuti-ajaran-rasulullah.html' title='Keutamaan Mengikuti Ajaran Rasulullah S.a.w.'/><author><name>Danial Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01690914357319660737</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='00314955734605759132'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>